Peningkatan pemanfaatan komputasi awan (cloud computing) akan menghemat energi dan mengurangi emisi gas rumah kaca. Hal ini terungkap dalam penelitian terbaru (27/6) mengenai manfaat komputasi awan di Indonesia, Eropa, Brasil, China, dan Kanada.

Tim gabungan dari University of Harvard, Imperial College and University of Reading menemukan, penggunaan komputasi awan berpotensi menghemat biaya hingga lebih dari $2,2 miliar (€1,65 miliar ) dan 95% lebih efisien dimana 1 ton emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh komputasi awan bisa mengurangi 20 ton potensi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh konsumen.

Komputasi awan adalah fasilitas aplikasi dan penyimpanan yang mampu mengurangi pemakaian server dan fasilitas penyimpanan pribadi dengan memanfaatkan jaringan Internet.

Penelitian yang disponsori oleh Microsoft Europe dan Global e-Sustainability Initiative (GeSI) ini juga menyatakan, jika 80% perusahaan swasta dan organisasi publik di negara-negara yang diteliti beralih ke solusi, layanan email, sistem tata kelola pelanggan secara online, jumlah energi yang bisa dihemat akan mencapai 11,2 TWh per tahun.

Hal ini setara dengan 75% energi yang dikonsumsi oleh Daerah Ibukota Brussels dan 25% energi yang dikonsumsi oleh kota London. Dampak penghematan energi ini adalah pengurangan 4,5 mega ton emisi CO2 per tahun yang setara dengan memensiunkan lebih dari 1,7 juta mobil dari jalan raya. Sebanyak 60% potensi penghematan ini berasal dari usaha kecil dan menengah.

Menurut Dr Peter Thomond, yang memimpin penelitian ini, penemuan ini berbeda dengan pendapat umum bahwa pusat data (data center) sangat boros energi. “Efisiensi energi dari infrastruktur awan jauh melampaui emisi gas rumah kaca yang dihasilkan. Dan kami hanya meneliti 3 aplikasi komputasi awan. Masih ada ratusan aplikasi yang berpotensi menghemat energi dan mengurangi emisi gas rumah kaca.”

Penelitian berjudul “The Enabling Technologies of a Low-Carbon Economy- a Focus on Cloud Computing” ini meneliti potensi penghematan energi dan pengurangan emisi di 11 negara termasuk Brasil, Kanada, China, Republik Ceko, Perancis, Jerman, Indonesia, Polandia, Portugal, Swedia dan Inggris.

Redaksi Hijauku.com