Coal mine in Wyoming - Wikimedia CommonsWalau produksi dan kapasitas energi terbarukan meningkat, dunia masih terus memroduksi energi kotor dengan level yang sama seperti 20 tahun lalu.

Hal ini terungkap dalam laporan tahunan International Energy Agency (IEA) untuk Clean Energy Ministerial (CEM) yang diterbitkan baru-baru ini.

“Upaya peralihan ke energi bersih mengalami stagnasi,” ujar Direktur Eksekutif IEA, Maria van der Hoeven. “Walau energi terbarukan terus tumbuh dalam 10 tahun terakhir, unit energi yang diproduksi dunia sama kotornya dengan unit energi yang diproduksi 20 tahun yang lalu.”

Laporan tahunan berjudul “Tracking Clean Energy Progress” ini memerkenalkan Energy Sector Carbon Intensity Index (ESCII), guna mengetahui berapa banyak emisi karbon yang dihasilkan oleh satu unit energi.

Menurut data ESCII, emisi dari produksi satu unit energi mencapai 2,39 ton emisi setara CO2 per satu ton energi setara minyak (tCO2/toe) pada 1990. Angka ini tidak banyak berubah, bertahan pada level 2,37 ton emisi setara CO2 untuk satu ton energi setara minyak pada 2010.

“Situasi yang stagnan ini seharusnya menjadi peringatan bagi dunia. Temperatur bumi saat ini terus naik akibat peningkatan emisi gas rumah kaca – yang dua pertiganya berasal dari sektor energi,” ujar Van der Hoeven. “Dunia harus mengadopsi teknologi energi rendah karbon dan beralih dari bahan bakar fosil jika ingin menghindari bencana akibat pemanasan global dan perubahan iklim.”

Konsumsi batu bara terus meningkat di sejumlah wilayah seperti Eropa dan Asia – termasuk Indonesia. Bauran produksi listrik Indonesia yang berasal dari batu bara, menurut Nur Pamudji, Direktur Utama Perusahaan Listrik Negara yang ditemui Hijauku.com dalam salah satu seminar di Jakarta, 16 April, diproyeksikan naik menjadi 55% tahun ini dari 50% tahun lalu.

Kabar baiknya, teknologi energi surya dan angin tumbuh mengagumkan mencapai 42% dan 19% dari 2011 ke 2012 walau dunia masih dilanda krisis kebijakan dan ekonomi. Negara berkembang seperti Brasil, China dan India, memimpin upaya meningkatkan bauran energi terbarukan ini pada 2012.

Teknologi kendaraan juga semakin canggih mendorong penjualan mobil hibrida-listrik (mobil yang memadukan bahan bakar konvensional dengan tenaga listrik/baterai) yang menembus angka 1 juta unit per tahun. Penjualan mobil listrik secara umum juga terus berlipat ganda (naik dua kali lipat) mencapai 110.000 kendaraan.

Menurut Van der Hoeven, masih ada potensi positif lain untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yaitu dengan meningkatkan efisiensi energi di kendaraan penumpang. Saat ini jurang efisiensi energi di kendaraan penumpang masih sangat lebar. Baru sedikit negara yang memiliki standar efisiensi energi yang komprehensif.

Redaksi Hijauku.com