Sebanyak 7000 kota di lebih dari 150 negara terlibat dalam aksi Earth Hour. Dari Samoa, hingga Kepulauan Cook, ratusan juta penduduk dunia beraksi untuk menyampaikan pesan hijau untuk bumi.

Tidak hanya mematikan lampu selama satu jam, aksi Earth Hour tahun ke-7 ini telah melampaui batas 60 menit menjadi gerakan lingkungan yang lebih komprehensif yaitu menciptakan masa depan dunia yang berkelanjutan.

Pendukung Earth Hour di Russia misalnya, berhasil menggunakan kampanye bertema “I Will If You Will” guna menggolkan undang-undang pencegahan pencemaran minyak di laut tahun lalu. Tahun ini mereka berhasil menggalang aksi 100.000 tanda tangan untuk mendukung sebuah petisi baru yang melindungi hutan dari kerusakan.

Di Madagaskar, WWF dan relawan Earth Hour menyerahkan 1000 kompor hemat energi ke penduduk yang menjadi korban siklon Haruna, Februari lalu. Bantuan ini juga bertujuan untuk mengurangi penggunaan batu bara dan kayu sebagai bahan bakar yang tidak ramah lingkungan dan merusak hutan.

Di India, sejumlah desa menikmati listrik untuk pertama kalinya setelah memeroleh bantuan panel surya. Sementara di Libya relawan berjalan kaki sejauh 80 kilometer dari Gharyan ke ibu kota Libya guna berpartisipasi merayakan Earth Hour.

Asia terbukti sukses menjadi pusat energi yang menggerakkan aksi Earth Hour di seluruh dunia. Tim Earth Hour global memindahkan markas mereka ke Singapura tahun lalu. Kini, hampir semua wilayah di Asia mendukung gerakan Earth Hour.

Tidak hanya berpusat di perkotaan, di sejumlah negara, aksi relawan Earth Hour telah masuk ke wilayah pedalaman. Relawan Earth Hour dari Brunei Darussalam, misalnya, berupaya melakukan aksi yang melebihi aksi selebrasi. Mereka masuk ke pedalaman hutan Borneo untuk memberikan bantuan panel surya ke suku Punan, suku terpencil yang jumlahnya kini kurang dari 400 penduduk.

Di Thailand, gerakan Earth Hour juga masuk ke aksi yang lebih mendasar yaitu memromosikan pelajaran penghematan energi untuk masuk ke kurikulum sekolah di Bangkok sekaligus menciptakan jaringan sekolah yang rendah karbon.

Indonesia tidak mau kalah. Sebanyak 30 kota di Tanah Air terlibat dalam aksi ini. Berbagai aksi yang bisa langsung menjadi solusi masalah lingkungan sekitar juga dilakukan, seperti penanaman pohon di Daerah Aliran Sungai Ciliwung, penanaman mangrove di pesisir Laut Jawa dan Aceh, serta pembangunan mikrohidro di Desa Harowu – Kalimantan Tengah.

Dan untuk pertama kalinya WWF berhasil menyeleksi 17 kota finalis dari enam negara guna mengikuti Earth Hour City Challenge. Kota Vancouver, Kanada terpilih menjadi Global Earth Hour Capital pertama. Kota ini dinilai tim juri sebagai kota paling inovatif dalam beraksi mengatasi krisis perubahan iklim dan menciptakan lingkungan yang hijau dan berkelanjutan bagi generasi kini dan generasi mendatang.

Pemerintah menargetkan semua bangunan di kota ini bebas emisi karbon (carbon neutral) pada 2020, dan separuh (50%) perjalanan akan ditempuh dengan sistem transportasi aktif: berjalan kaki, bersepeda atau menggunakan angkutan publik.

Jumlah lapangan kerja ramah lingkungan (green jobs) di Vancouver juga naik dua kali lipat tahun ini. Menjadi inspirasi bagi seluruh penduduk bumi untuk menerapkan pembangunan yang rendah emisi.

Redaksi Hijauku.com