Untuk disiarkan segera pada tanggal 4 Pebruari 2013

Balikpapan, 4 Februari 2013 – Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur dan Centre for Orangutan Protection (COP), telah melakukan penandatanganan Nota Kesepahaman kerjasama dalam melindungi orangutan, khususnya sub species Pongo pygmaeus morio. Penandatanganan dilakukan oleh Kepala Balai Ir. Tandya Tjahjana, M.Si. dan Direktur Pusat Perlindungan Orangutan, Hardi Baktiantoro, serta disaksikan oleh Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (Ditjen PHKA), Kementerian Kehutanan, Dr. Ir. Novianto Bambang. W. M.Si.

Direktur Konservasi Keanekargaman Hayati menyatakan bahwa, “Ini adalah kerjasama yang terpadu untuk menyelamatkan orangutan, bukan hanya membangun Pusat Rehabilitasi saja tetapi juga mendukung operasi penyelamatan, penegakan hukum serta pendidikan dan penyadartahuan masyarakat. Semoga ini bisa menjadi kesempatan bagi orangutan agar semakin terlindungi dengan lebih baik”, imbuh Dr. Ir. Novianto Bambang. W. M.Si.

“Alih fungsi hutan menjadi peruntukan lain seperti perkebunan, pertambangan, pertanian, pemukiman dan pembangunan, telah memaksa satwaliar termasuk orangutan keluar dari habitatnya. Hal ini telah memicu terjadinya konflik manusia dengan orangutan. Sehingga keberadaan pusat rehabilitasi sangat membantu dalam merehabilitasi orangutan yang sudah kehilangan kemampuan hidup di habitat alami, sebelum dilepas ke alam,” tambah Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kalimantan Timur), Ir. Tandya Tjahjana, M.Si.

Hardi Baktiantoro menyatakan bahwa, “Konflik antara manusia dan orangutan, terutama sebagai dampak dari konversi lahan, masih terus terjadi. Di lain sisi, Pusat Penyelamatan yang ada sudah melebihi daya tampungnya sehingga jika dipaksakan menerima orangutan baru dikhawatirkan akan mengganggu proses rehabilitasi yang sedang berlangsung. Karenanya, dibutuhkan sebuah kerjasama terpadu, termasuk membangun dan menjalankan sebuah Pusat Penyelamatan baru. Saat ini saja, setidaknya 15 orangutan sudah berada dalam daftar tunggu kami. 4 diantaranya sudah berumur 4 tahun. Dengan demikian mereka bisa dilepasliarkan ke habitat alaminya dalam 2 atau 3 tahun mendatang. Kerjasama ini, hingga 5 tahun mendatang sebagian besar didanai oleh Orangutan Appeal UK.”

Dalam pelaksanaan kegiatan pelepasliaran selanjutnya akan bekerjasama dengan Yayasan BOS dan PT. Restorasi Habitat Orangutan Indonesia.

Dengan demikian di Provinsi Kalimantan Timur, akan terdapat dua pusat rehabilitasi, yaitu satu pusat rehabilitasi dan reintroduksi orangutan yang akan dibangun oleh COP dan satu lagi pusat rehabilitasi orangutan yang telah ada di Samboja.

Untuk informasi dan wawancara lebih lanjut: 1. Ir. Tandya Tjahjana, M.Si, BKSDA Kaltim. Telephone: 0541-743556, email: ndya.tandya@yahoo.com, 2. Hardi Baktiantoro, Principal COP. Telephone: 08121154911, email: orangutanborneo@mac.com