Sebanyak 2,6 miliar penduduk termiskin menjadi kelompok yang paling rentan terkena dampak perubahan iklim.

Hal ini disampaikan oleh Helen Clark, administrator Program Pembangunan PBB (UN Development Programme) dalam berita yang dirilis Jum’at.

Menurut Helen perubahan iklim berpotensi merusak hasil pembangunan dan kerja keras yang telah dilakukan dunia selama ini. Semakin lama dunia menunggu, semakin mahal dan besar kerusakan akibat perubahan iklim yang akan terjadi.

Berbicara di Stanford University, California, Helen Clark mengajak dunia untuk berkoordinasi secara global guna atasi perubahan iklim. Jika tidak, tantangan untuk mengurangi kemiskinan dan biaya adaptasi perubahan iklim akan semakin besar.

“Agar suhu bumi tidak naik di atas 2 derajat Celcius – yang menjadi batas tertinggi ancaman perubahan iklim yang tak akan bisa dipulihkan kembali – kita perlu menstabilkan dan kemudian mengurangi secara drastis emisi gas rumah kaca,” tuturnya.

Pada kesempatan yang sama, Helen juga mengumumkan bergabungnya UNDP dengan Climate and Clean Air Coalition (CCAC). Climate and Clean Air Coalition adalah koalisi global untuk mengurangi polusi jangka pendek seperti karbon hitam (soot), metana dan berbagai jenis hydrofluorocarbon (HFC).

CCAC adalah kerja sama lintas sektoral antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan lembaga internasional beranggotakan Bangladesh, Jerman, Ghana, Swedia, Amerika Serikat, Stockholm Environment Institute, ClimateWorks Foundation dan Program Lingkungan PBB (UNEP).

Menurut Helen, sejumlah penelitian ilmiah menunjukkan, upaya cepat mengurangi emisi jangka pendek berpotensi memerlambat pemanasan global yang diperkirakan akan mencapai 0,5°C pada paruh pertama abad ini.

Hijauku.com sudah menurunkan laporan mengenai aksi CCAC ini. UNDP saat ini tengah menerapkan teknologi penghemat energi untuk alat-alat pendingin di India, Indonesia dan Malaysia bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat (US Department of State).

Redaksi Hijauku.com