Mobil elektrik berpotensi menurunkan polusi udara dan gas rumah kaca, namun juga bisa mencemari lingkungan. Hal ini terungkap dari hasil penelitian terbaru Norwegian University of Science and Technology yang diterbitkan Kamis (4/10).

Laporan berjudul “Comparative Environmental Life Cycle Assessment of Conventional and Electric Vehicles” ini menyatakan, jika dikombinasikan dengan sumber listrik yang rendah emisi, mobil elektrik berpotensi mengurangi polusi gas rumah kaca dan polusi dari kendaraan pribadi.

Para peneliti menemukan, jika digunakan di Eropa, dengan struktur pasokan energi yang ada saat ini, mobil elektrik akan mampu mengurangi potensi pemanasan global antara 10-24% dibanding kendaraan berbahan bakar solar atau bensin dengan jarak pakai yang sama yaitu 150.000 km.

Namun para peneliti juga menemukan potensi pencemaran dari kendaraan elektrik. Pencemaran ini berasal dari energi yang digunakan untuk sumber tenaga, masa pakai kendaraan, konsumsi energi dan masa penggantian baterai.

Jika jarak pakai kendaraan elektrik dinaikkan hingga 200.000 km, potensi pemanasan global yang bisa dikurangi akan naik menjadi 27-29% jika dibanding kendaraan berbahan bakar bensin dan 17-20% jika dibanding kendaraan berbahan bakar solar.

Namun jika jarak pakai yang dihitung mencapai 100.000 km, manfaat pengurangan potensi pemanasan global akan menyusut menjadi 9-14% jika dibanding kendaraan bensin dan hampir tidak ada perbedaan jika dibanding kendaraan berbahan bakar solar.

Peningkatan manfaat kendaraan elektrik akan tergantung pada perbaikan di rantai pasokan produksi kendaraan dan upaya beralih ke energi yang bersih yang akan menjadi sumber pasokan listrik kendaraan elektrik.

Redaksi Hijauku.com