Merelokasi industri yang banyak menghasilkan emisi tidak akan membantu melindungi bumi dari perubahan iklim.

Emisi gas rumah kaca di negara seperti China, banyak berasal dari produksi barang-barang yang diekspor ke Jerman dan Amerika Serikat. Namun bukan berarti negara yang telah merelokasi industrinya yang banyak menghasilkan emisi, akan terlepas dari tanggung jawab dan peraturan melindungi bumi dari perubahan iklim.

Kesimpulan ini muncul dalam berita yang dirilis oleh Potsdam Institute for Climate Impact Research (PIK) yang telah diterbitkan di jurnal Nature Climate Change, kemarin (Minggu, 23 September).

Penelitian sebelumnya menyebutkan, perkembangan perdagangan dunia, telah memindahkan produksi emisi dari satu negara ke negara lain dalam jumlah besar. Barang yang diperdagangkan, secara efektif mengandung emisi gas rumah kaca yang berasal dari energi yang dipakai untuk memroduksi barang tersebut.

“Biasanya, negara-negara Barat mengimpor barang yang dalam proses produksinya menghasilkan emisi gas rumah kaca dalam jumlah besar di negara-negara miskin. Hal tersebut memicu pertanyaan, siapa yang harus bertanggung jawab atas emisi ini,” ujar Michael Jakob salah satu peneliti dari PIK.

Isu transfer emisi ini menurut Jakob cukup rumit karena banyak negara-negara Barat juga memiliki target pengurangan emisi yang ambisius. Jika mereka berupaya mencapai target tersebut dengan merelokasi industri – yang memroduksi emisi dalam jumlah besar – ke negara dunia ketiga, mereka tak akan membantu mengatasi dampak perubahan iklim – dan bahkan bisa merusak ekonomi.

“Kami bisa menunjukkan bahwa hampir separuh emisi CO2 yang masuk ke AS berasal dari barang-barang impor akibat defisit perdagangan negara itu,” terang Jakob. AS menghasilkan lebih sedikit emisi di dalam negeri karena AS mengimpor barang lebih banyak daripada mengekspor.

Namun penelitian ini juga menemukan, tanpa sistem perdagangan dunia, negara-negara seperti China akan menghasilkan lebih banyak emisi gas rumah kaca. Negara-negara Barat mengekspor barang, misalnya mesin, yang dalam proses produksinya memerlukan banyak energi. Tapi sumber energi yang digunakan oleh industri di Barat berasal dari energi yang relatif lebih bersih.

Jika China harus memroduksi mesin yang dalam proses produksinya memerlukan energi tinggi, emisi gas rumah kaca China akan naik, karena negara ini masih mengandalkan sumber energinya dari bahan bakar fosil terutama batu bara.

Solusinya, menurut Robert Marschinski dari PIK dan Technische Universität Berlin yang turut menyusun laporan ini adalah meningkatkan kerja sama internasional (antar negara) yang bisa dicapai dengan menetapkan target (mitigasi dan adaptasi) perubahan iklim yang mengikat secara global.

Target ini bisa memberikan insentif pada investor untuk mengembangkan teknologi rendah emisi. Inovasi di efisiensi juga bisa memeroleh dukungan finansial, dan sistem perdagangan karbon regional bisa saling terkait. “Semua ini akan membantu dunia mencapai target perubahan iklim dengan cara yang lebih ekonomis,” tuturnya.

Redaksi Hijauku.com