Dunia perlu menjaga pondasi ekologis di sektor pertanian dan perikanan guna menjamin keamanan pangan pada masa mendatang.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP), berjudul “Avoiding Future Famines: Strengthening the Ecological Basis of Food Security through Sustainable Food Systems,” yang diterbitkan Rabu (20/6).

Langkah menjaga pondasi ekologis ini guna memastikan agar dunia bisa memenuhi kebutuhan pangan 7 miliar penduduknya – yang diperkirakan akan naik menjadi lebih dari 9 miliar pada 2050.

Negara-negara dunia juga perlu menghapus inefisiensi dalam sistem transportasi pangan guna menghindari hilangnya atau terbuangnya bahan pangan yang jumlahnya saat ini mencapai sepertiga dari jumlah produksi pangan dunia atau mencapai 1,3 miliar ton per tahun.

Debat mengenai keamanan pangan seringkali hanya berputar pada empat pilar keamanan pangan yaitu ketersediaan (availability), akses (access), pemanfaatan (utilization) dan stabilitas pangan (stability) namun melupakan aspek layanan ekosistem.

Laporan ini mencoba mengembalikan debat keamanan pangan dalam kerangka ekonomi hijau dengan mengarahkan pada praktik produksi dan konsumsi pangan yang berkelanjutan guna memastikan tercapainya produktivitas pangan tanpa merusak lingkungan.

Dalam laporan ini juga terungkap, sektor pertanian memenuhi 90% kebutuhan kalori dunia sementara sektor perikanan menyediakan 10% sisanya. Namun berbagai masalah terus mengancam kedua sektor ini.

Di sektor pertanian: kompetisi memerebutkan air antara manusia dan lahan pertanian semakin sering terjadi. Pola pertanian konvensional yang merusak alam, menggunakan bahan-bahan kimia secara berlebihan masih terus berlangsung. Praktik ini sudah terbukti mengundang hama, merusak kesuburan dan meracuni air tanah.

Penggundulan hutan dan pencemaran pestisida juga bisa mengganggu layanan ekosistem seperti penyerbukan – dengan mematikan serangga penyerbuk dan sejumlah pemangsa alami lain yang berfungsi mengendalikan hama tanaman.

Lebih lanjut, perubahan iklim dan dampaknya juga mengacaukan pola dan waktu tanam, mengurangi produktivitas lahan.

Di sektor perikanan masalah eksploitasi sumber daya kelautan tetap menjadi ancaman. Rusaknya habitat pantai seperti terumbu karang dan hutan mangrove terus terjadi. Setidaknya 35% hutan mangrove dan 40% terumbu karang dunia telah hancur atau turun kualitasnya dalam 10 tahun terakhir.

Berkurangnya nutrisi telah menyebabkan hilangnya oksigen dalam air dan mematikan kehidupan di dalamnya. Lebih dari 400 zona mati (dead zones) telah diidentifikasi di perairan dunia.

Sementara perubahan iklim membuat suhu air laut semakin hangat dan asam yang berdampak pada kelestarian ikan. IPCC memerkirakan, 18% terumbu karang akan rusak dalam tiga dekade mendatang. Kondisi ini sekaligus merusak habitat ikan-ikan penting yang menjadi sumber pangan masyarakat.

Untuk perikanan darat, pembangunan di bantaran sungai juga telah merusak habitat ikan. Lebih dari 50% sungai-sungai terbesar dunia telah dibendung dan 59% sungai pecahannya mengalami perlakuan yang sama. Dan aktivitas manusia telah menyebabkan 20% pendangkalan sungai dunia.

Banyak solusi yang ditawarkan dalam laporan ini. Salah satunya adalah dengan beralih ke sistem pertanian dan perikanan yang berkelanjutan. Upaya sertifikasi produk pertanian dan perikanan juga bisa dilakukan seiring dengan upaya mengubah pola konsumsi masyarakat. Laporan lengkap “Avoiding Future Famines” bisa diunduh di sini.

Redaksi Hijauku.com