Penelitian terbaru mengungkap dampak perubahan iklim global terhadap keanekaragaman hayati dan kemanusiaan.

Dampak utama perubahan iklim menurut penelitian University of Veterinary Medicine, di Wina, Austria adalah ancaman banjir dan genangan air yang sebagian besar akan terjadi di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik.

Hasil penelitian yang disiarkan ke publik, Rabu (13/6) lalu mengungkapkan, perubahan iklim akan menyebabkan kenaikan permukaan air laut setinggi 1-2 meter pada abad ini, yang akan mengancam kondisi kemanusiaan dan keanekaragaman hayati.

Para peneliti dari Austria dan Denmark juga meneliti dampak kenaikan air laut terhadap kelangsungan habitat dan distribusi mamalia.

Lebih dari 1200 pulau di wilayah Asia Tenggara dan Pasifik menjadi obyek dari penelitian bersama ini. Risiko kerusakan habitat dan musnahnya mamalia, menurut penelitian ini, akan lebih tinggi di wilayah yang lebih padat.

Penelitian ini juga menyimpulkan, kenaikan air laut diperkirakan akan mencapai minimal 1 meter pada abad ini, walau ada kemungkinan kenaikan yang lebih tinggi, yaitu mencapai 3-6 meter.

Antara 3-32% wilayah pesisir di pulau-pulau yang diteliti akan hilang terendam air laut, tergantung pada tinggi kenaikan permukaan air laut yang akan terjadi. Konsekuensinya, sebanyak 8 hingga 52 juta penduduk akan mengungsi akibat banjir.

Dengan terendamnya wilayah perkotaan, lahan pemukiman dan pertanian akan bergeser ke tempat yang lebih tinggi sehingga mengancam eksistensi dan distribusi hewan dan mamalia.

Khusus di kepulauan Indonesia dan Malaysia, jumlah penduduk yang terancam relokasi akibar banjir dan perubahan iklim diperkirakan mencapai 7 hingga 48 juta penduduk.

Redaksi Hijauku.com