Oleh: Irianto Safari*
Dengan bantuan teknologi, dunia bisa mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus menciptakan energi bersih dan terbarukan. Dengan mengolah energi dari sampah, kita juga bisa mengurangi emisi gas rumah kaca di udara yang mengakibatkan pemanasan global.
Jika kita bisa mengolah satu ton sampah menjadi energi, maka kita akan bisa mengurangi satu ton emisi karbon dioksida (CO2) yang terbuang di udara.
Dalam proses pengolahan sampah menjadi energi, sampah diubah menjadi bahan bakar. Proses pembakaran sampah ini hampir menghancurkan semua dioxin, mengurangi gas-gas karbon monoksida dan nitrogen oksida sehingga menghasilkan energi yang bersih.
Pembakaran ini juga menghancurkan semua virus, bakteri, makanan yang telah busuk serta bahan-bahan organik lain yang berpotensi mengganggu kesehatan manusia.
Pada dasarnya, cara mengubah sampah menjadi listrik sama seperti saat kita menggunakan batu bara atau minyak sebagai bahan bakar di stasiun pembangkit listrik.
Sampah adalah bahan campuran yang mengandung banyak bahan bakar. Dari setiap 50 kg sampah, hampir 80%-nya (40 kg) bisa diolah menjadi bahan bakar untuk membangkitkan tenaga listrik.
Proses produksi energi dari sampah bisa dilihat dalam diagram di bawah ini.
1. Sampah dari kota dikumpulkan.
2. Sampah dipindahkan ke ruang pembakaran dan dibakar dengan suhu yang sangat tinggi, kira-kira 1000 C. Sampah menjadi bahan bakar.
3. Air akan mendidih dari proses pembakaran.
4. Uap tekanan tinggi akan digunakan untuk menggerakkan turbin.
5. Uap ini menggerakkan turbin untuk menghasilkan tenaga listrik.
6. Tenaga disalurkan ke jaringan listrik ke perumahan, industri dan perkantoran dll.
7. Abu dari pembakaran diproses untuk menghilangkan unsur logam dan disatukan dengan residu lain hasil proses pembersihan udara.
8. Gabungan abu ini dibuang ke tempat pembuangan sampah.
9. Semua gas-gas yang dihasilkan dikumpulkan, ditapis dan dibersihkan sebelum dibuang ke udara.
10. Semua partikel-partikel kecil ditapis sebelum dibuang ke udara.
11. Semua jenis polutan akan diawasi sesuai dengan parameter yang ditentukan untuk memastikan semua standar terpenuhi.
Energi yang bisa dihasilkan dari satu ton sampah mencapai 525 kWh (kilowatt-hours). Jumlah energi listrik ini cukup untuk memenuhi kebutuhan energi sebuah gedung perkantoran selama satu hari.
Di Singapura, pada tahun 2008, 4 stasiun pembakar sampah berhasil memroduksi 1,048,072 MWh (MegaWatt-hours) listrik, atau kira-kira 3% dari total konsumsi listrik Singapura.
Negara maju lain seperti Amerika Serikat, berhasil memroduksi 5 MW listrik dari sampah yang bisa menerangi 5.500 hingga 6.200 rumah.
Keuntungan lain dari proses produksi energi dari sampah ini adalah kemampuannya untuk mengurangi volume sampah yang menumpuk di tempat pembuangan sampah antara 80% hingga 90%.
Namun masih banyak yang merisaukan efek samping dari pembakaran sampah menjadi energi ini yaitu polusi udara. Abu hasil pembakaran sampah ini mengandung logam seperti kadmium, raksa (mercury), timah dan toksin-toksin lain yang berbahaya bagi kesehatan manusia dan mencemari lingkungan.
Kekhawatiran ini beralasan, namun dengan fasilitas pembakaran sampah atau incinerator modern berteknologi tinggi, semua masalah ini bisa diatasi.
Fasilitas pembakar sampah modern biasanya sudah dilengkapi alat-alat yang canggih seperti scrubbers, electrostatic precipitators, fabric filters untuk menghilangkan asam-asam dan logam-logam berbahaya dan abu sebelum dibuang ke udara.
Abu dari pembakaran sampah ini juga tidak akan mencemari air tanah jika tempat pembuangan sampah mempunyai konstruksi yang baik.
Biaya konstruksi stasiun pembakar sampah modern memakan biaya sebesar US$200 juta atau US$ 3,570 per kWh kapasitas terpasang. Dengan memertimbangkan biaya pembuangan dan pengelolaan sampah, investasi di teknologi energi dari sampah ini bisa semakin murah.
Berikut contoh fasilitas pengolahan energi dari sampah di berbagai negara.
- Neastved, Denmark. Fasilitas pembangkit listrik tenaga sampah ini mulai beroperasi pada 2006. Lokasi ini mampu mengolah sampah sebanyak 8 ton/jam atau 115.000 ton sampah/tahun. Produksi listriknya mencapai 13 MW/tahun.
- Sundvall, Swedia. Fasilitas yang mulai beroperasi pada tahun 2007 ini mampu mengolah sampah dengan kapasitas 25 ton/jam atau 200.000 ton sampah/tahun. Produksi listriknya mencapai 120.000 MW/tahun.
- Linkoping, Swedia. Fasilitas ini mulai beroperasi pada 2002 dan mampu mengolah sampah dengan kapasitas 24 ton/jam atau 2 juta ton sampah/tahun. Produksi listriknya mencapai 20 MW/tahun.
- Esborg, Denmark. Fasilitas ini mulai beroperasi pada 2001 dan mampu mengolah sampah sebesar 24 ton/jam atau 180.000 ton sampah/tahun. Listrik yang diproduksi mencapai 16 MW/tahun.
- Fairfax, Virgina, Amerika Serikat. Fasilitas ini mulai beroperasi pada 1990 dan mampu mengolah sampah sebesar 125 ton/jam atau 930.000 ton/tahun dengan produksi listrik mencapai 80 MW/tahun.
- Spokane, Washington, Amerika Serikat. Fasilitas ini mulai beroperasi pada 1991. Kapasitas pengolahan sampahnya mencapai 30 ton/jam atau 248 ton/tahun. Daya listrik yang dihasilkan mencapai 16,1 MW/tahun.
Khusus untuk pembangkit listrik tenaga sampah di Fairfax, Virginia, fasilitas ini tercatat mampu mendistribusikan listrik ke 75.000 rumah dan menghemat 2 juta barel minyak setiap tahun.
–##–
*Irianto Safari adalah seorang profesional di bidang energi alternatif yang saat ini tinggal dan bekerja di Singapura. Penulis menyelesaikan pendidikan sarjananya di Rochester Institute of Technology di Rochester, New York, Amerika Serikat dan meraih gelar Master of Science di bidang Teknik Energi (Energy Engineering) dari University of Massachussets, Lowell, Amerika Serikat.

bagus sekali,, tetapi untuk menciptakan panas 1000 c itu apakah tidak menghabiskan energi? bagaimana kalau mengubah energi cahaya matahari menjadi energi listrik langsung, itu juga akan mengurangi CO2 bila mesin-mesin dengan bahan bakar bbm bisa di ganti dengan itu,, 🙂
Benar untuk menciptakan panas diperlukan energi, namun hasil dari pembakaran tersebut juga menghasilkan energi dalam jumlah yang melampaui energi yang diperlukan. Energi matahari adalah salah satu pilihan pembakit energi bersih dalam skala besar, untuk kendaraan di Indonesia pilihan energi bersih yang paling visible adalah gas yang melimpah ketersediaannya.
Overall, konsep di diagramnya sudah komplit
Tinggal detail untuk masing” point
Saya juga sedang mengkaji hal tersebut, yang secara khusus mengoptimalkan :
1. PEMILAHAN AWAL sampah sebelum masuk proses pembakaran.
2. Peningkatan panas dengan udara/uap keluaran dari steam yang DIKEMBALIKAN ke ruang bakar
3. FiILTERISASI udara dari ruang pembakaran sebelum di lepas kembali ke udara.
Mungkin kita bisa saling berbagi, karena jika bisa di relisasikan kesetiap kota di indonesia, atau skala kecil di Tingkat kelurahan maka sangat luarbiasa manfaat yang bisa didapat.
Bisa kirim alamat anda secara specifik ke email saya, sehingga kita bisa sharing. Thx
teknologi ini sebenernya sangat bisa diterapkan di indonesia dan bisa membantu para petani di daerah terpencil dengan memanfaatkan sekam padi yang dibiarkan menumpuk atau bekas potongan kayu dari ranting pohon sehingga bisa mengalirkan listrik kerumah-rumah. tinggal kepedulian pemerintah untuk mendorong perubahan tersebut. thanks to share
Baru saja saya menonton tayangan WideShot di MetroTV tentang pembangkit listrik (tenaga?) sampah – jadi penasaran sehingga saya akhirnya nyasar (eh?) ke web ini.
Tapi Kelihatannya beda teknologi ya? kalau yang di MetroTV tadi itu memanfaatkan gas methane yang keluar dari tumpukan sampah.
Tapi bagus bener tuh ide tentang energi alternatif dari sampah ini – negara kita kan penghasil sampah yang lumayan gede jumlahnya *nyengir*, pemerintah seharusnya mulai berani invest untuk hal hal semacam ini. Ga hanya gembar gembor himbauan hemat energi aja …
negara harus perang melawan sampah,narkoba dan korupsi.masalah sampah harus menjadi proyek nasioanl
Mau tanya Pak, apakah tidak lebih efisient langsung menggunakan energi panas dari metana yang dihasilkan sampah. Kenapa kebanyakan negara hanya menggunakan sistem pembakaran? Boleh saya diberikan info di negara mana sistem PLTS tanpa insinerasi sudah diterapkan dengan baik? Tks.
Kami belum memiliki informasinya, namun dilihat dari prosesnya, kalau kita mengandalkan pada sumber emisi metana diperlukan proses yang lebih rumit. Metana biasanya dihasilkan oleh proses gasifikasi pada sampah basah, sementara PLTS biasanya memanfaatkan sampah kering, menggunakannya sebagai bahan pembakaran.
Terobosan yg Merdesa! Semoga bisa terlaksana..