Renungan dari Proses Penulisan Dua Buku Abdillah Toha
Oleh: Jalal
Cukup banyak orang yang pernah saya ceritakan alasan mengapa saya tak punya satupun akun media sosial. Sosiolog Stephen Sanderson menuliskan semacam nubuat di tahun 1988 bahwa suatu saat akan datang masa ketika manusia bakal lebih sibuk memilah dan memilih informasi, bahkan bertahan dari implosi informasi, bukan lagi mencari informasi. Dia bilang mayoritas informasi itu akan seperti junk food, dan masyarakat bakal kesulitan mencari informasi sekelas fine dining. Buat saya, masa itu adalah ketika media sosial hadir. Dan saya tak punya nyali untuk masuk ke dalamnya.
Alasannya adalah saya terbiasa aktif mencari informasi, sesuai minat saya, pada saat saya mau mencarinya. Saya juga percaya bahwa mereka yang menulis artikel opini di media massa, bab, jurnal ilmiah dan profesional, serta buku lengkap itu lebih berniat memastikan kebenaran dan wawasan dibandingkan yang sekadar menuliskannya lewat media sosial. Maka, saya lebih suka membaca tulisan-tulisan dari sumber-sumber itu bukan dari media sosial.
Tapi itu tak berarti seluruh isi media sosial itu sekelas junk food. Banyak ‘chef’ berkelas yang meramaikan media sosial dengan informasi bergizi tinggi. Namun, saya percaya bahwa Sanderson benar. Media sosial memang mayoritasnya tak berisikan jenis informasi yang saya cari, dan penelitian demi penelitian menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan pemilik media sosial memang merancang konsumennya untuk selama mungkin ada di dalam cengkeraman mereka lewat apa yang kini disebut ‘attention economy‘.
Sementara, saya yang ingin memelihara agensi dalam pencarian dan analisis atas informasi tak sudi menyerahkan diri pada tarikan algoritma buatan perusahaan yang ingin menangguk iklan lewat selama mungkin konsumsi media sosial. Jadilah saya ‘fakir medsos’ hingga sekarang. Beberapa rekan menjuluki saya ‘The Untaggable‘, yang terdengar agak keren.
Kebiasaan membaca yang saya pelihara sejak usia pra-sekolah, tepatnya mulai umur 4 tahun, sangat erat dengan hobi lainnya: menulis. Lantaran terpikat dan terpukau dengan cara banyak penulis hebat, baik fiksi maupun non-fiksi, sejak kecil pula saya mengembangkan kebiasaan menuliskan apa saja. Ringkasan buku, omongan guru, obrolan dengan sahabat, atau pengamatan di lapangan saya tuliskan dan bagikan. Kadang-kadang jadi lebih serius dengan menuliskan timbangan atas satu isu tertentu, atau pemikiran orang lain, biasanya tokoh terkemuka, yang membuat saya terkesan lantaran orisinalitas gagasan dan kefasihan menuturkannya.
Juli lalu, Ibrahim Ali-Fauzi, atau Mas Bram, orang yang saya kenal sejak lebih dari dua dekade lalu menghubungi saya. Ia meminta saya untuk turut menulis bab untuk buku kumpulan tulisan untuk seorang pebisnis, politisi, dan penulis handal Abdillah Toha, yang berpulang beberapa minggu sebelumnya. Saya tak mengenalnya secara akrab. Pertemuan kami selintasan, tapi permintaan Mas Bram membuat ingatan dan perasaan saya menguat. Abdillah Toha saya ikuti tulisan-tulisannya sejak entah kapan, kami juga menulis bersama-sama di Geotimes hanya untuk tema yang berbeda. Tetiba saya sadar bahwa Abdillah Toha adalah di antara orang yang saya kagumi pemikirannya, keberaniannya, juga kefasihannya dalam menyampaikan gagasan. Jadi, saya lalu terpanggil untuk turut menyumbangkan tulisan. Saya menyanggupi permintaan Mas Bram, sebelum saya tahu pasti apa yang bakal saya tulis.
Berbeda secara diametrikal dengan sikap atas media sosial, saya adalah orang yang belajar sungguh-sungguh soal bagaimana Kecerdasan Buatan dapat dimanfaatkan untuk melakukan riset data sekunder yang luas dan dalam. Saya mencari tulisan-tulisan Abdillah Toha, membaca ulang seluruhnya, dan meminta lima mesin untuk melakukan meta-analisis atas puluhan tulisan Abdillah Toha. Saya terkesima dengan hasilnya, lantaran apa yang saya percayai tentang politik yang bermartabat, tentang bagaimana demokrasi dirawat, ternyata sangat dekat dengan pemikiran-pemikirannya. Rupanya, apa yang beliau tulis dan saya baca satu demi satu, melampaui dua dekade, telah sedemikian merasuk ke benak dan menjadi keyakinan di hati.
Maka, di buku Penjaga Akal Sehat: Abdillah Toha di Mata Kerabat dan Sahabat yang akhirnya diluncurkan tadi sore, saya menulis bab berjudul Belajar Etika Politik dari Abdillah Toha. Saya tersadar bahwa itulah wilayah terpenting yang saya pelajari dari beliau. Mungkin bukan bab yang benar apalagi hebat soal etika (ber)politik, lantaran itu adalah wilayah di luar yang saya geluti, tapi saya berusaha sejujur mungkin mengungkap apa yang saya tangkap dari tulisan-tulisan Abdillah Toha.
Tapi urusan itu ternyata belum selesai. Beberapa hari lalu Mas Bram tetiba meminta saya menuliskan pengantar untuk satu buku lainnya. Tak cukup menyunting buku yang saya sebut di atas (bersama M. Syafii Anwar dan Abd. Rohim Ghazali), rupanya ia juga mengumpulkan artikel opini Abdillah Toha di Geotimes dan Kompas. Kali ini, ia beri judul: Menjaga Kewarasan: Esai-esai Politik, Islam, dan Demokrasi di Era Pasca-Kebenaran. Lantaran tetiba seorang yang tadinya bersedia menuliskannya kesulitan menyelesaikan, Mas Bram meminta saya sebagai penulis pengganti, dan dia menanyakan apakah ‘besok’ bisa selesai. Ya, waktunya hanya sehari, untuk mengejar penyuntingan hingga pencetakan agar kedua buku bisa diluncurkan pertama.
Reaksi pertama saya: “Gendeng!” Tetapi ada satu perasaan yang merayap: saya masih punya hal-hal yang perlu diceritakan soal pelajaran dari Abdillah Toha. Dan saya benar-benar ingin menuliskan soal bagaimana pidato imajiner seorang presiden Indonesia yang ditulis Abdillah Toha di bulan Mei 2017 bisa memaknai politik Indonesia kontemporer. Jadilah saya mengosongkan hari itu, membaca artikel-artikel terpilih yang dikirimkan Mas Bram, dan langsung menuliskan apa yang melintas di benak dan berdesir di hati.
Dari proses penulisan dua buku itu saya belajar banyak sekali. Banyak orang terkemuka bisa ‘turun gunung’ segera lantaran alasan yang begitu kuat memanggil. Saya terkagum pada cerita-cerita yang mereka ungkap, juga kefasihan bahkan keindahan pengungkapan. Ada yang membuat saya kagum karena keefektifan bertutur dan ada yang membuat decak kagum lantaran seperti membaca karya munsyi atau pujangga. Dan semuanya dibuat dengan cepat, dengan hasil yang memuaskan.
Ketika Mas Bram, saya, dan Taufik Rahman, sahabat saya sejak seperempat abad lampau, berbual di barisan belakang acara peluncuran buku, ada kesadaran yang menyelinap: akankah orang tetap menulis dengan baik, dan akankah menulis bab dan buku tetap dianggap sebagai budaya yang perlu dipertahankan? Mereka yang tulisannya dikumpulkan Mas Bram mayoritasnya tidak muda lagi, dan minat menulis dengan runut dan cermat agaknya terus menurun, seiring dengan memudarnya minat membaca di generasi yang lebih muda.
Media sosial telah memorakporandakan kemampuan konsentrasi. Dan buat mereka yang tak punya gairah mencari tahu, Kecerdasan Buatan menyediakan dalih yang luar biasa untuk mengorbankan sesedikit waktu dan memberi ilusi kompetensi. Menyadari hal ini, setelah melihat hasil kerja keras para pemikir dan penulis andal pada generasi di atas dan sebaya saya, membuat saya khawatir bahkan sedih. Dan, seperti biasanya, saya berdoa agar prasangka saya yang negatif seperti ini akan terbukti salah di masa mendatang. Saya berharap kemampuan membaca dan menulis yang tinggi menjadi hal lumrah di generasi mendatang negeri ini, agar buku-buku tetap ditulis dengan substansi yang bagus, dan dengan gaya yang memikat.
–##–
Depok, 4 September 2026 20:20_
Leave A Comment