Oleh: La Ode M. Aslan *

Pulau Pulau Kabaena pernah dikenal sebagai salah satu bentang alam paling indah di jazirah tenggara Sulawesi. Lautnya tenang, perbukitannya hijau, sungainya jernih, dan masyarakatnya hidup dalam ritme alam yang sederhana. Di pulau ini dulunya saat penulis mengunjunginya pertama kali sekitar 20 tahun yang lalu, orang-orang bangun pagi untuk melaut, mengumpulkan teripang yang berhamburan di pesisir pantai, berkebun, atau mengikat bibit rumput laut di pesisir yang membentang panjang. Kabaena bukan sekadar pulau kecil di tenggara Nusantara. Ia adalah ruang hidup ekologis, ruang sejarah dan budaya, dan ruang harapan bagi ribuan orang yang menggantungkan hidup pada laut dan tanahnya.

Namun kini, wajah Kabaena perlahan berubah. Perubahan itu tidak datang dari musim, gelombang, atau arus laut, melainkan dari deru alat berat, bukaan tambang, dan lalu lintas kapal pengangkut ore nikel yang semakin padat. Pulau yang dahulu dikenal sunyi dan hijau kini dipenuhi suara mesin dan debu merah kecokelatan yang menempel di daun-daun pohon, rumah warga, bahkan perairan pesisir.

Catatan perjalanan ini bukan sekadar cerita tentang sebuah pulau. Ia adalah riwayat tentang bagaimana sebuah daerah telah mengalami perubahan besar dalam waktu yang relatif singkat yang semakin mengesampingkan penghargaan terhadap hak asasi manusia dan alam. Di antara janji pembangunan dan pertumbuhan ekonomi, tersimpan kegelisahan masyarakat yang mulai merasa kehilangan ruang hidupnya sendiri di tanah leluhurnya sendiri yang sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu.

Perjalanan menuju Kabaena selalu menghadirkan kesan tersendiri. Dari Kendari, perjalanan laut menuju pulau itu memakan waktu berjam-jam. Laut Banda yang luas terbentang seperti hamparan biru tak berujung. Di kejauhan tampak gugusan pulau-pulau kecil yang masih hijau. Namun ketika kapal mulai mendekati beberapa wilayah pesisir Kabaena, warna laut tidak lagi sepenuhnya biru. Di beberapa titik, air tampak kecokelatan, terutama di sekitar jalur aktivitas tambang dan pelabuhan ore.

Orang-orang tua di desa pesisir mulai sering bercerita bahwa dahulu mereka bisa melihat dasar laut dengan sangat jelas. Terumbu karang tampak dari atas perahu, ikan-ikan berenang bebas, dan padang lamun tumbuh subur. Kini, di beberapa lokasi, air menjadi keruh terutama setelah hujan deras. Sedimentasi dari daratan turun ke laut membawa lumpur kemerahan. Nelayan mengeluhkan hasil tangkapan yang menurun. Petani rumput laut pun menghadapi tantangan yang semakin berat.

Kabaena sebenarnya memiliki sejarah panjang sebagai wilayah maritim dan agraris. Masyarakat hidup dari hasil laut ikan, kerang dan rumput laut, pohon aren penghasil gula merah yang sangat terkenal, kebun kelapa, cengkeh, mete, dan berbagai tanaman pangan lokal. Di beberapa wilayah pesisir, budidaya rumput laut pernah menjadi harapan ekonomi baru. Banyak keluarga menggantungkan biaya pendidikan anak-anak mereka dari hasil panen rumput laut. Aktivitas itu tumbuh karena laut Kabaena dahulu relatif bersih dan kaya nutrien alami.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, situasinya berubah drastis. Kehadiran industri pertambangan nikel membawa arus ekonomi baru. Jalan-jalan mulai dibuka, kendaraan besar lalu lalang, dan sebagian masyarakat memperoleh pekerjaan baru di sektor tambang. Tidak dapat dipungkiri bahwa tambang memberikan pemasukan ekonomi bagi sebagian warga. Warung-warung tumbuh, kontrakan dibangun, dan aktivitas perdagangan meningkat.

Akan tetapi, pembangunan yang terlalu cepat sering kali meninggalkan pertanyaan besar: apakah alam memiliki cukup waktu untuk bertahan? Atau industri tambang seperti nikel, jika cadangannya habis, aktivitas ekonomi biasanya langsung   menurun drastis dan meninggalkan beban ekologis dan ekonomi jangka panjang. Di sinilah perlunya kebijakan yang berdasar pada cara pandang rasional dan tidak berfikir hanya kepentingan sesaat terkait industri ekstraktif ini  di Sulawesi Tenggara

Di beberapa lokasi, bukit-bukit yang dahulu hijau kini tampak terbuka. Saat hujan turun, air bercampur tanah mengalir menuju sungai dan pesisir. Masyarakat mulai mengeluhkan banjir lumpur, perubahan kualitas air, serta menurunnya produktivitas kebun dan laut. Beberapa petani mengatakan bahwa tanaman mereka tidak lagi tumbuh sebaik dahulu. Nelayan pun harus pergi lebih jauh ke laut untuk memperoleh hasil tangkapan yang cukup.

Yang paling terasa sebenarnya bukan hanya perubahan fisik alam, melainkan perubahan psikologis masyarakat. Banyak warga hidup dalam situasi dilematis. Di satu sisi, mereka membutuhkan pekerjaan dan penghasilan. Di sisi lain, mereka menyaksikan lingkungan tempat mereka hidup perlahan berubah. Ada kegelisahan yang tumbuh diam-diam: bagaimana masa depan anak-anak mereka jika laut dan tanah tidak lagi produktif?

Perjalanan di beberapa desa di Kabaena memperlihatkan kontras yang tajam. Di satu sisi terlihat rumah-rumah baru dan kendaraan operasional perusahaan. Di sisi lain terlihat sungai yang keruh airnya dan pesisir yang berubah warna. Anak-anak masih bermain di pantai, tetapi para orang tua mulai khawatir terhadap kualitas lingkungan yang mereka wariskan.

Kabaena sebenarnya menyimpan potensi luar biasa selain pertambangan. Lautnya kaya sumber daya perikanan, pesisirnya cocok untuk budidaya rumput laut, dan bentang alamnya memiliki potensi pariwisata yang besar. Jika dikelola dengan baik, pulau ini dapat menjadi model pembangunan ekonomi biru yang berkelanjutan di Indonesia timur. Namun potensi itu membutuhkan perlindungan lingkungan yang serius.

Di banyak negara,  eksploitasi sumber daya alam tanpa pengelolaan yang hati-hati sering meninggalkan kerusakan jangka panjang. Ketika mineral habis, masyarakat lokal kerap menghadapi lingkungan yang telah berubah dan sumber ekonomi tradisional yang melemah. Karena itu, pertanyaan penting bagi Kabaena bukan hanya tentang berapa banyak nikel yang dapat diambil hari ini, tetapi juga tentang seperti apa pulau ini 5-10 tahun mendatang saat stok cadangan nikel diperkirakan habis dan lingkungan sudah terlanjur rusak dan sulit direhabilitasi kembali?

Salah satu hal yang paling menyentuh dalam perjalanan di Kabaena adalah percakapan dengan masyarakat pesisir. Banyak dari mereka tidak berbicara dengan nada marah. Mereka hanya berbicara dengan nada sedih. Mereka mengenang masa ketika laut menjadi tempat yang memberi rasa aman dan harapan. Kini, mayoritas dari mereka merasa hidup dalam ketidakpastian masa depan.

Seorang nelayan tua pernah berkata bahwa laut memiliki cara sendiri untuk berbicara. Ketika ikan menjauh, rumput laut sulit tumbuh lagi, ketika air berubah warna, dan ketika karang mulai mati serta pesisir dipenuhi tumpukan lumpur tebal yang berpotensi mengandung logam berat berbahaya hasil eksploitasi tambang, itu adalah tanda bahwa alam sedang memberi peringatan. Kalimat sederhana itu terdengar sangat dalam, terutama ketika diucapkan sambil memandang pesisir yang mulai dipenuhi aktivitas industri.

Di tengah semua perubahan itu, masih ada harapan. Banyak anak muda Kabaena mulai menyadari pentingnya menjaga lingkungan. Beberapa komunitas lokal mulai berbicara tentang konservasi pesisir, rehabilitasi mangrove, dan pentingnya pengelolaan tambang yang lebih bertanggung jawab. Para akademisi, aktivis lingkungan, dan tokoh masyarakat juga mulai mengangkat isu keberlanjutan Kabaena ke ruang publik.

Harapan itu penting, sebab sejarah banyak daerah menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan sering terjadi bukan karena masyarakat tidak peduli, tetapi karena suara mereka terlalu kecil dibanding kekuatan ekonomi dan politik yang bekerja. Karena itu, Kabaena membutuhkan ruang dialog yang adil antara pemerintah, perusahaan, masyarakat lokal, dan kalangan akademisi.

Pembangunan tidak seharusnya dipahami sebagai pilihan antara ekonomi atau lingkungan. Keduanya harus berjalan bersama. Masyarakat berhak memperoleh pekerjaan dan kesejahteraan, tetapi yang lebih utama mereka juga berhak atas air bersih, laut yang sehat, dan lingkungan hidup yang layak. Di sinilah pentingnya prinsip keadilan ekologis.

Kabaena hari ini adalah cermin dari banyak wilayah di Indonesia yang sedang menghadapi tekanan eksploitasi sumber daya alam. Negara ini memang membutuhkan pembangunan dan hilirisasi industri. Namun pembangunan yang baik seharusnya tidak mengorbankan ruang hidup masyarakat lokal. Undang Undang pun sudah nyata melarang penambangan di pulau pulau kecil seperti Kabaena. Ironisnya, walau sudah tegas dilarang, perusahaan tambang tetap berlangang lenggok asyik menambang tanpa merasa berdosa karena sudah nyata merusak lingkungan. Sudah ada 3 korban nyawa anak anak akibat tambang di Kabaena. Nyawa lebih murah dibanding tumpukan duit hasil tambang di Kabaena.  Ini menunjukkan kemajuan ekonomi kehilangan makna ketika masyarakat justru kehilangan sumber penghidupan saat ini dan berjangka panjang.

Di beberapa titik perjalanan, saya masih melihat keindahan Kabaena yang belum hilang sepenuhnya namun sangat mengkhawatirkan. Matahari terbenam di ufuk laut masih tampak memukau. Hutan-hutan di bagian tertentu masih berdiri hijau. Anak-anak masih tertawa di pesisir karena mereka belum faham terhadap kerusakan lingkungan yang terjadi. Perempuan-perempuan desa masih menjemur hasil laut di halaman rumah mereka. Kehidupan masih berjalan, meski dengan kecemasan yang perlahan tumbuh. Betapa tidak, pesisir yang dulunya indah dengan perairan laut berwarna biru, kini berubah warna menjadi coklat pekat kemerahan, lumpur yang semakin tebal dengan kedalaman mulai setengah meter hingga lebih satu meter ke arah laut. Di sisi lain, nelayan pun kini semakin jauh melaut karena ikan sudah tidak ada lagi di halaman pesisir, alat tangkap sero pun sudah tidak terisi ikan lagi, semua menjauh termasuk  rumput laut pun sudah tidak bisa tumbuh.

Penulis mencoba memasukkan kaki ke dalam lumpur di  pesisir untuk mengambil sedimen sekaligus ingin mengetahui kandungan kadar logam berat. Saat kaki mencoba melangkah, terasa semakin berat kaki yang menginjak  kubangan lumpur, sulit ditarik dari kubangan itu akibat tebalnya lumpur. Kaki terasa mau lepas dan tidak bisa ditarik dengan mudah  karena dalamnya kaki yang masuk menghujam ke dalam lumpur.

Mungkin inilah yang membuat Kabaena begitu penting untuk direnungkan. Pulau ini sedang berada di persimpangan sejarah. Ia bisa menjadi contoh keberhasilan pembangunan berkelanjutan, atau justru menjadi kisah tentang bagaimana sebuah wilayah kaya sumber daya sudah kehilangan keseimbangan ekologisnya.

Riwayat Kabaena hari ini belum selesai ditulis. Masa depannya masih dapat diarahkan. Itu bergantung pada keberanian semua pihak untuk menempatkan lingkungan dan manusia sebagai pusat pembangunan, bukan sekadar angka produksi dan pertumbuhan ekonomi.

Pada akhirnya, perjalanan ke Kabaena bukan hanya perjalanan geografis. Ia adalah perjalanan batin untuk memahami bahwa alam bukan sekadar objek eksploitasi. Laut, hutan, sungai, dan pesisir adalah bagian dari identitas masyarakat. Ketika alam rusak, yang hilang bukan hanya pohon atau ikan, tetapi juga ingatan, budaya, dan rasa memiliki terhadap tanah kelahiran.

Kabaena masih berdiri hari ini, di antara debu tambang dan sisa-sisa keindahan yang bertahan. Pulau itu seolah sedang bertanya kepada kita semua: pembangunan seperti apa yang sebenarnya ingin diwariskan kepada generasi mendatang?

Pertanyaan itu mungkin belum memiliki jawaban sederhana. Namun selama masih ada orang-orang yang peduli, menulis, berbicara, dan menjaga harapan, riwayat Kabaena insyaa Allah belum akan berakhir. Semoga. Aamiin

Kendari, 24 Mei 2026

–##–

* La Ode M. Aslan adalah Guru Besar Universitas Halu Oleo.