Ruang Rapuh di Antara Realisme dan Bahaya Penurunan Ambisi

Oleh: Jalal

Bill Gates pernah dianggap sebagai salah satu suara paling berpengaruh dalam gerakan global melawan krisis iklim. Bukunya tahun 2021, How to Avoid a Climate Disaster, menjadi semacam kitab panduan praktis bagi para teknokrat, ilmuwan, dan pembuat kebijakan yang percaya pada kekuatan inovasi. Namun pada penghujung Oktober 2025, Gates menulis esai baru di situs pribadinya, GatesNotes, berjudul Three Tough Truths about Climate, yang segera memicu badai kontroversi di level global. Dalam tulisan itu, ia menyerukan apa yang disebutnya ‘poros strategis’—yang kurang lebih berarti perubahan cara pandang terhadap perang melawan perubahan iklim.

Saya mendeteksi nada optimistis khas Gates masih ada, tetapi arah pesannya berubah secara signifikan. Kini ia menegaskan bahwa perubahan iklim tidak akan menyebabkan ‘kehancuran umat manusia’, menyatakan bahwa metrik suhu global terlalu sempit, dan mengajak dunia untuk berfokus pada peningkatan kesejahteraan manusia, bukan pada pengurangan emisi. Di atas kertas, gagasan ini tampak rasional. Namun dalam praktik, banyak yang menilai pendekatan baru Gates berpotensi menurunkan urgensi mitigasi dan menimbulkan pembenaran dan dalih bagi kelambanan negara-negara kaya.

Dari ‘Nol Emisi’ ke ‘Kesejahteraan Manusia’

Dalam How to Avoid a Climate Disaster, Gates dengan tegas menekankan bahwa satu-satunya tujuan yang masuk akal bagi umat manusia adalah mencapai net zero emissions. Ia berulang kali menyebut angka 51 miliar ton—jumlah gas rumah kaca yang dilepaskan ke atmosfer setiap tahun—dan menegaskan bahwa kita harus menurunkannya menjadi nol, bukan sekadar berkurang. Ia menggambarkan atmosfer sebagai bak mandi yang terus diisi air: bahkan jika aliran air diperlambat, bak tetap akan meluap. Dengan metafora sederhana tersebut, Gates menyampaikan pesan tegas: mengurangi emisi saja tidak cukup; dunia harus mengakhirinya.

Lebih jauh, Gates menempatkan inovasi sebagai kunci penyelamatan. Ia percaya teknologi dapat menurunkan apa yang disebutnya Green Premium—selisih biaya antara cara kotor dan cara bersih—hingga nol, sehingga energi terbarukan bisa bersaing dengan bahan bakar fosil. Namun di balik keyakinan teknologinya, buku itu juga menunjukkan empati terhadap ketimpangan global. Gates menulis bahwa negara-negara miskin, yang kecil kontribusinya terhadap emisi, akan menanggung beban terberat akibat kekeringan dan banjir. Karena itu, ia menyerukan agar negara kaya memimpin dalam mitigasi, sementara negara miskin dibantu beradaptasi.

Pernyataannya saat itu masih tegas: dunia harus menurunkan emisi, bukan menunda. Tetapi dalam esainya tahun 2025, nada itu berubah drastis. Gates kini menolak pandangan bahwa krisis iklim akan membawa dunia pada ‘kiamat’. Menurutnya, yang lebih penting adalah memastikan manusia tetap sehat dan makmur di dunia yang memanas. Ia bahkan menulis bahwa, jika harus memilih antara menahan kenaikan suhu sepersepuluh derajat atau memberantas malaria, ia akan memilih yang kedua.

Dengan kalimat itu, Gates menggeser sumbu debat dari mitigasi menuju pembangunan. Ia menyarankan agar kemajuan iklim diukur bukan lewat suhu global, melainkan indikator kesejahteraan manusia seperti Human Development Index (HDI). Ia percaya bahwa kesehatan dan kemakmuran adalah pertahanan terbaik terhadap iklim yang berubah.

Lantaran saya memiliki akses atas versi elektronik buku Gates, maka saya meminta NotebookLM untuk menemukan pergeseran-pergeseran pemikirannya dan meringkaskan ke dalam tabel. Hasilnya adalah sebagai berikut ini:

Aspek Sikap dalam Buku

(2021)

Sikap dalam Memo Terbaru (2025) Pergeseran
Ancaman Iklim Menggambarkan krisis sebagai bencana yang harus dihindari. Tantangan paling hebat yang pernah dihadapi manusia. Menolak pandangan “kiamat.” Tidak akan menyebabkan “kehancuran umat manusia”. Penurunan nada peringatan (Downplaying) mengenai risiko eksistensial.
Mitigasi (Emisi) Tujuan utama yang mutlak adalah mencapai nol emisi. Mengkritik terlalu banyak fokus pada tujuan emisi jangka pendek, yang mengalihkan sumber daya. Deprioritasasi mitigasi Jangka Pendek demi fokus lain.
Metrik Keberhasilan Fokus pada pengurangan 51 miliar ton emisi dan pemeliharaan suhu di bawah batas tertentu. Fokus pada kesejahteraan manusia (HDI) sebagai metrik yang lebih penting daripada suhu. Perubahan metrik Fokus dari lingkungan ke kemanusiaan.
Prioritas Pendanaan Negara kaya harus memimpin mitigasi; negara miskin perlu adaptasi (vaksin lebih penting daripada mobil listrik di Afrika). Menyerukan poros strategis untuk mengalihkan dana dari upaya iklim (yang dianggap kurang efektif) menuju pemberantasan kemiskinan dan penyakit. Formalisasi trade-off: menganggap pendanaan iklim vs. pembangunan adalah permainan jumlah nol (zero-sum) di tengah anggaran bantuan yang menyusut.
Inovasi Inovasi sangat penting, tetapi perlu didorong oleh kebijakan. Inovasi telah berhasil memangkas proyeksi emisi secara signifikan (40%), menunjukkan teknologi hampir cukup untuk menghindari “hasil yang sangat buruk”. Peningkatan optimisme teknologi yang ekstrem, mungkin mengurangi kebutuhan akan tindakan kebijakan segera.

Realisme atau Pengkhianatan terhadap Urgensi Ilmiah?

Pergeseran pandangan Gates menimbulkan reaksi luas—dan tajam. Di satu sisi, kelompok konservatif dan ‘skeptis’ terhadap iklim bersorak gembira. Tokoh-tokoh seperti Donald Trump dan komentator sayap kanan Amerika memuji Gates karena dianggap akhirnya ‘mengakui’ bahwa peringatan iklim sebelumnya berlebihan. Beberapa bahkan mengklaim kemenangan simbolik dalam ‘perang melawan alarmisme iklim’. Bagi mereka, esai Gates adalah bukti bahwa dunia tak perlu lagi khawatir soal emisi atau krisis eksistensial.

Sebaliknya, ilmuwan iklim dan pejuang keadilan iklim melihatnya sebagai kemunduran berbahaya. Michael Mann, klimatolog terkemuka, menilai tulisan Gates mirip poin pembicaraan industri bahan bakar fosil yang sudah usang. Menurut Mann, dengan menganggap krisis iklim tidak terlalu mendesak, Gates secara tidak langsung memerkuat narasi yang membenarkan kelambanan politik dan ekonomi. Katharine Hayhoe menambahkan analogi tajam: kemiskinan, kelaparan, dan penyakit ibarat ember yang berusaha kita isi, sementara perubahan iklim adalah lubang di dasar ember itu. Tanpa menambalnya—yakni tanpa mitigasi—setiap upaya pembangunan akan sia-sia.

 

George Monbiot, lewat tulisannya di The Guardian, bahkan menyebut Gates sebagai ‘penyangkal politik’ — bukan penyangkal sains — karena gagal menyinggung ketimpangan kekuasaan dan kekayaan yang sebenarnya menjadi akar dari kelambanan iklim. Ia menilai bahwa dengan menghindari pembahasan pajak karbon, subsidi bahan bakar fosil, atau peran oligarki, Gates hanya mengurusi gejala tanpa menyentuh akar masalah.

Namun tidak semua kritik bersifat total. Beberapa ilmuwan seperti Zeke Hausfather dan Chris Field mengakui ada sisi valid dari argumen Gates. Mereka sepakat bahwa dunia memang perlu lebih banyak investasi untuk adaptasi dan pembangunan, khususnya di negara miskin. Tetapi, kedua ilmuwan tersebut menolak keras dikotomi yang diciptakan Gates antara pembangunan dan mitigasi. Pembangunan dan mitigasi emisi jelas tak boleh dipandang sebagai zero sum game, dan kita bisa dan harus melakukan keduanya.

Paradoks Sang Filantropis

Gates dikenal bukan hanya sebagai pendiri Microsoft, tetapi juga sebagai filantropis besar melalui Bill & Melinda Gates Foundation—kini hanya Gates Foundation setelah sang mantan istri memutuskan untuk keluar.  Fokus utamanya selama dua dekade terakhir adalah kesehatan global—vaksin, malaria, polio, dan gizi anak. Dalam kerangka itu, pernyataannya yang lebih menekankan kesejahteraan manusia dapat dipahami. Ia melihat kematian akibat malaria dan kekurangan gizi sebagai ancaman langsung yang lebih besar daripada kenaikan suhu global.

Namun justru di sinilah paradoksnya. Keadilan iklim menuntut pandangan yang tidak hanya berfokus pada penderitaan saat ini, tetapi juga pada struktur ketidakadilan yang menciptakan penderitaan masa depan. Dengan menurunkan nada peringatan terhadap pemanasan global, Gates jelas mengabaikan dimensi waktu—bahwa penderitaan akibat krisis iklim akan berlipat ganda di masa depan dan menghancurkan capaian pembangunan yang diperjuangkannya.  Dan kita tak bisa mendiskon nilai kehidupan di masa mendatang untuk memerjuangkan kesejahteraan generasi sekarang.

Perspektif keadilan iklim juga menuntut pengakuan terhadap tanggung jawab historis negara kaya dan individu superkaya. Namun dalam esainya itu, Gates nyaris tidak menyebut soal tanggung jawab struktural itu. Ia seolah menerima begitu saja keterbatasan dana bantuan global, tanpa menyinggung mengapa dana itu terbatas—yakni karena pilihan politik untuk memotong anggaran dan memertahankan sistem pajak yang menguntungkan segelintir orang kaya. Dalam hal ini, Gates, seorang miliarder dengan kekayaan lebih dari USD115 miliar, tampak enggan mengaitkan persoalan iklim dengan redistribusi kekayaan global, dan tentu saja tidak menyebut bahwa kekayaannya itu dihasilkan dari struktur dan kultur yang timpang.

Bagi saya, ada dua risiko besar dari narasi baru Gates. Pertama, ia dapat dengan mudah disalahartikan—dan memang sudah disalahgunakan—sebagai dalih untuk menunda aksi iklim. Pernyataannya bahwa perubahan iklim tidak akan memusnahkan umat manusia memberi ruang bagi politisi populis untuk menurunkan ambisi kebijakan tanpa terlihat menyangkal sains. Padahal, seperti diingatkan banyak ilmuwan, skenario ‘tanpa kiamat’ tidaklah berarti kita bakal bebas dari bencana bertubi-tubi hingga puluhan tahun ke depan.

Kedua, pandangan Gates dapat memerkuat ilusi techno-optimism: keyakinan bahwa inovasi saja yang akan menyelamatkan kita. Ia mengutip kemajuan energi bersih dan kecerdasan buatan sebagai tanda bahwa dunia berada di jalur aman. Tetapi sains mengingatkan bahwa inovasi tidak pernah cukup tanpa kebijakan yang tegas, seperti penghentian eksploitasi bahan bakar fosil, pengenaan pajak karbon, dan perlindungan ekosistem alami. Dalam banyak kasus, kemajuan teknologi bahkan menciptakan efek rebound—penggunaan energi meningkat lantaran biayanya menurun, bukan sebaliknya.

Jika narasi Gates diterima luas, dunia bisa jatuh pada perangkap kenyamanan baru: kita merasa optimistis padahal pada kenyataannya tindakan dan hasilnya melambat. Dan itu, bagi komunitas ilmiah, adalah bahaya yang tak kalah serius dari penyangkalan iklim secara terbuka.

Dari sudut keadilan iklim, posisi baru Gates bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, ia benar bahwa masyarakat miskin harus menjadi prioritas. Di sisi lain, dengan membingkai masalah sebagai pilihan antara mengurangi emisi atau memberantas kemiskinan, ia menciptakan dikotomi palsu. Padahal, sebagaimana ditekankan oleh Hayhoe dan Mary Robinson, krisis iklim justru memerburuk kemiskinan, kelaparan, dan penyakit. Mengabaikan mitigasi berarti memerbesar penderitaan yang ingin dihindari.

Dan seperti yang telah saya nyatakan sebelumnya, pendekatan Gates mengabaikan dimensi keadilan antargenerasi. Dengan menomorsatukan kesejahteraan saat ini, ia seperti mengabaikan hak generasi mendatang untuk hidup di planet yang stabil. Seorang anak di Nigeria mungkin selamat dari malaria hari ini berkat vaksin, tetapi menghadapi ancaman kekeringan ekstrem dan krisis pangan pada usia dewasa jika suhu global naik 3°C.

Kembali ke Sains, Bukan ke Kenyamanan Palsu

Kontroversi yang terjadi setelah esai Gates mengingatkan kita bahwa dalam isu iklim, niat baik dan logika teknokratis tidak selalu sejalan dengan kebenaran ilmiah.  Sains iklim dengan tegas menunjukkan bahwa setiap sepersepuluh derajat kenaikan suhu meningkatkan risiko titik kritis sistem Bumi: mencairnya lapisan es, matinya terumbu karang, dan kegagalan panen massal. Adaptasi tentu saja penting, tetapi adaptasi memiliki batas. Pada pemanasan 3°C, ke mana kita sekarang mengarah, banyak wilayah tropis akan menjadi terlalu panas untuk bekerja di luar ruangan, dan sebagian besar ekosistem tidak dapat pulih.  Karenanya, tidak ada jalan pintas. Mitigasi bukanlah pilihan moral semata, tetapi prasyarat rasional bagi keberlanjutan pembangunan. Dunia perlu memercepat penghentian penggunaan bahan bakar fosil, memerluas energi bersih, dan membangun sistem ekonomi yang adil.

Para pejuang keadilan iklim dapat mengambil pelajaran dari kontroversi ini. Mereka tidak harus menolak pandangan Gates secara keseluruhan, tetapi harus menolak dikotomi yang ia ciptakan. Narasi yang lebih kuat harus menegaskan bahwa mengatasi kemiskinan, kesehatan, dan perubahan iklim dapat dilakukan secara bersamaan. Program elektrifikasi pedesaan dengan energi surya, pertanian tangguh iklim, dan investasi kesehatan yang ramah lingkungan adalah contoh solusi yang memberi manfaat ganda.

 

Lebih penting lagi, para aktivis keadilan iklim harus mengalihkan debat dari ‘keterbatasan sumberdaya’—yang sesungguhnya bukanlah isu karena dunia punya segala yang diperlukan untuk menangani krisis iklim—menuju ‘keberanian politik’.  Dunia jelas tidak miskin; ia hanya tidak mau menggunakan kekayaannya secara adil. IMF menghitung bahwa pada tahun 2022 lebih dari USD7 disubsidikan untuk bahan bakar fosil secara langsung maupun tak langsung.  Perkiraan IMF menyatakan bahwa di tahun 2030 angka itu bakal menjadi USD8,1 triliun. Jika angka sebesar tersebut dialihkan untuk energi bersih dan adaptasi, maka dilema antara kemiskinan dan mitigasi akan lenyap.

Gates, dengan semua pengaruh dan niat baiknya, agaknya tetaplah seorang teknokrat: ia melihat dunia melalui lensa efisiensi dan inovasi, bukan keadilan dan kekuasaan. Dalam batas tertentu, pandangannya dapat membantu mengingatkan bahwa kita tidak boleh terjebak dalam fatalisme iklim. Namun bila optimisme itu malah menumpulkan urgensi sains dan membenarkan kelambanan, maka ia justru menjadi bagian dari masalah.  Bisa jadi, dia memang kini demikian—kesan yang tak bisa saya singkirkan sejak melihat dia bersama para tech bros duduk semeja dengan Trump di bulan September lalu.

Krisis iklim bukan sekadar tantangan teknologi, melainkan ujian moral dan politik terbesar abad ini. Sains sudah jelas, dan setiap tahun keterlambatan berarti kerugian tak terhitung. Maka, sambil menghargai seruan Gates untuk meningkatkan kesejahteraan manusia di masa sekarang, dunia tidak boleh berhenti di sana. Kita harus melangkah lebih jauh—menghadapi sumber emisi, menuntut keadilan finansial, dan, mengikuti Hayhoe, menambal ‘lubang di setiap ember’ sebelum semuanya terlambat untuk generasi sekarang maupun mendatang.

Depok, 10 November 2025