Masih merasakan gerah dan panas sepanjang hari? Anda tidak sendiri. Masyarakat di seluruh penjuru dunia, juga merasakan hal yang sama. Data dari NASA GISS mencatat, pada bulan Maret 2023, kenaikan suhu di belahan bumi bagian utara telah mencapai 1,98°C dan 1,35°C secara global dibanding masa sebelum revolusi industri. Hal ini sejalan dengan tren pemanasan global hasil pengamatan selama 20 tahun terakhir yang menunjukkan suhu bumi terus meningkat. Laporan Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO terbaru menyatakan, selama 8 tahun terakhir bumi terus mencetak 8 rekor suhu terpanas. Anda harus waspada, karena tren pemanasan ini akan terus berlanjut.
Peter D Carter, Direktur Climate Emergency Institute, menyampaikan data dari NOAA yang menyebutkan bahwa tren pemanasan ini belum usai. Menurut NOAA, hal ini terkait dengan fenomena El Niño yang peluangnya mencapai 62% terjadi dari bulan depan, Mei hingga Juli 2023. Saat El Niño melanda, kenaikan suhu bumi bahkan bisa mencapai 1,5°C.
Pada saat yang hampir bersamaan, konsentrasi polusi iklim di bumi mencetak rekor harian tertinggi, yaitu 425.01 ppm pada 28 April 2023. Angka ini naik 5,85 ppm dibanding data tahun lalu yang 419,16. Data ini dipantau oleh Laboratorium Mauna Loa milik National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
Situs CO2 Records yang mendedikasikan medianya untuk terus memantau polusi iklim menyampaikan dalam editorialnya, “Saat rekor CO2 tercipta, ini bukanlah sebuah prestasi yang patut dirayakan. (Sebaliknya) Rekor ini adalah saksi (semakin parahnya kerusakan di muka bumi).”
Rekor-rekor emisi CO2 baru yang terus tercipta menjadi pengingat serius atas perubahan di bumi, hasil ulah kita, manusia, yang secara kolektif mencemari atmosfer – yang berdampak terhadap setiap makhluk hidup di biosfer. “Ketika rekor baru tercapai, kita harus prihatin dan merenungkan transformasi yang salah arah ini, dan bagaimana kita bisa membalikkan tren ini,” tulis CO2 Records.
Menurut CO2 Records, membalikkan tren polusi iklim bukanlah sesuatu yang bisa dicapai sendiri, orang per orang, namun harus dilakukan secara kolektif. “Tetapi individu, baik sendiri maupun berkelompok, bisa menciptakan berbagai inisiatif yang membantu memulihkan kesehatan planet bumi,” tambah CO2 Records.
Keterkaitan antara terus meningkatkan polusi iklim, emisi gas rumah kaca dengan peningkatan suhu bumi dan frekuensi cuaca ekstrem sudah banyak dikupas oleh Hijauku.com. Salah satunya dari Jurnal BioScience, yang menjelaskan secara gamblang hubungan antara polusi iklim dan semua krisis di muka bumi. Dalam naskah tersebut, sebanyak 11.000 ilmuwan kembali memperingatkan dunia atas bahaya krisis iklim. Mereka memaparkan data-data yang menunjukkan hubungan kausalitas antara polusi gas rumah kaca dengan krisis iklim.
Laporan tersebut memaparkan hasil pengamatan selama puluhan bahkan ratusan tahun yang menunjukkan tren kesehatan bumi yang terus memburuk. Emisi gas rumah kaca terus naik, lapisan es di benua Antartika terus menipis, tutupan hutan terus menurun, keasaman dan suhu permukaan laut terus meningkat, juga tinggi permukaan air laut beserta data-data ilmiah yang lain.
Dan yang terpenting – seiring dengan terus meningkatnya emisi gas rumah kaca, sumber polusi iklim di bumi, suhu permukaan air laut (marine heatwaves) – yang menjadi salah satu indikator pemanasan global – juga terus naik, tren bencana terkait iklim juga terus meningkat. Termasuk di Indonesia. Bencana hidrometeorologi terus mendominasi: kekeringan, gagal panen, banjir, badai, gelombang panas, cuaca ekstrem, siklon tropis, dan sebagainya terus mencabut nyawa, merusak harta benda.
Cuaca dan suhu panas ekstrem yang Anda rasakan, hanya lah satu dari beribu dampak krisis iklim. Semua berawal dari perilaku kita merusak dan mengotori bumi, menciptakan polusi yang memicu berbagai bencana yang dampaknya kita rasakan sendiri. Saatnya kembali belajar, membaca, membuka mata, hati. Saatnya beraksi atasi krisis iklim.
Redaksi Hijauku.com
[…] post Rekor Panas Tercipta, Polusi Iklim Capai Titik Tertinggi appeared first on Situs Hijau […]