Oleh: Asikin Chalifah *

Ketika berkesempatan mengunjungi salah satu Bank Sampah (BS) yang berada di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau beberapa waktu yang lampau, terlihat tumpukan buku tabungan dari para anggota BS tersebut tertata berurutan di atas meja.

Meskipun masih sangat sederhana, catatan tabungan dari para anggota dibuat dengan rapi dan tertib. BS ini bergerak dalam daur ulang sampah plastik seperti pembuatan tas yang unik, pupuk organik padat secara fermentasi dan produk-produk lainnya. Umumnya anggota BS ini adalah para pelaku yang terlibat langsung dalam kegiatan tata kelola sampah.

Meskipun bukan dibidang tata kelola sampah, salah satu primer koperasi simpan pinjam di jalan Kaliurang, Yogyakarta ini bisa dijadikan referensi dalam hal membukukan tabungan para anggotanya.

Dengan sirkulasi keuangan yang mencapai milyaran rupiah, pengerjaan buku tabungan simpan pinjam anggota yang demikian banyak saat itu dilakukan dengan cara manual, belum tersentuh oleh teknologi digitalisasi yang saat ini menjadi salah satu program pemerintah untuk penguatan operasional dan pelayanan badan usaha berbadan hukum dalam bentuk koperasi. Kendatipun demikian, pencatatan simpanan dan pinjaman para anggota dilakukan dengan cermat dan rapi, oleh karena itu sangat wajar kalau primer koperasi simpan pinjam yang digawangi oleh seorang perempuan ini beberapa tahun yang lalu mendapatkan penghargaan Adi Karya Pangan Nusantara untuk katagori badan usaha berbadan hukum dalam bentuk koperasi dari pemerintah melalui Kementerian Pertanian RI.

Penatausahaan buku tabungan milik siswa di sekolahan sebagai hasil penukaran sampah anorganik (plastik) merupakan terobosan yang sangat strategis. Bukan soal catatan besarnya uang dalam buku tabungan sebagai simbol dari motivasi ekstrinsik untuk siswa, akan tetapi sebagai wujud nyata kegiatan edukasi pada anak-anak sejak dari usia dini.

Kegiatan edukasi akan memperkuat literasi pada anak dan mungkin akan melekat hingga dewasa bagaimana menghargai soal penyediaan bahan pangan dan mengkonsumsi pangan sesuai kebutuhan serta mengelola limbah rumah tangga yang berasal dari pangan.

Edukasi pada siswa sekolah akan menumbuhkan sikap dan perilaku menghormati semesta alam sejak dari kegiatan memilah, memilih dan memanfaatkan sampah sebagai bahan baku sejak dari lingkungan rumah tangga.

Sampah dari rantai pasok konsumsi hingga kini diketahui menduduki posisi terbesar dalan menyumbang emisi Gas Rumah Kaca (GRK). Setiap pengurangan sampah di tingkat rumah tangga akan memberikan dampak lebih nyata secara kuantitatif ketimbang hal yang sama dilakukan pada kegiatan di Hotel, Restoran dan Kantin (HOREKA). Itu nilai penting mengapa dalam tata kelola sampah dari sumbernya perlu mengkaitkan dengan siswa sekolahan.

Tentu kegiatan semacam ini memerlukan pendampingan/pengawalan yang terus-menerus dan melibatkan multi pihak yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan dalam mendorong peningkatan derajat kesehatan masyarakat.

Dalam perspektif lain, terutama edukasi pentingnya pembelajaran pada siswa sekolah tentang mengkonsumsi pangan sesuai kaidah Beragam Bergizi Seimbang dan Aman (BS2SA), Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) pernah menginisiasi pembuatan percontohan di lingkungan beberapa sekolahan di Yogyakarta dengan membuat kolam untuk budi daya LELAKI SINTAL (Lele Lahan Kering Sistem Terpal), plot tanaman semusim dan ternak unggas sebagai sumber karbohidrat, protein nabati dan hewani, vitamin dan mineral yang dibutuhkan siswa agar tumbuh sehat, aktif dan produktif.

Kegiatan berlangsung ketika Provinsi DIY menjadi tuan rumah peringatan Hari Pangan Sedunia. Ketiadaan pendampingan/pengawalan dan dukungan dari para pihak terkait secara terus menerus, seperti biasa menjadikan program yang baik tidak berkelanjutan. Untuk itu, gelorakan terus gerakan literasi siswa di sekolahan menabung uang hasil dari penukaran sampah karena bersifat multifungsi dengan mengusung spirit merawat bumi supaya lestari.

–##–

* Asikin Chalifah adalah Pembina Rumah Literasi (RULIT) WASKITA, Kedungtukang, Brebes, Jawa Tengah