Tafe Sa Tonsley - Clean EnergyKeinginan dunia untuk memangkas emisi karbon (dekarbonisasi) di sektor energi sangat mungkin tercapai. Kesimpulan ini terungkap dalam studi terbaru International Renewable Energy Agency (IRENA) berjudul Perspectives for the Energy Transition: Investment Needs for a Low-Carbon Energy Transition yang diluncurkan Senin, 20 Maret 2017.

Aksi dekarbonisasi sistem energi dunia menggunakan dua pendekatan utama yaitu peralihan ke energi terbarukan dan aksi efisiensi energi. Tidak hanya memangkas polusi, dua aksi ini juga akan membawa manfaat ekonomi.

Menurut IRENA, emisi CO2 dari sektor energi dunia bisa dipangkas hingga 70% pada 2050 dan dibersihkan sama sekali pada 2060 dengan dampak ekonomi yang positif.

Studi ini diluncurkan berbarengan dengan penyelenggaran Dialog Transisi Energi Berlin yang membahas upaya peningkatan efisiensi energi dan peralihan ke energi terbarukan di negara-negara maju anggota G-20. Upaya ini jika dibarengi dengan aksi global akan mampu mengurangi emisi yang penting untuk membatasi kenaikan suhu bumi di bawah dua derajat Celsius.

Dari sisi ekonomi peralihan ke energi terbarukan dipandang penting karena saat ini, di seluruh dunia, pembangkit listrik energi terbarukan terus dibangun. Listrik dari pembangkit ini akan dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibanding listrik dari energi fosil.

Jika aksi dekarbonisasi dilakukan hingga 2050, dunia akan menikmati pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan menciptakan lebih banyak lapangan kerja baru di sektor energi terbarukan,

Untuk mencapainya dunia memerlukan investasi energi tambahan untuk dekarbonisasi sebesar US$29 triliun hingga 2050. Nilai investasi ini hanya 0,4% dari Produk Domestik Bruto dunia.
Jika digabung dengan kebijakan pro pertumbuhan yang lain, stimulus ini akan bisa meningkatkan PDB dunia sebesar 0.8% pada 2050 dan menciptakan lapangan kerja baru menggantikan lapangan kerja di energi fosil yang hilang.

Manfaat yang tidak kalah penting adalah peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui perbaikan lingkungan dan kesehatan mealui berkurangnya polusi udara.

Dunia menghasilkan 32 Gigaton polusi CO2 dari sektor energi pada 2015. Laporan IRENA menyatakan, emisi dari sektor energi ini harus terus berkurang hingga 9,5 Gt pada 2050 untuk mencegah kenaikan suhu bumi melampaui 2 derajat Celcius dari suhu masa pra-industri. Sebanyak 90% dari pengurangan emisi CO2 ini bisa diraih melalui pengembangan energi terbarukan dan peningkatan efisiensi energi.

Saat ini energi terbarukan menyumbang 24% produksi listrik dan 16% pasokan energi primer. Untuk mencapai target dekarbonisasi, energi terbarukan harus menyumbang 80% produksi listrik dan 65% pasokan energi primer pada 2050. Energi primer adalah energi dalam bentuk apa adanya yang tersedia di alam.

Redaksi Hijauku.com