Global Divestment 2016Komitmen penarikan dana dari investasi energi fosil lampaui US$5,197 triliun dalam 15 bulan terakhir.

Aksi divestasi memang belum populer di Tanah Air. Divestasi merujuk pada upaya penarikan atau pengurangan modal investor – baik individu, perusahaan, lembaga dan komunitas – dari satu jenis investasi untuk dipindahkan ke jenis investasi yang lain. Dalam kaitannya dengan divestasi energi fosil, para investor saat ini tengah berbondong-bondong menarik atau mengurangi dana mereka dari semua jenis investasi “yang berbau” energi fosil sebagai bentuk dukungan terhadap ekonomi berenergi bersih.

Satu tahun setelah Perjanjian Paris ditandatangani, nilai komitmen divestasi energi fosil ini telah mencapai US$5,197 triliun. Data ini diperoleh dari analisis terbaru Arabella Advisors, yang dirilis Senin, 12 Desember 2016. Dalam siaran pers Divest Invest terungkap, 688 lembaga dan 58.399 individu dari 76 negara telah berkomitmen menarik atau mengurangi modal mereka dari semua investasi bahan bakar fosil.

Pendukung awal divestasi energi fosil adalah lembaga dana pensiun, perusahaan asuransi serta bank dengan nilai divestasi mencapai US$4,5 triliun. Pendukung divestasi saat ini semakin beragam. Sebanyak 54% komitmen baru divestasi berasal dari universitas, yayasan dan organisasi keagamaan. Salah satu investor individu yang turut mendukung gerakan ini adalah mantan pejabat teras Mobil Oil, Lou Allstadt, yang membantu merger Exxon-Mobil.

May Boeve, Direktur Eksekutif 350.org, organisasi akar rumput yang memimpin gerakan divestasi dari bahan bakar fosil menyatakan, “Gerakan ini tak terhentikan. Lembaga dan investor harus berada di sisi yang benar dalam sejarah.”

Menurut May, industri minyak dan gas saat ini menghadapi banyak kendala mulai dari berkurangnya laba hingga meningkatnya pinjaman untuk membayar deviden. Pada saat yang sama, harga panel surya dan baterai terus turun. “Investor saat ini lebih berhati-hati. Mereka ingin mengurangi risiko di portofolio mereka,” tuturnya.

Universitas ternama dari Irlandia, Trinity College Dublin juga menyatakan komitmen mereka untuk melakukan divestasi energi fosil. Sementara lembaga inter-keagamaan baru-baru ini mengeluarkan ajakan untuk melakukan divestasi yang ditandatangani oleh 303 pemimpin agama dari 58 negara. Islamic Society of North America (ISNA), organisasi Islam terbesar di Amerika Serikat juga telah mengumumkan komitmen mereka melakukan divestasi di Konferensi Perubahan Iklim ke-22 di Maroko.

“Islam, seperti agama yang lain mengajarkan etika dan konservasi. Dalam kondisi krisis iklim seperti saat ini, penting untuk menggabungkan nilai-nilai Islam dengan aksi divestasi bahan bakar fosil dan menginvestasikan dana tersebut ke energi terbarukan dan energi bersih,” ujar Imam Saffet Abid Catovic, anggota dewan pengurus Kelompok Kerja Masjid Hijau (Green Masjid Task Force) dari ISNA. Kapan investor Indonesia mengikuti?

Redaksi Hijauku.com