Rapor lingkungan hidup Afrika bisa menjadi inspirasi bagi negara berkembang untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Rapor ini bisa dikaji melalui laporan terbaru Program Lingkungan PBB (UNEP) berjudul African Environment Outlook-3 (AEO-3), yang dirilis Kamis (21/2). Dalam laporan ini terungkap berbagai risiko kerusakan lingkungan yang mengancam kesehatan dan ekosistem. Risiko-risiko tersebut meliputi polusi udara, ancaman penyakit yang berasal dari mikroba (vector-borne diseases) dan polusi bahan-bahan kimia. Semua risiko ini harus ditangani dan menjadi prioritas bagi para pemimpin Afrika melalui kebijakan nasional maupun regional mereka.
Faktor kerusakan lingkungan menyumbang 28% penyebab berbagai penyakit yang ada di Afrika. Diare, malaria dan penyakit gangguan pernafasan adalah tiga penyakit utama yang dipicu oleh kerusakan lingkungan di benua hitam ini.
Secara khusus, polusi benda-benda partikulat – polusi udara yang berdampak besar bagi kesehatan manusia – menjadi masalah utama di wilayah miskin pedesaan. Masyarakat di wilayah ini masih kekurangan akses atas bahan bakar dan alat masak yang bersih sehingga terpapar polusi dalam ruang.
Tingkat polusi udara di Afrika, menurut laporan UNEP, bisa mencapai 10 hingga 30 kali lipat lebih tinggi di atas standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Polusi udara luar ruang diperkirakan memakan korban 800.000 jiwa di dunia setiap tahun dan 40.000 kamatian berasal dari wilayah Afrika. Di Angola, 6,9% masalah kesehatan nasional bersumber dari penggunaan bahan bakar fosil padat yaitu batu bara; di Malawi, angkanya mencapai 5,2%.
Masalah lain yang disoroti oleh laporan ini adalah menurunnya layanan dan produk obat-obatan tradisional akibat eksploitasi dan kerusakan habitat alami. Keanekaragaman hayati di Afrika menjadi sumber pangan, obat-obatan dan layanan ekosistem. Sebanyak 80% populasi pedesaan di Afrika bergantung pada obat-obatan tradisional. Di Zimbabwe, 50 spesies jamur, 25 spesies buah dan 50 spesies sayur dedaunan diambil langsung dari alam.
Selain mengancam layanan dan pasokan obat-obatan tradisional, eksploitasi sumber daya alam juga mengancam keamanan pangan, memicu merebaknya wabah penyakit karena rusaknya keseimbangan ekosistem.
Perubahan atau gangguan pada habitat alami ini berasal dari berbagai macam aktivitas manusia seperti pembendungan, kerusakan terumbu karang melalui penggunaan dinamit untuk menangkap ikan dan alih guna hutan alami dan padang rumput menjadi lahan pertanian.
Masalah limbah dan bahan-bahan kimia juga terus menghantui Afrika, mulai dari penggunaan bahan kimia di industri pertanian, masalah sampah elektronik, limbah minyak dan kimia, serta polutan-polutan organik.
Di Pantai Gading misalnya, pestisida menjadi penyebab utama (65%) gangguan kesehatan pada petani di perkotaan, petani katun dan mangga, termasuk konsumennya. Kondisi udara dan air di komunitas Ogoni di Nigeria terpolusi oleh bahan bakar fosil. Bahkan, sumber air di komunitas Nisisioken Ogale tercemar oleh bensin – yang memicu kanker – dengan level 900 kali di atas batas aman WHO.
Semua masalah di atas melengkapi masalah pemanasan global dan perubahan iklim di Afrika yang menurut penelitian IPCC terjadi lebih cepat dibanding rata-rata dunia. Temperatur di Afrika diperkirakan naik rata-rata 3-4°C pada akhir abad ini. Krisis perubahan iklim ini semakin menambah masalah kesehatan dan perekonomian.
Perubahan iklim bisa memicu merebaknya wabah penyakit seperti kolera, meningitis dan malaria di wilayah berdataran tinggi seperti Kenya, Rwanda dan Tanzania. Perubahan iklim juga mengurangi produktivitas pertanian dan peternakan, memicu krisis air dan perpindahan penduduk.
Masalah ketersediaan air, sanitasi yang higienis dan fasilitas pembuangan sampah yang memadai menjadi masalah selanjutnya. Data tahun 2010 menunjukkan, hanya 60% penduduk di wilayah Afrika sub-Sahara yang memiliki akses atas air yang aman. Sebanyak 330 juta penduduk di wilayah Afrika sub-Sahara menyumbang sepertiga dari total 884 juta penduduk dunia yang tidak memiliki akses ke air bersih. Kelangkaan air ini diperkirakan meningkat dari 47% pada 2000 menjadi 65% pada 2025.
Wilayah Afrika bagian utara adalah satu-satunya wilayah yang gagal memenuhi Target Pembangunan Milenium di bidang sanitasi. Akses atas sanitasi yang layak hanya meningkat dari 72% pada 1990 menjadi 89% pada 2008.
Afrika juga menderita kerusakan lahan yang berdampak pada menurunnya produksi pertanian, nutrisi dan kesehatan masyarakat. Selama 50 tahun sejak tahun 1950, luas lahan yang telah terdegradasi mencapai 500.000 km2. Lebih dari 60% populasi di Burkina Faso, Ethiopia, Lesotho dan Mali hidup di atas lahan yang telah rusak.
Lahan di Afrika diperkirakan menyumbang 70% dari luas lahan dunia yang dibeli atau disewa untuk memroduksi produk-produk pertanian dan biofuel yang akan berdampak pada kehidupan dan keamanan pangan penduduk lokal.
Redaksi Hijauku.com
Leave A Comment