Sebuah Resensi atas I Eat the Stars Karya Sarah Wilson (2026)
Oleh: Jalal
Perjalanan karier Sarah Wilson itu sangat jenaka, meski ia sendiri barangkali tak akan memilih kata itu. Perempuan yang membangun mereknya di atas larangan—berhenti makan gula, berhenti memercayai keriuhan media sosial, dan berhenti mengejar kesibukan yang membuat cemas—kini menulis buku yang meminta pembacanya berhenti percaya bahwa peradaban ini akan baik-baik saja. I Eat the Stars: How to Live Fully and Beautifully in a Collapsing World adalah buku keempat Wilson, dan yang paling ambisius: bukan lagi soal diet atau kecemasan pribadi, melainkan soal keruntuhan sistemik yang, ia yakini, sedang berlangsung di depan mata kita, dengan kecepatan yang menakutkan bagi siapapun yang mengamatinya dari dekat. Dua hari lalu, di sebuah acara tentang bagaimana menyikapi krisis iklim, saya menyebut sepintas buku ini, dan ada dua orang yang sangat tertarik mendiskusikannya lebih jauh. Jadi, saya memutuskan untuk menuliskan saja resensi ini.
Buku ini lahir sebagai serial di Substack, ditulis mingguan selama hampir tiga tahun sembari dunia—kata Wilson sendiri—terus-menerus menyusul argumennya lebih cepat daripada yang ia bisa tulis. Struktur serial itu tetap terasa di halaman-halaman buku: dua puluh enam bab pendek berjudul satu kata—hope, relief, truth, collapse, moloch, homecoming dan lainnya—yang melompat dari anekdot pribadi ke teori sistem kompleks, dari kutipan Dante ke komentar pembaca Substack, dari lelucon kasar ke doa. Wilson memeringatkan pembacanya sejak awal bahwa strukturnya akan terasa berantakan, dan meminta pembaca menerimanya saja sebagai cerminan dari kekacauan yang sedang dibahas. Ini adalah taruhan gaya yang berani, dan sebagian besar berhasil justru karena Wilson tidak berpura-pura menulis dari atas mimbar otoritas. Ia menulis dari tengah kepanikannya sendiri, sembari itu terjadi.
Sastra Keruntuhan
Sejak terbit Juni lalu, buku ini melesat menjadi international bestseller, dipuji Kirkus Reviews sebagai pergulatan filosofis dengan pertanyaan-pertanyaan sulit, dan disambut The Guardian sebagai bacaan yang menegaskan ketakutan terburuk kita sekaligus, anehnya, memberi kejernihan. Sejumlah kritikus lain lebih berhati-hati: ada yang menyebutnya pengantar yang cukup ramah bagi pembaca awam ke dalam wacana yang selama ini hanya dikenal kalangan aktivis iklim, tapi juga ada yang mencatat bahwa buku ini mengorbankan kedalaman demi keluasan, dan jarang berhenti untuk menguji asumsi-asumsinya sendiri. Wilson kini disebut-sebut sebagai salah satu suara paling menonjol dalam genre yang tumbuh cepat bernama ‘sastra keruntuhan’ atau collapse literature—genre yang lahir dari kegelisahan yang sama yang melahirkan Deep Adaptation Bendell delapan tahun lalu, dan yang kini punya pembaca jauh lebih luas daripada jurnal akademis mana pun.
Argumen intinya bersandar pada teori arkeolog Joseph Tainter tentang keruntuhan masyarakat kompleks: peradaban tumbuh, menjadi semakin rumit, lalu ambruk di bawah beban kerumitannya sendiri ketika manfaat marjinal dari kompleksitas tambahan berubah negatif. Wilson memetakan gejala itu ke masa kini—demokrasi yang goyah, ketimpangan yang melebar, ancaman kecerdasan buatan dan nuklir, serta krisis iklim yang tak lagi bisa dibantah—dan menambahkan konsep teori permainan bernama ‘moloch’: kekuatan tak kasatmata yang membuat aktor-aktor rasional saling mengorbankan hal yang mereka hargai demi keuntungan jangka pendek, hingga semua orang kalah bersama. Dari sana Wilson membuat lompatan yang menjadi jantung bukunya: harapan, katanya, telah menjadi candu yang melumpuhkan, dan yang lebih berguna untuk dipegang bukanlah harapan, melainkan kebenaran—kebenaran tentang seberapa buruk keadaan, sekalipun itu menyakitkan.
Kekuatan buku ini ada pada kejujurannya yang saya rasakan nyaris benar-benar tidak sopan bahkan brutal. Wilson menceritakan dirinya menangis di lantai kamar mandi, menulis bagian penutup pukul tiga pagi sambil minum wiski dan mendengarkan lagu Pink, bertemu seorang jutawan tua di Yunani yang mengaku ingin menjual kapal pesiarnya demi iklim tapi tak sanggup karena orang kaya lain tak melakukan hal serupa. Ia tidak berusaha tampil bijaksana; ia menampilkan dirinya sedang berjuang, dan justru di situlah buku ini punya daya pikat sebagai memoar, bukan sebagai risalah. Ketika ia menulis bahwa kesedihan pembaca-pembacanya, terutama yang muda, sesungguhnya adalah respons yang rasional terhadap zaman ini—bukan gangguan yang perlu disembuhkan—ia menyentuh sesuatu yang jarang dikatakan terus terang oleh penulis pengembangan-diri arus utama.
Namun di situ juga letak persoalannya. I Eat the Stars pada akhirnya tak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari genre yang membesarkan nama Wilson: swadaya atau self-help. Ia berjanji tidak akan menawarkan solusi, dan menepatinya—tapi setiap bab tetap berakhir dengan semacam pencerahan yang rapi, seolah keruntuhan peradaban adalah program retret spiritual sepuluh hari yang, jika dijalani dengan benar, akan mengantarkan pembaca ke pulang ke rumah batiniahnya. Wilson sesekali mengakui keistimewaannya sendiri sebagai perempuan kulit putih yang bisa berpindah antara Paris dan Sydney, mengutip argumen bahwa bagi banyak orang yang selama ini tereksploitasi, keruntuhan sistem global justru bisa berarti pembebasan. Tapi pengakuan itu muncul dan lewat begitu saja, tanpa benar-benar mengubah sudut pandang buku, yang tetap ditulis dari kenyamanan seorang penulis buku laris internasional yang bisa memilih untuk menyederhanakan hidup. Buku ini luas cakupannya—dengan dua ratus lebih wawancara, dari futuris energi hingga biarawati—tapi saya merasa bahwa petualangan intelektualnya yang luas itu sering perlu ditukar dengan kedalaman. Banyak ide besar disinggung sekilas lalu ditinggalkan demi anekdot berikutnya.
Belajar pada Bendell dan Svoboda
Wilson berutang besar, dan mengakuinya berulang kali, pada Jem Bendell, akademisi Inggris yang lewat makalah Deep Adaptation (2018) dan kemudian buku Breaking Together (2023) menjadi rujukan utama gerakan yang oleh banyak media kini disebut sebagai collapsology. Ia mengutip Bendell tentang bagaimana krisis akan mengubah cara kita bersosialisasi, dan tentang bagaimana keruntuhan ekonomi global, bagi mereka yang sumber airnya dirampas korporasi, bisa jadi justru sebuah kelegaan lantaran airnya mungkin kembali.
Tapi bila Bendell menulis sebagai akademisi yang membangun argumen berlapis dari sosiologi, ekonomi, dan psikologi—dengan nada yang lebih menyerupai manifesto aktivis yang menyerukan literasi kritis dan penolakan terhadap otoritas yang gagal—Wilson menulis sebagai jurnalis-selebriti yang menerjemahkan urgensi itu ke bahasa pop-spiritual yang lebih mudah dicerna, tapi juga lebih longgar argumentasinya. Breaking Together adalah buku yang mengajak pembaca berpikir ulang soal keruntuhan secara struktural; I Eat the Stars adalah buku yang mengajak pembaca merasakan keruntuhan secara personal. Keduanya penting, tapi buat saya bukanlah hal yang sama. Dan Wilson kadang terasa menjual yang kedua seolah-olah itu sudah mencakup yang pertama.
Perbandingan yang lebih menarik justru datang dari arah tak terduga: filsuf Toby Svoboda dari Colgate University, yang dalam A Philosophical Case for Ecological Pessimism (2025) membangun argumen filosofis yang jauh lebih ketat untuk posisi yang secara intuitif juga dipegang Wilson. Svoboda berpendapat bahwa pesimisme ekologis—keyakinan bahwa bencana ekologis kemungkinan besar sudah dan akan terus terjadi—adalah sikap yang secara rasional masuk akal sekaligus secara moral tepat, dan yang penting, ia menegaskan bahwa pesimisme semacam itu tidak menghalangi projek meliorisme: upaya memerbaiki keadaan yang buruk tetap punya nilai justru karena keadaan itu buruk, bukan karena akan berhasil sepenuhnya.
Svoboda menulis untuk kalangan akademis filsafat lingkungan, dengan presisi argumentatif yang menolak jalan pintas emosional. Wilson sampai pada kesimpulan yang mirip—bahwa melepaskan harapan akan hasil yang baik tak sama dengan melepaskan komitmen untuk bertindak baik—tapi ia sampai ke sana lewat pengalaman dan intuisi, bukan lewat argumen yang bisa diuji. Membaca keduanya berdampingan menunjukkan bahwa yang oleh sebagian pengamat disebut sebagai ‘penerimaan’ terhadap apa yang diserukan Bendell dan kini Svoboda sesungguhnya bukan gerakan tunggal yang seragam, melainkan konvergensi dari beberapa arah berbeda—akademik, aktivis, dan pop-spiritual—menuju kesimpulan yang serupa: bahwa berpura-pura semua akan baik-baik saja kini lebih berbahaya daripada berhenti berpura-pura.
Yang perlu digarisbawahi, dan yang sering luput dari cara buku-buku semacam ini dibingkai di media, adalah bahwa baik Bendell, Svoboda, maupun sekarang Wilson pada akhirnya tidak menyerukan keputusasaan. Vaclav Havel, yang dikutip Wilson di awal bukunya, pernah menulis bahwa harapan sejati bukanlah soal keyakinan bahwa sesuatu akan berujung baik, melainkan kepastian bahwa sesuatu itu masuk akal untuk diperjuangkan, apa pun hasilnya. Itulah yang sebenarnya dipertaruhkan ketiga buku ini: bukan penyerahan diri pada nasib, melainkan usaha keras untuk tetap bertindak dengan integritas dan kasih sayang di tengah ketidakpastian yang tak lagi bisa disangkal—untuk mengurangi penderitaan kolektif yang akan datang, bukan menambah penderitaan dengan penyangkalan yang berlarut-larut. Svoboda menyebutnya kompatibel dengan meliorisme. Bendell menyebutnya kebebasan untuk mencintai apa yang tersisa. Sementara Wilson, dengan caranya sendiri yang lebih riuh dan kadang kurang disiplin, menyebutnya kedewasaan.
*****
Buku ini ditutup bukan dengan kesimpulan, melainkan dengan adegan Wilson berjalan keluar apartemennya di Paris tengah malam, duduk di kafe langganan, dan membiarkan dirinya dilihat oleh pelayan yang mengenalnya. Itu adegan kecil, terasa remeh malah, tapi menurut saya tepat sebagai penutup: bukan janji bahwa segalanya akan pulih, melainkan bukti bahwa hidup yang penuh perhatian terhadap orang lain masih mungkin dijalani, bahkan ketika sistem besar di sekelilingnya retak. Bagi pembaca yang mencari peta jalan teknokratis untuk menyelamatkan peradaban, I Eat the Stars akan sangat mengecewakan—dan Wilson sudah memeringatkan itu sejak halaman pertama. Tapi bagi pembaca yang butuh seseorang untuk mengakui dan menyatakan, tanpa berbasa-basi, bahwa kecemasan mereka bukanlah kelainan jiwa, melainkan pertanda kewarasan sepenuhnya, buku ini menawarkan sesuatu yang luar biasa. Bukan penghiburan murahan, melainkan semacam izin untuk berduka sambil tetap bekerja sekuat mungkin.
–##–
Leave A Comment