Oleh: Jalal

Tiga puluh tahun yang saya ikuti terasa seperti seumur hidup dalam dunia keberlanjutan bisnis modern.  Pergeseran yang terjadi sungguh luar biasa. Pada pertengahan 1990-an, ketika Tembok Berlin telah runtuh dan internet baru saja lahir, dan saya baru lulus kuliah dan langsung tercebur di dunia ini, para pemimpin bisnis mulai membangun sesuatu yang ambisius, terasa seperti sebuah cetak biru global untuk keberlanjutan perusahaan. Mereka percaya bahwa dengan kerangka kerja yang tepat, komitmen yang jelas, dan kolaborasi lintas-sektor, perusahaan dapat mengatasi krisis iklim, kesenjangan ekonomi, dan pelanggaran hak asasi manusia sambil tetap mendatangkan keuntungan bagi pemegang saham mereka.

Kini, cetak biru itu terasa seperti artefak dari era yang sudah usang.  Saya seperti melihat peta lama untuk wilayah yang sesungguhnya telah berubah total. Fragmentasi geopolitik menggantikan globalisasi. Polarisasi mengikis kepercayaan terhadap institusi. Perubahan iklim bukan lagi ancaman di masa depan, melainkan kenyataan hari ini yang mengganggu rantai pasokan dan menghancurkan berbagai komunitas. Kecerdasan buatan mengubah pekerjaan lebih cepat dan mengancam angkatan kerja lama maupun baru. Dan di tengah semua ini, komitmen keberlanjutan justru diserang dari berbagai penjuru—dianggap terlalu mahal, terlalu politis, atau tidak cukup menghasilkan keuntungan.

Namun justru di tengah kekacauan inilah sebetulnya keberlanjutan menjadi lebih mendesak, bukan berkurang relevansinya, bagi perusahaan. Perusahaan yang mengendurkan komitmen keberlanjutanya sekarang justru meningkatkan risiko mereka sendiri. Mereka yang mampu merancang ulang pendekatan mereka, yaitu dengan mengaitkan keberlanjutan dengan prioritas strategis inti, membangun ketahanan terhadap guncangan, dan menghasilkan dampak nyata, bakal memiliki keunggulan dalam ekonomi yang semakin tidak dapat diprediksi ini. Jadi, pertanyaannya bukan apakah keberlanjutan masih penting, melainkan bagaimana mendesain ulang strategi untuk dunia yang telah berubah secara fundamental.

Anatomi Perubahan: Apa yang Bergeser dan Mengapa

Laporan terbaru BSR Redesigning Sustainable Business Amid Global Realignment yang ditulis oleh David Korngold bersama Aron Cramer, terbit 3 Februari 2026 lalu, menawarkan diagnosis yang mendalam tentang mengapa fondasi keberlanjutan bisnis modern sedang retak. Selama tiga dekade, arsitektur keberlanjutan dibangun di atas asumsi tertentu: pasar yang terintegrasi, kerja sama internasional yang kuat, arus informasi yang dapat dipercaya, serta keyakinan bersama bahwa sektor swasta memiliki peran penting dalam menyelesaikan masalah sosial dan lingkungan. Asumsi-asumsi ini menciptakan lingkungan yang menguntungkan untuk standar sukarela, norma global, platform multipihak, dan pengungkapan ESG.

Kini, pasti dirasakan oleh siapapun yang bekerja di bidang-bidang terkait keberlanjutan perusahaan, fondasi tersebut sedang bergeser secara dramatis. Korngold dan Cramer mengidentifikasi enam transformasi jangka panjang yang mengubah konteks operasi bisnis berkelanjutan.

Pertama, perubahan teknologi radikal sedang menciptakan ketidakpastian yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kecerdasan buatan generatif, kendaraan otonom, dan energi surya berbiaya rendah mengubah industri jauh lebih cepat daripada perubahan kebijakan pemerintah terkait keduanya. Kedua teknologi ini juga membawa peluang sekaligus risiko baru, seperti dampak lingkungan AI hingga transformasi mobilitas yang mengubah infrastruktur dan pekerjaan.

Kedua, dunia kerja, tenaga kerja, dan mobilitas jelas sedang mengalami perombakan total. AI dan otomasi mengubah struktur pekerjaan dan produktivitas. Perubahan demografi, penuaan populasi, dan pembatasan migrasi menciptakan kelangkaan talenta. Sementara itu, polarisasi sosial merembes ke dalam tempat kerja, mengikis kohesi dan kepercayaan. Perusahaan menghadapi tekanan baru untuk memerkuat ketahanan tenaga kerja, menciptakan peluang, dan memertahankan produktivitas di tengah gangguan seperti itu.

Ketiga, tatanan pasar dan sistem keuangan sedang direorganisasi. Hambatan perdagangan meningkat, terutama gegara Donald Trump yang punya ‘kebijakan’ eratik yang memorakporandakan tatanan perdagangan yang selama ini dikenal. Biaya modal naik. Kebijakan industrial dan reshoring mengubah asumsi lama tentang keterbukaan ekonomi. Peran AS dalam keuangan global berubah, dengan debat yang agaknya semakin sengit tentang masa depan dolar sebagai mata uang cadangan dan mundurnya multilateralisme. Ketidakpastian ini membuat investasi jangka panjang semakin sulit dilaksanakan.  Keberlanjutan, yang sifat investasinya hampir selalu berjangka panjang mengalami tambahan tantangan.

Keempat, legitimasi, norma institusional, dan keselarasan reputasi sedang terkikis. Kepercayaan terhadap pemerintah, sains, akademisi, media, dan masyarakat sipil menurun. Ekosistem informasi mengalami krisis akibat disinformasi, penyebaran informasi dengan partisanship yang ekstrem, dan distorsi yang semakin parah didorong perkembangan AI. Perusahaan kesulitan bertindak secara efektif dan kredibel, serta membangun kemitraan yang tahan lama ketika kepercayaan terhadap institusi runtuh.

Kelima, kerjasama global sedang terfragmentasi. Lingkungan operasi yang kohesif yang memungkinkan kerangka kerja bersama dan aksi lintas-sektor memberikan jalan kepada lanskap regulasi, politik, dan pemangku kepentingan yang berbeda-beda. Ini meningkatkan risiko, biaya, dan ketidakpastian, sambil melemahkan kapasitas kolektif untuk mengatasi isu sistemik seperti perubahan iklim dan kesehatan publik.

Keenam, dampak iklim dan alam kini bersifat langsung dan semakin parah. Perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati bukan lagi isu masa depan.  Cuaca ekstrem, gangguan rantai pasokan, dan biaya adaptasi yang meningkat sudah memengaruhi operasi, pasar, dan komunitas saat ini. Dalam kondisi seperti ini, kerangka kerja global untuk aksi iklim justru melemah, lagi-lagi terutama gegara perilaku Pemerintahan AS di bawah Donald Trump.

Gambar 1 – Enam Fondasi Keberlanjutan Bisnis yang Sedang Berubah

Sumber: https://www.bsr.org/en/reports/redesigning-sustainable-business-amid-global-realignment

Dalam konteks yang berubah ini, Korngold dan Cramer berpendapat bahwa strategi keberlanjutan yang dirancang untuk era sebelumnya memerlukan pembaruan fundamental. Mereka menawarkan lima pendekatan baru untuk keberlanjutan bisnis strategis.

Pertama, pastikan keberlanjutan menjadi prioritas perusahaan. Alih-alih memulai dengan daftar topik keberlanjutan dan mencoba menghubungkannya dengan nilai bisnis, perusahaan harus memulai dengan tujuan luhur (purpose) bisnis dan merancang pendekatan keberlanjutan yang memungkinkan pencapaian tujuan tersebut. Ini mengakarkan keberlanjutan dalam tujuan eksekutif, memusatkan perhatian pada isu yang paling penting, dan memperkuat dukungan selama periode transisi.

Kedua, hubungkan keberlanjutan dengan wawasan strategis. Tim keberlanjutan perlu menggunakan alat peramalan untuk membedakan guncangan jangka pendek dari transformasi yang bertahan lama, dan memosisikan keberlanjutan sebagai lensa untuk menavigasi volatilitas. Ini, tentu saja, melibatkan kemitraan dengan tim risiko dan strategi perusahaan untuk mengidentifikasi isu yang muncul, menguji asumsi, dan memahami ketidakpastian jangka panjang.

Ketiga, prioritaskan hasil daripada proses. Keberlanjutan bisnis terlalu sering berfokus pada kerangka kerja, pengungkapan, dan transparansi, bukan pada peningkatan kinerja nyata untuk manusia dan lingkungan. Perusahaan dapat mencapai nilai lebih besar dengan berkonsentrasi pada sejumput peluang transformatif yang menghasilkan kinerja yang dapat dibuktikan untuk kebaikan, atau pemecahan masalah, manusia dan lingkungan, yang pada akhirnya juga akan baik untuk bisnis.

Keempat, fokuskan diri untuk konfigurasi di level regional.  Alih-alih pendekatan global yang satu ukuran untuk semua, perusahaan kini perlu mengembangkan strategi, kebijakan, dan tata kelola keberlanjutan yang mencerminkan dinamika geografis dan jurisdiksi yang berbeda. Ini memerlukan penguatan kapasitas regional, peningkatan koordinasi global-regional, serta penyesuaian pendekatan dengan dinamika lokal.

Kelima, kembangkan daya tahan dalam lingkungan eksternal yang volatil. Perusahaan perlu melampaui pembinaan hubungan dengan pemangku kepentingan yang generik dan membangun strategi yang kredibel dan tahan lama yang berpusat pada nilai bisnis, nilai perusahaan, dan dampak positif untuk seluruh pemangku kepentingan. Perusahaan benar-benar perlu melihat pemangku kepentingan bukan hanya sebagai audiens tetapi sebagai mitra implementasi untuk mendukung kemajuan nyata.

Gambar 2 – Lima Pendekatan Baru untuk Keberlanjutan Bisnis

Sumber:  https://www.bsr.org/en/reports/redesigning-sustainable-business-amid-global-realignment

Laporan ini juga mencakup bagian ketiga yang krusial, soal bagaimana memastikan kelestarikan fundamental ekonomi yang benar-benar fungsional. Korngold dan Cramer memeringatkan bahwa kondisi dasar untuk ekonomi pasar yang terbuka, sah, dan dapat diprediksi sedang mengalami tekanan.  Demokrasi dan supremasi hukum yang menurun, sistem perdagangan global berbasis aturan yang terkikis, perubahan prioritas pengeluaran publik, ketidakpastian regulasi, dan menurunnya dukungan publik untuk ekonomi pasar seluruhnya berpengaruh pada kondisi ekonomi dan keberlanjutan perusahaan. Bisnis tidak bisa lagi mengasumsikan bahwa lingkungan operasi akan stabil begitu saja tanpa memiliki peran untuk fondasi ini.

Sebuah Evaluasi Kritis

Laporan yang diterbitkan oleh Business for Social Responsibility (BSR) ini, menurut saya, memiliki beberapa kekuatan yang signifikan. Yang paling menonjol adalah keberanian intelektualnya untuk mengakui bahwa cetak biru lama keberlanjutan yang lama sudah tidak lagi berfungsi. Terlalu banyak literatur keberlanjutan yang mencoba menambal sistem yang sebetulnya pecah berantakan dengan solusi yang inkremental. Korngold dan Cramer, sebaliknya, menawarkan diagnosis yang jujur tentang mengapa fondasi sedang bergeser dan apa artinya itu bagi strategi.

Kekuatan kedua adalah fokusnya pada hasil daripada proses. Selama bertahun-tahun, keberlanjutan perusahaan telah menjadi semakin birokratis.  Terlalu banyak standar dan kerangka kerja, juga terlalu banyak persyaratan pengungkapan, tetapi terlalu sedikit dampak nyata. Seruan laporan ini untuk memrioritaskan beragam peluang transformatif yang menghasilkan hasil yang dapat dibuktikan adalah koreksi yang diperlukan terhadap fetisisme proses yang telah mengikis kredibilitas keberlanjutan.

Kekuatan ketiga yang sangat menarik adalah pengakuan terhadap regionalisasi. Sudah terlalu lama, ide-ide keberlanjutan di level global seperti mengkotbahkan satu ukuran untuk semua.  Dan, sejujurnya, ukuran itu hampir seluruhnya ditetapkan di Amerika Serikat dan Uni Eropa—dan kini AS kemudian seperti meninggalkan sepenuhnya keberlanjutan lingkungan dan sosial yang dahulu mereka kotbahkan itu. Pelebaran divergensi regional jelas memerlukan perusahaan untuk bergerak menjauh dari pendekatan global tunggal dan menuju strategi yang mencerminkan dinamika regional, juga nasional dan lokal yang berbeda.

Namun, saya juga melihat bahwa laporan ini memiliki beberapa ruang untuk perbaikan.

Pertama, meskipun diagnosis dan prinsip-prinsipnya kuat, panduan implementasi yang spesifik relatif terbatas. Bagaimana sebenarnya perusahaan menjadikan keberlanjutan sebagai prioritas perusahaan dalam praktiknya? Apa yang sebenarnya bisa dilakukan untuk meramalkan kondisi global dan regional jangka panjang dalam konteks tim keberlanjutan yang kerap kekurangan sumberdaya? Contoh-contoh konkret dan studi kasus, bila diberikan, akan memerkuat manfaat praktis laporan ini.

Kedua, laporan ini sebagian besar fokus pada perusahaan besar dan multinasional. Ada sedikit diskusi tentang bagaimana usaha kecil dan menengah—yang sebetulnya merupakan majoritas dalam ekonomi global—dapat menerapkan rekomendasi ini. Tantangan dan peluang untuk UKM dalam merancang ulang keberlanjutan jelas sangat berbeda dari perusahaan yang nangkring di daftar Fortune 500.  Bila mereka masuk ke dalam rantai pasok perusahaan-perusahaan raksasa, mereka biasanya hanya menerima persyaratan, atau bakal digantikan yang lain.  Kalau kita benar-benar ingin mewujudkan keberlanjutan dunia, jelas bagaimana UKM mengubah strategi kebelanjutannya perlu mendapatkan perhatian khusus.

Ketiga, meskipun laporan menyerukan perhatian lebih besar terhadap Asia Timur, Negara-Negara Teluk, dan Global South secara umum, perspektif laporan ini sendiri tetap terasa sebagian besarnya Global North, baik dalam kerangka maupun referensinya. Suara yang lebih beragam, termasuk dari pemimpin keberlanjutan di negara-negara berkembang yang sesungguhnya semakin banyak, dapat memerkaya analisis dan membuatnya lebih relevan secara global.

Akhirnya, ada pertanyaan di benak saya tentang timing. Laporan ini diterbitkan pada saat skeptisisme terhadap ESG sedang tinggi, terutama di Amerika Serikat. Sementara Korngold dan Cramer mengakui serangan brutal ini, mereka agaknya perlu lebih langsung mendiskusikan bagaimana perusahaan menavigasi resistensi politik terhadap keberlanjutan sambil tetap memajukan agenda-agenda yang berarti bagi masyarakat dan lingkungan. Bagaimana perusahaan dapat memertahankan komitmen keberlanjutan ketika keberlanjutan dan ESG menjadi senjata politik Sayap Kanan yang benar-benar menentangnya?

Namun, keterbatasan ini tidaklah mengurangi kontribusi penting laporan ini. Bagaimanapun, ini adalah salah satu analisis paling jujur dan menyeluruh tentang krisis yang dihadapi keberlanjutan perusahaan modern yang pernah saya baca,  yang mengupayakan peta jalan yang masuk akal untuk merancang ulang apa yang kita semua inginkan.

Mengapa Laporan Ini Penting untuk Indonesia

Untuk perusahaan Indonesia, laporan BSR ini bukan hanya bacaan penting dan menarik, melainkan juga bacaan yang mendesak dan sangat relevan. Indonesia berada di semua titik simpul dan  persimpangan dari hampir setiap tren yang diidentifikasi Korngold dan Cramer.

Pertama, Indonesia adalah bagian integral dari rantai pasokan global yang sedang direorganisasi. Seiring perusahaan multinasional melakukan reshoring dan friend-shoring, Indonesia sebetulnya memiliki peluang untuk memosisikan diri sebagai pusat manufaktur dan sumberdaya yang dapat diandalkan.  Tetapi, ini hanya dimungkinkan terwujud jika perusahaan Indonesia dapat menunjukkan standar keberlanjutan yang kuat, sebagai salah satu bentuk daya saing di antara negara-negara di Asia Pasifik lainnya yang juga melihat peluang yang sama.

Kedua, Indonesia sangat rentan terhadap dampak iklim, sebagaimana yang dinyatakan dalam laporan IPCC mutakhir. Kenaikan permukaan laut mengancam kota-kota pesisir. Cuaca ekstrem mengganggu pertanian. Bencana alam bakal semakin sering terjadi. Perusahaan Indonesia tidak dapat lagi memerlakukan iklim sebagai isu masa depan, lantaran sudah menjadi risiko operasional hari ini yang memerlukan strategi ketahanan konkret.

Ketiga, transformasi digital dan AI juga akan mengubah tenaga kerja Indonesia secara dramatis. Dengan populasi muda dan ekonomi yang berkembang pesat, Indonesia juga memiliki peluang untuk memimpin dalam pekerjaan masa depan.  Tetapi, tentu saka, hanya jika perusahaan-perusahaan di sini berinvestasi dalam pelatihan ulang, transisi pekerjaan, dan penyebaran AI yang bertanggung jawab mulai dari institusi pendidikan yang melahirkan angkatan kerja baru.

Rekomendasi saya untuk perusahaan Indonesia yang membaca laporan ini: pertama, jangan mencoba mengadopsi standar dan kerangka keberlanjutan tanpa melakukan kontekstualisasi regional, nasional, dan lokal. Gunakan prinsip-prinsip laporan ini untuk merancang strategi yang mencerminkan konteks Indonesia.  Jelas, ini berarti perusahaan perlu melihat prioritas pembangunan Indonesia, tantangan tata kelola yang ada, juga peluang-peluang keberlanjutan yang terhubung dengan ekonomi regional. Kedua, fokus pada hasil berupa kinerja konkret, bukan sekadar box-ticking. Identifikasi dua atau tiga prioritas di mana perusahaan dapat menghasilkan dampak terukur untuk masyarakat. Lingkungan, dan bisnis jauh lebih bermanfaat dibandingkan memerlakukan standar dan kerangka keberlanjutan sebagai formulir. Ketiga, bangun kapasitas dalam berjejaring di tingkat regional. Keberlanjutan global tidak lagi dikendalikan dari New York atau Brussels.  Di Asia Tenggara jelas ada ruang bagi kepemimpinan keberlanjutan dari Jakarta bila ini semua dilihat sebagai peluang strategis, bukan sebagai beban kepatuhan.

Perusahaan yang merancang ulang keberlanjutan untuk dunia yang berubah akan memiliki keunggulan kompetitif dalam dekade mendatang.  Dunia sedang berubah dengan cepat, dan cetak biru lama untuk keberlanjutan tidak lagi memadai. Tetapi seperti yang ditunjukkan laporan BSR ini, kini bukan saatnya bagi perusahaan untuk bernostalgia atas masa lalu yang lebih tenang, atau sekadar menyumpahi guncangan-guncangan yang masih bakal terus terjadi.  Kini adalah saat untuk merancang ulang bisnis dengan daya tahan dan keberlanjutan sebagai pemandu. Perusahaan Indonesia yang merangkul tantangan ini akan membantu membentuk masa depan bisnis yang berkelanjutan bahkan regeneratif, bukan sekadar terombang-ambing dalam kekacauan.

–##–