Oleh: Jalal

Di suatu siang di penghujung Oktober 2025, sebuah pohon palem tua di Pondok Indah roboh menghantam mobil Lexus. Pengemudinya, Harry Danardojo, mantan direktur PT Danareksa, tewas seketika. Bukan kali pertama. Dua tahun sebelumnya, pohon palem serupa di lokasi sama merenggut nyawa pengendara motor. Di Dharmawangsa, empat hari kemudian, pohon lain tumbang. Satu korban jiwa lagi.

Respons pemerintah? Tebang. Tebang 5.000 pohon yang dianggap rawan. Tebang pohon-pohon tua yang akarnya dipotong saat pembangunan trotoar, yang bagian bawahnya dibeton, yang tak pernah diberi ruang untuk bernapas. Solusinya bukan merawat, bukan memberi ruang hidup lebih baik—tapi menghilangkan yang tersisa.

Sementara itu, sekitar 900 kilometer di sebelah utaranya, Singapura baru saja mengumumkan sesuatu yang sangat berbeda. Bukan hanya ingin menjadi Garden City, visi lama yang sudah mereka canangkan di tahun 1967, tetapi kini visinya adalah City in Nature. Bukan lagi kota penuh taman, tapi kota sebagai bagian integral dari alam. Bukan lagi hijau sebagai hiasan, tapi hijau sebagai fondasi. Target mereka? Menanam satu juta pohon tambahan, menambah 200 hektar taman, memastikan setiap rumah berjarak 10 menit berjalan kaki dari taman pada 2030. Dan mereka sangat serius dengan visi masa depan itu.

Dua kota. Dua visi. Dua takdir yang, saya khawatir, semakin melebar jaraknya.

Ketika Pohon Menjadi Musuh

Jakarta memiliki persoalan yang nyata dengan pohon-pohonnya. Tidak ada yang membantah itu. Puluhan pohon tumbang dalam beberapa pekan terakhir karena cuaca ekstrem, menyebabkan kerusakan material, gangguan transportasi, hingga korban jiwa. Pohon palem di Pondok Indah memang sudah berusia puluhan tahun—ditanam saat kompleks itu dibangun. Akarnya keropos. Strukturnya rapuh.  Tapi mari kita jujur: pohon-pohon itu tidak mati karena usia. Mereka mati karena memang dibunuh perlahan.

Lihatlah bagaimana Jakarta memerlakukan pohonnya. Pohon-pohon besar ditanam dalam pot beton, dan saat tumbuh besar, akarnya menjebol pot tersebut. Bayangkan: Anda tumbuh dalam sepatu yang terlalu kecil, kaki Anda membengkak, jari-jari kaki patah mencoba keluar, dan alih-alih diberi sepatu baru, Anda disalahkan karena merusak sepatu lama. Itulah yang terjadi pada pepohonan Jakarta.

Saat trotoar direvitalisasi di Cikini pada 2019, pohon-pohon angsana berusia puluhan tahun ditebang. Alasannya? Akarnya merusak konstruksi trotoar dan batangnya sudah keropos. Tapi pertanyaan yang tidak pernah dijawab: mengapa akarnya sampai merusak? Karena tidak ada ruang lain untuk tumbuh. Mengapa batangnya keropos? Karena mereka stres hidup di lingkungan yang tidak memberinya apa yang dibutuhkan.

Saya pernah membaca seorang analis kebijakan publik yang menilai penebangan sebagai pelanggaran terhadap upaya melestarikan lingkungan hidup, dengan perbandingan yang menohok: “Kalau kuku panjang, dipotong kukunya, jangan potong jarinya.” Jakarta memotong jarinya sendiri hingga berdarah-darah.

Yang lebih menyakitkan: luas ruang terbuka hijau Jakarta hanya 5,2% dari total luas kota pada 2023—jauh di bawah standar yang diidealkan di 30%. Bahkan dengan target membangun 21 RTH baru di 2025, Jakarta hanya akan mencapai 5,37 persen atau sekitar 3.446 hektar. Dalam kata lain, Jakarta masih berjuang mencapai seperlima dari yang seharusnya.

Singapura: Memilih Tumbuh Bersama Alam

Bandingkan dengan Singapura. Negara pulau seluas 728 kilometer persegi ini—lebih kecil dari Jakarta—memiliki keterbatasan lahan yang lebih ekstrem. Setiap meter persegi berharga. Namun mereka memilih berbeda.  Singapura kini sudah memiliki tutupan hijau 48%, dengan lebih dari 7.800 hektar ruang hijau yang terpelihara. Hampir separuh dari negara pulau itu hijau—dan mereka masih akan terus menambah. Pemerintah merencanakan penambahan 1.000 hektar dalam 10-15 tahun ke depan.

City in Nature yang mereka canangkan bukan sekadar slogan. Ini adalah komitmen nasional yang melibatkan lima kementerian—Pendidikan, Pembangunan Nasional, Keberlanjutan dan Lingkungan, Perdagangan dan Industri, serta Transportasi. Ini bukan kelas projek dinas pertamanan yang berjuang sendirian. Ini adalah strategi negara.

Pada 2030, setiap rumah tangga bakal berada dalam jarak 10 menit berjalan kaki dari taman, dengan 300 kilometer koridor alam dan 500 kilometer penghubung taman. Mereka tidak hanya menambah taman—mereka menghubungkannya, menciptakan ekosistem yang saling mendukung. Pohon tidak sendirian. Satwa liar punya koridor untuk bermigrasi. Keanekaragaman hayati dipulihkan dengan rencana pemulihan untuk 100 spesies tanaman dan 60 spesies hewan.

Dan gerakan OneMillionTrees? Sejak 2020, lebih dari setengah juta pohon telah ditanam—bukan secara serampangan, tapi dengan riset serius untuk memastikan spesies yang tepat di tempat yang tepat, dengan desain yang memungkinkan akar berkembang, dengan pemahaman bahwa pohon adalah investasi jangka panjang untuk kualitas udara, pengendalian banjir, dan pendinginan kota.

Filosofi yang Berbeda: Mengendalikan vs Berkolaborasi

Bagi saya, perbedaan mendasar antara Jakarta dan Singapura bukan soal anggaran atau teknologi. Ini soal filosofi.  Jakarta melihat alam sebagai sesuatu yang harus dikendalikan. Pohon yang akarnya tumbuh merusak trotoar? Tebang. Pohon yang batangnya miring? Tebang. Pohon yang terlalu besar? Tebang. Solusinya selalu eliminasi, bukan adaptasi. Kota adalah untuk manusia, dan alam harus menyesuaikan dengan benak sempit manusia—atau pergi.

Singapura memilih filosofi berbeda: kolaborasi. Mereka tidak melihat alam sebagai musuh pembangunan, tapi sebagai mitra sejati. Bishan-Ang Mo Kio Park, misalnya, adalah taman linear di sepanjang sungai yang dibiarkan mengalir alami, yang juga berfungsi sebagai sistem pengendali banjir—kombinasi sempurna antara Solusi Berbasis Alam (Nature-based Solutions, NbS) dan infrastruktur kota.

Gedung-gedung pencakar langit mereka hijau. The Tree House Condominium memiliki dinding vertikal setinggi 24 lantai yang memegang rekor dunia untuk dinding hijau vertikal terbesar, yang dirancang menurunkan suhu interior hingga 3°C. Dinding hijau itu bukan sekadar pajangan—ini fungsi yang luar biasa sekaligus estetika berkelas. Pohon pada dinding gedung membantu mendinginkan, menyaring udara, menyerap karbon.  Singapura menargetkan tambahan 200 hektar skyrise greenery di seluruh wilayah mereka, khususnya di pulau utama, dan menanam setidaknya 170.000 pohon tambahan di area industri pada 2030. Jadi, bahkan kawasan pabrik mereka pun bakal makin menghijau.

Harga dari Pilihan yang Berbeda

Dampak dari dua filosofi ini nyata dan terukur.  Jakarta semakin panas, semakin berdebu, semakin sesak napas—walau lantaran kini musim hujan maka kondisi itu semua belum dirasakan oleh warganya. Dengan hanya 5,2% ruang hijau, dengan pohon yang menjarang, kota ini terus kehilangan kemampuan alaminya untuk mendinginkan, membersihkan udara, menyerap air hujan. Banjir dan genangan air bakal semakin sering. Polusi udara kronis bakal lebih kerap dirasakan warganya. Dan, urban heat island effect membuat suhu Jakarta beberapa derajat lebih panas dari sekitarnya.  Dan ironinya: pohon-pohon yang seharusnya membantu kini dilihat sebagai ancaman. Kalau masih butuh perumpamaan lagi: pohon-pohon di Jakarta itu ibarat pasien yang sakit karena tidak diberi makan, alih-alih ditolong, malah disalahkan karena lemah.

Singapura, sebaliknya, menikmati kualitas udara yang jauh lebih baik, suhu kota yang lebih sejuk, sistem drainase alami yang mengurangi risiko banjir. Keanekaragaman hayati meningkat dengan keberhasilan menanam lebih dari setengah juta pohon, yang berkontribusi pada pemulihan ekologi. Burung-burung enggang kembali. Berang-berang hidup di sungai kota. Dan, ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari perencanaan dan disiplin eksekusi selama puluhan tahun.

Saya juga mau menegaskan bahwa Singapura bukanlah surga tanpa masalah. Mereka juga menghadapi dilema—kadang hewan liar seperti monyet berkonflik dengan manusia. Tapi respons mereka? Bekerja sama dengan komunitas dan organisasi konservasi untuk mengembangkan program yang memungkinkan manusia dan satwa liar hidup berdampingan harmonis. Bukan eliminasi. Koeksistensi.

Yang Jakarta Bisa Pelajari

Belum terlambat untuk Jakarta. Tapi perlu perubahan radikal dalam cara berpikir.  Pertama, berhenti memerlakukan pohon sebagai properti yang bisa diganti sewaktu-waktu atau bahkan dibuang begitu saja. Pohon berusia puluhan tahun adalah aset yang tidak bisa direplikasi dengan mudah. Fungsi ekologisnya—menyerap karbon, mendinginkan, menyaring udara—membutuhkan waktu puluhan tahun untuk berkembang penuh. Pohon angsana mampu menyerap 310 gram CO2 per jam, sementara tabebuya yang sering dijadikan penggantinya hanya mampu menyerap 24,2 gram per jam—hanya 7,8% dari kemampuan angsana. Mengganti pohon tua dengan bibit baru bukan pertukaran yang setara—ini downgrade besar-besaran.

Kedua, desain kota harus mengakomodasi pohon, bukan sebaliknya. Trotoar perlu menggunakan paving block atau grass block di area sekitar pohon agar air hujan bisa masuk dan akar berkembang. Beton di sekeliling pohon adalah hukuman mati yang lambat. Beri ruang, tanah, dan nutrisi. Beri kehidupan yang baik untuk pohon.  Ketiga, komitmen politik nyata. Jakarta mengalokasikan Rp 87,6 miliar untuk membangun 21 RTH baru dan menata 73 lokasi pada 2025—angka yang terdengar besar, tapi dibandingkan dengan komitmen Singapura yang melibatkan lima kementerian dengan target terukur hingga 2030, Jakarta masih berpikir projek demi projek pertamanan, bukan transformasi sistemik kota berkelanjutan.

Keempat, partisipasi sektor swasta dan masyarakat. Di Singapura, perusahaan real estat berkontribusi dengan melakukan biodiversity impact assessment dan mengintegrasikan solusi hijau inovatif dalam bangunan mereka. Jakarta perlu mekanisme serupa—bukan hanya regulasi, tapi insentif untuk developer yang membangun hijau dan disinsentif untuk mereka yang membandel.  Kelima, riset dan data. Singapura memiliki program riset City in Nature yang mendanai penelitian tentang ekologi urban, layanan ekosistem, dan kesejahteraan manusia dari alam urban. Jakarta perlu basis data yang solid—bukan hanya menghitung jumlah pohon, tapi memahami kesehatan mereka, fungsi ekologis mereka, kebutuhan perawatan mereka.

Momentum yang Mendesak

Waktu untuk berpikir dan bertindak benar tidaklah banyak. Setiap pohon yang ditebang hari ini adalah kapasitas mendinginkan, membersihkan udara, dan menyerap karbon yang hilang untuk puluhan tahun ke depan. Setiap meter persegi lahan yang dibeton adalah kapasitas resapan air yang hilang, yang meningkatkan risiko banjir yang terus dikeluhkan warga Jakarta.

Jakarta sedang memilih di antara dua masa depannya. Satu jalan menuju kota yang semakin gersang, panas, tidak dapat bernapas—kota yang memerangi alamnya sendiri dan dipastikan bakal kalah telak. Jalan lain menuju kota yang belajar dari sang tetangga yang jauh lebih hijau, yang memilih tumbuh bersama alam, yang memahami bahwa pembangunan berkelanjutan bukan hanya soal ekonomi dan infrastruktur, tapi tentang menciptakan ekosistem yang layak huni untuk generasi berikutnya.

Singapura menunjukkan bahwa bahkan kota-negara kecil dengan keterbatasan lahan ekstrem bisa menjadi berkelanjutan jika ada kemauan politik. Mereka membuktikan bahwa City in Nature bukan utopia.  Ini benar-benar pilihan yang bisa dicapai dengan perencanaan matang, komitmen jangka panjang, dan pemahaman bahwa alam bukanlah musuh pembangunan, tapi fondasinya.

Jakarta memiliki penduduk belasan juta jiwa plus pengunjung hariannya yang jumlahnya juga jutaan.  Mereka semua berhak menghirup udara bersih, berhak berjalan di bawah teduhan pohon, dan berhak hidup di kota yang tidak memerangi alamnya sendiri. Pertanyaannya bukan apakah Jakarta mampu—tapi apakah Jakarta mau.

Jadi, warga Jakarta, mana pilihanmu?

–##–