Membaca Peringatan Mann dan Hotez dalam “Science Under Siege”.
Oleh: Jalal
Sains dalam Kepungan
Science Under Siege: How to Fight the Five Most Powerful Forces that Threaten Our World adalah pernyataan keras dua ilmuwan terkemuka—Michael E. Mann, klimatolog dari University of Pennsylvania, dan Peter J. Hotez, ahli vaksin serta dekan National School of Tropical Medicine di Baylor College of Medicine. Terbit pada September 2025 lalu, buku ini, walau kedua penulisnya adalah profesor terkemuka, bukanlah sekadar kajian akademis, melainkan seruan perang melawan gelombang anti-sains yang mengancam kemampuan manusia menghadapi krisis eksistensial seperti perubahan iklim dan pandemi.
Keduanya menulis berdasarkan pengalaman pahit masing-masing. Mann menjadi sasaran kampanye fitnah sejak grafik hockey stick-nya menunjukkan lonjakan suhu global, lalu diserang lewat skandal ‘Climategate’ yang memelintir email pribadinya. Sementara, Hotez mengalami teror dari kelompok anti-vaksin, termasuk Robert F. Kennedy Jr. dan podcaster Joe Rogan yang menantangnya berdebat dengan iming-iming uang besar. Keduanya menerima banyak intimidasi termasuk ancaman pembunuhan. Dari pengalaman itu, mereka mengidentifikasi lima kekuatan utama penggerak anti-sains—mereka sebut sebagai Lima P: plutocrats, petrostates, pros, propagandists, dan press. Namun lebih dari sekadar diagnosis, Mann dan Hotez menawarkan strategi perlawanan berbasis transparansi, advokasi, dan literasi ilmiah.
Buku ini menegaskan bahwa sains kini benar-benar berada dalam ‘kegelapan’ yang dulu diperingatkan Carl Sagan. Yang dihadapi bukan lagi pseudosains, melainkan anti-sains yang disengaja—kampanye sistematis untuk menyesatkan publik demi kepentingan politik dan ekonomi. Namun pesan utama buku ini bukanlah analisis. Mann dan Hotez menyatakan meskipun waktu kita hampir habis, manusia masih punya kemampuan untuk bertindak. Mereka menolak sikap apatis, dengan mengingatkan bahwa kemenangan tidak datang dari kompromi terhadap kekuatan gelap, melainkan dari keberanian untuk melawannya. Mereka juga mengkritik keras dunia akademik yang sering memilih diam saat sains diserang. Dan karena pesan-pesan kuat itulah saya yakin bahwa ini adalah salah satu buku terpenting yang bisa kita rujuk terus-menerus selama memerjuangkan keberlanjutan dan keadilan dalam beberapa tahun, kalau bukan malah beberapa dekade, mendatang.
Lima Kekuatan Anti-Sains
Kekuatan Pertama: Plutokrat dan Uang Gelap. Bab pertama buku ini membuka bagaimana segelintir orang superkaya menggunakan kekayaan mereka untuk mendistorsi sains demi keuntungan jangka pendek. Melalui jaringan bermacam lembaga bayangan dan dana tersembunyi (dark money), para plutokrat ini membiayai kampanye yang melemahkan kepercayaan publik terhadap perubahan iklim. Contohnya, antara 1989–2002, Global Climate Coalition—koalisi industri minyak, batubara, dan otomotif—menghamburkan dana besar untuk menolak aksi pengurangan emisi, bahkan ketika pakar internalnya sendiri mengakui validitas sains iklim. Pada 2009–2010 saja, industri energi menghabiskan setengah miliar dolar untuk melobi agar legislasi iklim dibatalkan. Sejumlah ekonom bayaran turut memanipulasi model biaya kebijakan iklim agar tampak mahal, mengabaikan manfaatnya, lalu memasarkan hasil itu seolah-olah netral. Akibatnya, berbagai upaya iklim Amerika Serikat tersendat selama beberapa dekade.
Kekuatan Kedua: Negara Petrostate dan Politik yang Mematikan. Bab berikutnya menyoroti rezim otoriter berbasis minyak yang memanfaatkan disinformasi untuk melemahkan demokrasi. Rusia menjadi contoh utama: ketergantungan pada ekspor energi dan politik otoriternya melahirkan strategi global menyebar misinformasi. Rusia dituding berada di balik skandal ‘Climategate’ serta kampanye daring yang mendiskreditkan kebijakan iklim Hillary Clinton pada 2016. Kedua penulis juga mengkritik pengaruh besar Arab Saudi terhadap media AS dan menyebut Texas sebagai petrostate domestik yang politisinya tunduk pada kepentingan industri fosil. Menurut mereka, Partai Republik modern telah menjadi sumber serangan anti-sains, dengan perubahan iklim dan kesehatan publik sebagai sasaran utama. Di masa jabatan kedua Donald Trump, serangan itu mencapai puncak: lembaga-lembaga ilmiah seperti NOAA dipangkas anggarannya, melemahkan penelitian dan kebijakan berbasis bukti.
Kekuatan Ketiga: Pros—Kredensial yang Disalahgunakan. Pros, singkatan dari professionals, adalah ilmuwan atau profesional yang memanfaatkan gelar dan reputasi mereka untuk menyesatkan publik. Mereka menciptakan ilusi bahwa ada perdebatan sah di antara pakar, padahal konsensus ilmiah sudah jelas. Salah satu contohnya ialah Robert Malone, peneliti awal teknologi mRNA yang kemudian menyebarkan klaim keliru tentang vaksin COVID-19 di podcast populer Joe Rogan, memicu gelombang disinformasi. Dalam isu iklim, konsultan ekonomi yang dibayar industri minyak memainkan peran serupa: mereka menutupi konflik kepentingan, memberi kesan seolah ada dua sisi dalam sains, padahal tidak. Mann dan Hotez juga menyoroti Robert F. Kennedy Jr., kini Menteri Kesehatan AS, yang sejak lama memromosikan beragam teori konspirasi terkait kesehatan publik. Ia pernah menolak bukti ilmiah tentang HIV/AIDS dan menyebarkan klaim palsu bahwa vaksin menyebabkan autisme. Akibat pengaruhnya, wabah campak di Samoa tahun 2019 menewaskan puluhan anak. Bagi kedua penulis, pros seperti ini adalah pengkhianat sains yang paling berbahaya.
Kekuatan Keempat: Propagandis dan ‘Antisocial Media’. Media sosial menjadi arena utama penyebaran disinformasi. Mann dan Hotez menyebutnya ‘antisocial media,’ tempat algoritma memerkuat konten sensasional dan emosional. Propagandis memanfaatkan bot, troll, dan meme untuk menebar keraguan, memecah belah masyarakat, dan mengalihkan perhatian dari kebenaran ilmiah. Penelitian telah menunjukkan bot berperan besar dalam memerluas kampanye misinformasi COVID-19 dan iklim. Banyak akun otomatis yang kemudian ditangguhkan karena berperan dalam operasi propaganda terkoordinasi. Ketika bukti perubahan iklim makin tak terbantahkan, pola serangan berubah: dari penyangkalan menuju penundaan, pengalihan, dan penyebaran rasa tak berdaya. Semua ini menumpulkan urgensi kita semua untuk bertindak.
Kekuatan Kelima: Pers dan Runtuhnya Jurnalisme Berbasis Bukti. Ironisnya, sebagian media arus utama malah turut memerkuat krisis anti-sains melalui praktik bothsidesism—menyajikan dua sisi seolah setara, bahkan ketika salah satunya tidak memiliki dasar ilmiah. Mann dan Hotez menilai media besar seperti New York Times, Washington Post, Wall Street Journal, dan Fox News bersalah dalam hal ini. Studi terhadap media AS antara 1995–2006 menunjukkan, meski laporan IPCC telah menguatkan konsensus iklim, pemberitaan tetap menggambarkannya sebagai isu kontroversial. Akibatnya, publik melihat perubahan iklim sebagai perdebatan politik, bukan fakta ilmiah. Beberapa media bahkan memberi panggung pada teori konspirasi seperti kebocoran lab COVID-19 atau doomism iklim, menambah kabut kebingungan di ruang publik. Menurut Mann dan Hotez, jurnalisme yang seharusnya menjadi sekutu sains kini tergelincir menjadi jurnalisme klien yang tunduk pada kepentingan politik dan pasar. Karena situasi mutakhir media massa ini, para ilmuwan kehilangan mitra penting dalam membela rasionalitas dan kebenaran.
Tabel berikut ini, saya buat dengan bantuan NotebookLM, meringkaskan apa yang menjadi sumber kekuatan, taktik yang dipergunakan, serta dampak dari kerja kelima jenis aktor tersebut. Dari kolom dampak, jelas terlihat bahwa bahayanya bukanlah pada ranah sains belaka, melainkan pada kehidupan, keadilan, dan keberlanjutan kita semua.
| Aktor | Sumber Kekuatan | Taktik yang Dipergunakan | Dampak |
| Plutokrat | Kekayaan besar (immense wealth) yang dimiliki oleh individu berpenghasilan tinggi dan malevolen seperti Koch bersaudara, Elon Musk, dan Rupert Murdoch. Pendanaan melalui dark money yang sulit dilacak, yang disalurkan ke think tank dan front group libertarian. | Mendanai infrastruktur anti-sains secara masif. Mendorong narasi anti-lockdown dan anti-vaksin (misalnya, mendekati Koch bersaudara yang mendanai Great Barrington Declaration) untuk melindungi keuntungan industri bahan bakar fosil. Mempersenjatai media sosial (misalnya, Elon Musk mengubah algoritma X/Twitter untuk memromosikan disinformasi). | Mendukung agenda yang menentang transisi energi bersih. Mendorong serangan terhadap ilmuwan dan institusi (misalnya, ancaman terhadap universitas terkemuka). Membiayai kampanye anti-sains yang membahayakan kesehatan masyarakat dan mematikan. |
| Negara Petro | Ketergantungan ekonomi pada ekstraksi dan penjualan bahan bakar fosil (contoh: Rusia, Arab Saudi, dan AS di bawah administrasi saat ini). Sering beroperasi sebagai rezim otoriter. | Bekerja untuk menggagalkan tindakan iklim global (misalnya, menyabotase konferensi iklim internasional). Mempersenjatai media sosial dengan bot armies dan troll farms untuk menyebarkan propaganda anti-sains dan menciptakan konflik. Menyerang kaum intelektual dan ilmuwan untuk memertahankan kontrol politik dan agenda mereka. | Melumpuhkan upaya untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil. Mengganggu proses demokrasi di negara lain (misalnya, dugaan campur tangan Rusia dalam pemilu AS dan Climategate 2009). Mengancam stabilitas peradaban melalui penyebaran anti-sains. |
| Profesional | Memiliki kredensial ilmiah (misalnya, profesor, dokter, cendekiawan) yang mereka gunakan untuk mempromosikan pandangan yang tidak didukung. Bertindak sebagai profesional bayaran yang menerima kompensasi dari kepentingan khusus. | Memromosikan pandangan kontra-sains di media (seperti Fox News dan op-eds di Wall Street Journal). Menjual ‘obat ajaib’ (snake oil) atau klaim palsu (misalnya, Ivermectin, Hidroksiklorokuin) dengan harga tinggi, seringkali melalui industri kesehatan dan kebugaran (health and wellness influencer industry). | Memberikan legitimasi palsu pada narasi anti-sains. Merusak kepercayaan pada obat-obatan konvensional (vaksin) untuk kepentingan finansial industri suplemen. Menggunakan keahlian mereka untuk mempromosikan agenda libertarian. |
| Propagandis | Memiliki kemampuan untuk memerkuat pesan di media sosial dan platform lain (podcast, acara bincang-bincang cable news sayap kanan). Sering kali bekerja sama dengan Pros dan didanai Plutokrat. | Menyebarkan misinformasi dan disinformasi secara masif. Menggunakan teori konspirasi dan retorika emosional (misalnya, menyalahkan vaksin, teori kebocoran laboratorium COVID). Memfitnah ilmuwan dengan menggambarkan mereka sebagai ‘musuh masyarakat’ atau ‘penjahat di film kartun’ untuk menghilangkan kredibilitas. | Menciptakan echo chamber anti-sains yang luar biasa dan membingungkan diskusi ilmiah. Mendorong orang untuk menolak tindakan kesehatan publik, yang mengakibatkan kematian massal (diperkirakan 200.000 orang Amerika meninggal karena menolak vaksin COVID akibat kampanye yang ditargetkan). Mengganggu dialog yang berarti menuju solusi. |
| Pers | Kontrol atas kerajaan media besar (misalnya, Murdoch Media Empire seperti Fox News dan Wall Street Journal editorial page). Posisi sebagai penyampai informasi kepada publik. | Menerapkan ‘Netralitas Performatif’ atau ‘Keseimbangan Palsu’ (False Equivalence) dengan menyajikan anti-sains (seperti teori kebocoran lab COVID atau climate doomism) setara dengan konsensus ilmiah yang mapan. Menyebarkan propaganda anti-sains secara langsung (terutama media sayap kanan). Mengabaikan pelaporan berbasis bukti demi konten sensasional atau yang melayani kepentingan tertentu. | Merusak kepercayaan publik terhadap ilmuwan dan sains. Membuat masyarakat semakin rentan terhadap misinformasi. Memperkuat perpecahan politik. Kehilangan peran sebagai fourth estate dan sekutu kebenaran yang penting. |
Melawan Gelombang Anti-Sains
Serangan anti-sains tidak hanya menyasar individu, tetapi juga fondasi kelembagaan. Keputusan Mahkamah Agung AS tahun 2024 untuk membatalkan doktrin Chevron Deference—yang selama 40 tahun memberi wewenang badan federal menafsirkan hukum teknis—menjadi pukulan besar. Kini hakim, bukan ahli yang bersandarkan pada kebenaran ilmiah, yang menentukan interpretasi isu kompleks seperti regulasi polutan atau persetujuan obat. Langkah ini, menurut para penulis, meruntuhkan prinsip bahwa kebijakan publik harus berpijak pada keahlian ilmiah. Akibatnya, lembaga seperti FDA, OSHA, dan EPA menjadi rentan terhadap gugatan, dan regulasi berbasis sains makin sulit ditegakkan.
Oleh karenanya, dalam bagian akhir buku, Mann dan Hotez menyusun rencana peperangan untuk merebut kembali ruang publik bagi sains. Mereka menyerukan pemulihan peran sains dalam politik dan masyarakat melalui empat pilar utama:
Pertama, pendidikan dan literasi ilmiah. Masyarakat harus dilatih mengenali taktik manipulatif dan memahami dasar pemikiran ilmiah sejak dini. Pembelajaran semacam ini, yang mereka sebut ‘inokulasi informasi’, membuat warga lebih kebal terhadap misinformasi. Kedua, komunikasi publik yang jelas dan empatik. Ilmuwan perlu keluar dari menara gading dan berbicara dengan bahasa yang dapat dipahami publik. Survei menunjukkan majoritas warga AS bahkan tidak bisa menyebutkan satu pun ilmuwan terkenal yang masih hidup—cermin jauhnya jarak antara sains dan masyarakat.
Ketiga, transparansi. Menyingkap jaringan dark money dan konflik kepentingan menjadi langkah kunci. Keterbukaan data dan riset terbuka memerkuat kepercayaan publik sekaligus melemahkan propaganda. Dan, keempat, advokasi dan kebijakan. Ilmuwan dan warga harus terlibat dalam politik untuk memastikan kebijakan publik berpijak pada bukti. Ini berarti menekan plutokrat dan propagandis dengan kekuatan hukum, regulasi, dan solidaritas demokratis.
Penulis juga menekankan pentingnya perlindungan bagi ilmuwan yang menjadi sasaran serangan, seperti melalui Climate Science Legal Defense Fund yang menyediakan dukungan hukum bagi peneliti yang diintimidasi. Selain itu, mereka menyerukan tanggung jawab lebih besar bagi penerbit ilmiah dan platform digital untuk menindak disinformasi dengan cepat dan transparan. Bagi Mann dan Hotez, pertarungan ini melampaui dunia akademik; ini adalah perjuangan moral untuk masa depan berbasis bukti. Mereka mengakui waktu hampir habis, tetapi menyerukan agar kita tidak menyerah pada keputusasaan yang justru diinginkan para penentang sains.
Fellowship of the Planet
Untuk menegaskan urgensi perjuangan tersebut, Mann dan Hotez meminjam metafora The Lord of the Rings. Dan bagian tersebut membuat saya makin menyukai buku ini. Dunia industri bahan bakar fosil digambarkan sebagai Mordor modern yang menebar asap dan kekuasaan, sementara para ilmuwan dan pembela sains menjadi ‘fellowship’ yang berjuang memertahankan The Shire—simbol bumi yang damai dan layak huni. Rujukan itu membuat nada buku yang sebetulnya tajam dan tak kompromistis menjadi menarik. Penulisnya memang menolak gaya akademik yang eufemistis dan memilih kejujuran blak-blakan. Mereka menulis dengan kemarahan moral yang sahih: ketika ancamannya eksistensial, sikap netral berarti menyerah. Buku ini adalah seruan untuk bertindak—bukan sekadar laporan analisis.
Buku ini muncul di tengah eskalasi serangan nyata terhadap sains. Di paruh pertama 2025, Union of Concerned Scientists mencatat lebih dari 400 tindakan pemerintah AS yang memanipulasi atau menyensor data ilmiah. Lembaga seperti NOAA mengalami pemotongan besar, sementara RFK Jr. di Kementerian Kesehatan justru mengabaikan wabah campak yang menewaskan anak-anak dengan komentar dingin bahwa wabah itu adalah hal yang biasa saja, tidak luar biasa. Di sisi lain, perlawanan mulai tumbuh. Puluhan organisasi ilmiah menandatangani surat terbuka ke Kongres menuntut perlindungan bagi penelitian publik. Para ilmuwan mulai membentuk perkumpulan baru untuk memerkuat suara mereka dalam kebijakan. Seperti lilin dalam kegelapan yang diibaratkan Sagan, sains mencoba tetap menyala di tengah badai kebohongan. Hal yang sama, kita tahu, sekarang sedang terjadi di seluruh dunia. Ketika saya menulis resensi ini, seluruh kekuatan anti-sains sedang bekerja keras di Belem, Brasil, untuk melemahkan hasil COP30. Para profesional, propagandis dan pers hadir dengan pembiayaan dari plutokrat dan petro-state—dengan pesan sponsor yang luar biasa benderang.
Menghadapi kondisi ini, Mann dan Hotez tidak menjanjikan kemenangan, tapi menegaskan bahwa manusia masih punya pilihan: mempertahankan sains sebagai fondasi peradaban, atau menyerah pada kegelapan. Lewat buku ini mereka mengingatkan bahwa kebenaran dan integritas tidak pernah usang. Ketika daftar sekutu rasionalitas makin menipis, kita justru ditantang untuk memilih menjadi bagian dari barisan pro-sains itu. Mann dan Hotez menunjukkan siapa yang berusaha memadamkan cahaya sains, bagaimana mereka melakukannya, dan bagaimana kita bisa melawan.
Pertanyaannya kini, menurut hemat saya, bukan lagi apakah kita mampu melawan, melainkan apakah kita berani melakukannya—demi masa depan yang masih bisa diselamatkan.
Depok, 15 November 2025
Leave A Comment