Oleh: Budi Setyanto*

Satu lagi perusahaan energi masuk ke Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada Jumat (24/2/2023), salah satu anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yakni PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) mencatatkan saham di BEI.

Tujuan pelepasan saham perdana PGE tersebut untuk mengembangkan kapasitas terpasang tenaga panas bumi PGE sebesar 600 megawatt (MW) hingga 2027 mendatang. Saat ini kapasitas terpasang tenaga panas bumi yang dikelola PGE sendiri sebesar 672 MW. Melalui aksi korporasi ini, pada 2027 diharapkan kapasitas terpasang PGE meningkat menjadi 1.272 MW.

PGE menawarkan sahamnya ke publik sebanyak 10,35 miliar saham yang merupakan 25 persen dari modal yang ditempatkan, dengan harga penawaran Rp 875 per lembar saham. Sejak penawaran umum saham pada periode 20-22 Februari 2023,  PGE berhasil meraih dana sebesar Rp 9,056 triliun.

Energi panas bumi merupakan salah satu tulang punggung penyediaan energi nasional di masa mendatang mengingat potensinya di Indonesia sungguh luar biasa. Data Badan  Geologi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) yang dilansir pada 2009 menunjukkan, total potensi panas bumi di Tanah Air mencapai 28,5 Giga Watt electric (GWe), menyebar di 265 lokasi. Seandainya potensi itu bisa diwujudkan, berarti akan terjadi penghematan pemakaian bahan bakar minyak (BBM) sebesar 1,2 juta barel per hari dan hal itu tentu akan sangat membantu neraca perdagangan kita.

Potensi sebesar itu membuat 40 persen sumber daya panas bumi dunia berada di Indonesia. Namun sayang, dari potensi sebesar itu, ternyata  baru diproduksikan 2.130 MW, atau sekitar 7,6 persen dari potensi yang ada. Namun dengan angka kapasitas terpasang sebesar itu, Indonesia sudah menggeser Filipina sebagai penghasil energi panas bumi no 2 dunia. Saat ini Filipina memilki kapasitas produksi sebesar 1.870 MW. Posisi pertama masih ditempati AS dengan kapasita produksi sebesar 3.739,5 MW.

Mengingat energi panas bumi bersifat in situ sehingga tidak dapat diekspor, maka pemanfaatannya semestinya diarahkan untuk mencukupi kebutuhan energi domestik. Sifatnya yang in situ itu juga membuat pengembangan lapangan panas bumi akan dapat meningkatkan ekonomi wilayah di mana sumber panas bumi tersebut berada.

Energi panas bumi ramah terhadap lingkungan karena rendahnya emisi CO2. Bandingkan misalnya, emisi dari pembangkit listrik batu bara sekitar 975 kg/MWh, minyak menghasilkan emisi antara 668 sd 742 kg/MWh, gas alam menghasilkan emisi sekitar 519 kg/MWh maka panas bumi hanya menghasilkan emisi sebesar 63 kg/Mwh.  Selain itu untuk memproduksikan panas bumi hanya dibutuhkan lahan yang kecil sehingga sejalan dengan semangat konservasi lahan kehutanan. Karena itulah, kegiatan pengusahaan panas bumi di kawasan hutan lindung atau hutan konservasi justru akan menambah kemampuan hutan tersebut mengurangi emisi CO2. Bahkan, secara langsung mengurangi dari sumbernya, karena panas bumi menggantikan sumber energi dari fosil yang menghasilkan emisi CO2

Panas bumi dapat dimanfaatkan secara langsung (direct use) dan secara tidak langsung yaitu dengan mengubahnya menjadi tenaga listrik. Produksi listrik dari sumber energi panas bumi juga memiliki tingkat keandalan produksi yang stabil dan tidak terpengaruh oleh cuaca, harga yang stabil dan relatif tidak terpengaruh oleh situasi politik dan keamanan. Berbeda misalnya dengan pembangkit listrik dengan bahan bakar batubara ataupun BBM, kestabilan produksinya lebih rentan karena pasokan sumber energinya sangat mungkin terganggu oleh perubahan kondisi cuaca, politik maupun keamanan.

Kestabilan ini membuat listrik dari panas bumi berpotensi menjadi base load penyediaan listrik bagi masyarakat oleh Perusahaan Listrik Negara. Yang dimaksud dengan base load adalah, ketika penggunaan listrik berada pada titik terendah, misalnya saat lebaran, maka semua pembangkit yang menggunakan BBM dan batubara dimatikan, namun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP)  sebagai base load tetap hadir dengan kapasitas penuh.  Jika nanti kebutuhan meningkat maka pembangkit yang lain baru mulai dinyalakan lagi.

Dengan 13 WKP yang dimilikinya dan potensi cadangan mencapai 5.000 MW, maka sangat memungkinkan bagi PGE untuk meningkatkan kapasitas produksi melalui kerja keras dan kerja cerdas, sembari menyingkirkan berbagai hambatan yang ada. Peningkatan produksi ini tidak hanya akan membawa PGE sebagai penghasil energi panas bumi terbesar dunia, juga akan memberi kontribusi pada peningkatan produksi energi Pertamina secara keseluruhan. Sebagaimana diketahui saat ini Chevron masih merupakan perusahaan penghasil panas bumi terbesar dunia dengan kapasitas terpasang 1.300 MW, di mana 635 MW atau hampir separuhnya  dihasilkan Chevron di Indonesia.

Sebagaimana tertuang dalam kebijakan energi nasional, pemerintah berkomitmen untuk mengurangi konsumsi minyak bumi dan meningkatkan penggunaan sumber energi lainnya sebagai penyeimbang. Sesuai dengan Cetak Biru Perencanaan Energi 2006-2025, pada 2025 peran minyak dalam bauran energi dikurangi hingga 30 persen, sementara penggunaan panas bumi akan dinaikkan hingga 5%. Dengan cetak biru ini, pada 2025 sebenarnya diharapkan pembangkit tenaga listrik panas bumi dapat menyumbang 9.500 MW. Namun 2025 tinggal dua tahun lagi, dan kapasitas terpasang PLTP nasional baru mencapai 2.130 MW.

Padahal terwujudnya pengembangan energi panas bumi sebagaimana ditargetkan akan membantu mewujudkan dua sasaran pemerintah sekaligus, yaitu pengurangan ketergantungan terhadap BBM dan peningkatan diversifikasi energi. Pengembangan energi panas bumi dapat mengurangi pemakaian BBM yang perhitungannya dapat ditelusuri dari pemakaian BBM pada Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Untuk membangkitkan energi listrik sebesar 1 MW diperlukan BBM sebesar 1,8 barel/jam. Sehingga untuk 1.000 MW listrik yang dibangkitkan dengan energi panas bumi akan menghemat sekitar 43.000 barel/hari atau sekitar 14,7 juta barel/tahun. Dari sinilah muncul angka penghematan BBM 1,2 juta barel per hari bila potensi sebesar 28,5 Giga Watt berhasil diwujudkan, sebagaimana disampaikan di awal tulisan ini.

Energi panas bumi sesungguhnya merupakan jawaban di tengah sulitnya mendapatkan temuan minyak dalam skala raksasa (big fish). Dengan keunggulan yang dimilikinya, energi panas bumi bisa mengurangi ketergantungan kepada energi fosil yang polutif, sekaligus dapat menjadi salah satu solusi energi yang membawa Indonesia kepada ketahanan dan kemandirian energi secara nasional.

–##–

* Penulis adalah pemerhati lingkungan dan energi bersih. Penulis bisa dihubungi melalui surat elektronik:bsetyanto61@gmail.com