Hal ini disampaikan secara gamblang dalam laporan “Climate Change 2022: Mitigation of climate change” yang disusun oleh Kelompok Kerja III IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change ) atau IPCC Working Group III. Laporan ini telah disetujui oleh 195 negara anggota IPCC, Senin, 4 April, 2022.

Menurut IPCC, pada periode 2010-2019, rata-rata emisi gas rumah kaca global tahunan – yang memicu pemanasan global dan krisis iklim – berada pada tingkat tertinggi dalam sejarah manusia. Namun laju emisi gas rumah kaca global melambat walau tidak berkurang. Tanpa pengurangan emisi segera dan mendalam di semua sektor, membatasi pemanasan global hingga 1,5°C tidak dapat dicapai.

Dalam skenario IPCC, emisi gas rumah kaca global mencapai puncak (peaked) paling lambat sebelum tahun 2025, dan pada saat yang sama dikurangi sebesar 43% pada tahun 2030 untuk membatasi pemanasan hingga sekitar 1,5°C (2,7°F). Emisi metana juga perlu dikurangi sekitar sepertiganya. Laporan IPCC memperingatkan, bahkan jika dunia bisa mewujudkan target pengurangan emisi ini, peluang dunia – untuk sementara – melampaui ambang batas suhu 1,5°C tidak bisa dihindari, walau suhu kemudian menurun pada akhir abad ini.

“Sekarang atau tidak sama sekali, jika kita ingin membatasi pemanasan global hingga 1,5°C (2,7°F),” ujar Jim Skea, Co-Chair Kelompok Kerja III IPCC. “Tanpa pengurangan emisi segera dan mendalam di semua sektor, target itu tidak mungkin tercapai.”

Menurut laporan IPCC suhu global akan menjadi stabil jika emisi karbon dioksida dunia bisa mencapai net-zero. Untuk membatasi kenaikan suhu bumi hingga 1,5°C (2,7°F), net-zero karbon dioksida harus dicapai secara global pada awal 2050-an; sementara untuk 2°C (3.6°F), pada awal 2070-an.

Laporan ini juga menggarisbawahi bahwa untuk membatasi pemanasan global hingga sekitar 2°C (3,6°F), emisi gas rumah kaca global harus mencapai puncaknya paling lambat sebelum tahun 2025, dan dikurangi seperempatnya pada tahun 2030.

Solusi Tersedia

Membatasi pemanasan global memerlukan transisi besar di sektor energi. Penggunaan bahan bakar fosil harus turun drastis, sementara peralihan ke sumber energi listrik (elektrifikasi) meluas, efisiensi energi harus meningkat, juga penggunaan bahan bakar alternatif (seperti hidrogen).

Kabar baiknya, dunia memiliki opsi di semua sektor untuk setidaknya mengurangi separuh emisi pada tahun 2030. Menurut data IPCC, sejak 2010, telah terjadi penurunan biaya energi matahari, angin dan baterai secara berkelanjutan hingga 85%. Pemerintah di seluruh dunia juga mengeluarkan berbagai kebijakan dan undang-undang yang meningkatkan efisiensi energi, mengurangi laju deforestasi, dan mempercepat penyebaran energi terbarukan.

“Melalui kebijakan, infrastruktur, dan teknologi yang tepat – yang memungkinkan perubahan gaya hidup dan perilaku masyarakat – kita akan bisa mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 40-70% pada tahun 2050,” ujar Priyadarshi Shukla, Co-Chair Kelompok Kerja III IPCC. “Perubahan gaya hidup ini juga terbukti dapat meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan kita.”

Peluang Mitigasi di Perkotaan

Kota dan wilayah urban lainnya juga menawarkan peluang signifikan untuk pengurangan emisi. Hal itu bisa dicapai melalui pengurangan konsumsi energi (dengan menciptakan kota yang kpmpak dan bisa diakses dengan berjalan kaki), elektrifikasi transportasi yang dikombinasikan dengan sumber energi yang rendah emisi, serta meningkatkan penyerapan dan penyimpanan karbon melalui alam. Baik untuk kota-kota yang telah mapan, yang tengah berkembang pesat, ataupun kota-kota baru.

Jim Skea menyoroti peluang untuk menciptakan bangunan nol energi atau nol karbon di hampir semua negara. “Menangkap potensi mitigasi pada bangunan menjadi sangat penting dalam dekade ini,” tuturnya.

Peluang Mitigasi di Industri dan Kehutanan

Mengurangi emisi gas rumah kaca di sektor industri bisa dicapai melalui penggunaan bahan baku secara lebih efisien, menggunakan kembali dan mendaur ulang produk, serta dengan meminimalkan limbah. Menurut IPCC, dunia juga terus mencoba memproduksi bahan dasar, seperti baja, bahan bangunan, dan bahan kimia yang meminimalisir bahkan menolkan emisi gas rumah kaca.

Sektor industri menyumbang sekitar seperempat dari emisi gas rumah kaca global. Upaya mencapai net zero masih menjadi tantangan bagi industri global. Upaya itu memerlukan proses produksi baru, pasokan listrik yang rendah dan nol emisi, penggunaan energi hidrogen, dan jika perlu, melakukan penangkapan dan penyimpanan karbon.

Sektor pertanian, kehutanan, dan penggunaan lahan lainnya dapat menyumbang pengurangan emisi skala besar namun juga berpotensi menghilangkan atau menyimpan karbon dioksida dalam skala besar. Namun, aksi mitigasi di sektor lahan tidak dapat mengkompensasi penundaan pengurangan emisi di sektor lain. Karena selain untuk mencegah krisis iklim, aksi mitigasi di sektor lahan ini juga bertujuan untuk melestarikan keanekaragaman hayati, membantu kita beradaptasi dengan perubahan iklim, mengamankan mata pencaharian, makanan dan air, serta pasokan kayu bagi masyarakat.

Kebutuhan Investasi

Laporan ini melihat dunia memiliki modal dan likuiditas yang cukup untuk menutup kesenjangan investasi dalam pengurangan emisi gas rumah kaca. Namun, hal itu bergantung pada sinyal yang jelas dari pemerintah dan komunitas internasional, termasuk melalui penyelarasan yang lebih kuat antara keuangan dan kebijakan di sektor publik.

“Produk Domestik Bruto (PDB) global hanya akan turun beberapa poin persentase lebih rendah pada tahun 2050 jika dunia beraksi membatasi pemanasan global hingga 2°C (3,6°F) atau lebih rendah, dibandingkan jika mempertahankan kebijakan saat ini. Perhitungan ini belum memperhitungkan manfaat ekonomi dari pengurangan biaya adaptasi perubahan iklim,” ujar Priyadarshi Shukla dalam rilis IPCC.

Mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Menurut laporan IPCC, aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yang dipercepat dan adil, sangat penting untuk mewujudkan tujuan pembangunan berkelanjutan. Ada sejumlah pilihan aksi iklim yang mampu menyerap dan menyimpan karbon dan – pada saat yang sama – membantu masyarakat mengurangi dampak perubahan iklim. Misalnya, menciptakan jaringan taman, ruang terbuka hijau, lahan basah dan sistem pertanian di perkotaan yang dapat mengurangi risiko banjir dan mengurangi efek pulau panas atau urban heat island.

Aksi mitigasi di sektor industri juga dapat mengurangi kerusakan lingkungan, meningkatkan kesempatan kerja dan usaha. Elektrifikasi dengan energi terbarukan dan pergeseran ke transportasi umum/massal juga bisa meningkatkan kesehatan, pemerataan ekonomi dan lapangan kerja.

“Perubahan iklim adalah hasil dari gaya hidup, pola konsumsi, produksi, penggunaan energi dan lahan yang tidak berkelanjutan selama lebih dari satu abad,” ujar Jim Skea. “Laporan ini menunjukkan cara kita beraksi saat ini untuk mewujudkan dunia yang lebih adil dan berkelanjutan.”

Redaksi Hijauku.com