Oleh: Swary Utami Dewi *

Pada awalnya sederhana. Di satu sisi ada Program Merdeka Belajar bagi pelajar dan mahasiswa, yang diluncurkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Di sini salah satu yang melaksanakan adalah Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gajah Mada (UGM). Di sisi lain ada gerakan penyadaran dan aksi mengatasi krisis iklim yang sudah sekian lama dibesut oleh The Climate Reality Project (TCR) Indonesia. Bertemulah dua lembaga ini untuk melahirkan dua perkuliahan kreatif dalam konteks Future Skills, yakni Green Future Planet Leaders (GPL), yang diampu Puji Rianti, serta Youth Leaderships Course on Climate Crises (YLCCC).

Akan halnya YLCCC, kelas ini ditujukan bagi kaum muda, dalam hal ini mahasiswa, yang tertarik untuk mendapatkan wawasan dan berbagai ketrampilan terkait Future Leader and Organization (FLO) berbasis lingkungan hidup, pembangunan berkelanjutan, ketahanan terhadap krisis iklim. Di sini, diajarkan berbagai pengetahuan seputar dasar kepemimpinan dan organisasi, identifikasi dan pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan implementasi, design thinking, perilaku organisasi, pengelolaan proyek, dinamika organisasi, literasi digital, pengetahuan dasar manajemen sumber daya manusia, serta ketrampilan virtual lintas budaya.

Fisipol UGM melakukan penjaringan mahasiswa. Mereka yang terpilih lalu menjadi mahasiswa peserta perkuliahan YLCCC. Ada hampir seratus mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia yang berpartisipasi. Juga ada beberapa mahasiswa Indonesia yang sedang berkuliah di luar negeri. Untuk materi perkuliahan, TCR Indonesia yang berperan merancang. TCR Indonesia juga menyediakan dosen pengampu/koordinator perkuliahan dan dosen pemateri. Dalam hal ini, dua Climate Leaders, yakni Swary Utami Dewi dan Dino Veza bertindak sebagai dosen pengampu. Juga ada 12 mentor yang membantu para mahasiswa belajar interaktif di kelompok. Mereka adalah Michelle Natasya Gunawan, Dara Krisanti S. Katili, Lady Zaenab Miftadi, Hanna Wita Astaranti, Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok, Sheila Noor Baity, Yessica Levani Widha, Samantha Aulia Ramadhanti, Mauriza Arivia Azmi, Muh. Mahdi, Alif Yusuf Vicaussie, serta Anggi Nurqonita. Para mentor ini merupakan Climate Leader muda yang sudah cukup aktif bergelut dalam isu-isu terkait. Dengan adanya mentor-mentor yang berusia sepantaran para peserta, diharapkan tercipta suasana belajar yang nyaman, rileks dan interaktif antara mentor dan mentee-nya.

Perkuliahan ini sendiri dilakukan setiap Sabtu, mulai tanggal 21 Agustus sampai 28 September 2021. Di setiap Sabtu tersebut, ada tiga materi yang diberikan para pengajar. Lalu, sesudah kuliah kelas selesai, ada periode di mana para mahasiswa yang terbagi dalan 9 kelompok melakukan aksi nyata atau Act of Leadership. Maka berbagai bentuk aksi dilakukan 9 kelompok ini. Ada yang menggelar webinar. Beberapa tema webinar tersebut adalah sustainable fashion atau eco fashion, sampah makanan dan pengolahannya menjadi pupuk, sampah organik, serta carbon footprint. Ada pula yang melakukan kampanye melalui Instagram. Juga ada yang mengelola website untuk isu perubahan iklim.

Pada Sabtu, 20 November 2021, dilaksanakan pertemuan terakhir dengan para mahasiswa perkuliahan YLCCC. Setiap kelompok memberikan paparan mengenai aksi kepemimpinan yang sudah dilakukan tersebut di atas. Masing-masing juga menceritakan pelajaran penting apa yang didapatkan saat berlatih merencanakan dan melakukan aksi-aksi kepemimpinan. Ada yang menyadari bahwa untuk berkelompok tidaklah mudah dan perlu upaya untuk menjaga komitmen. Ada yang mengakui baru kali ini menggelar webinar dan karenanya belajar banyak dari proses act of leadership ini. Juga ada yang nampak dengan cepat bisa belajar mengadaptasi kondisi di kelompoknya yang beragam, untuk kemudian melakukan kerjasama dengan kelompok lain. Sementara untuk isu iklim, pembangunan berkelanjutan serta lingkungan hidup, rata-rata mengakui mendapatkan pengetahuan dan wawasan baru yang kemudian mulai mereka terapkan dari diri sendiri. Meski perkuliahan telah berakhir, beberapa kelompok mengemukakan komitmen untuk melakukan kerja-kerja lanjutan. Misalnya tetap melanjutkan media sosial yang sudah dikelola selama melakukan proses act of leadership.

Berakhirnya perkuliahan YLCCC ini memang bukan akhir dari perjalanan. Kepada para mahasiswa, Amanda Katili, yang menjabat Direktur CRP Indonesia, berharap tetap ada semangat untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai melalui perkuliahan ini. Bahkan diharapkan keterlibatan mereka dengan CRP Indonesia semakin erat. Ini tentunya himbauan yang tepat. Tercatat beberapa dari peserta perkuliahan juga sudah mengikuti Global Training 2021 yang diselenggarakan oleh kantor pusat The Climate Reality Project pada Oktober 2021 lalu.

Memang tidak semua menunjukkan komitmen yang sama. Namun lebih dari 60 persen tetap menunjukkan semangat untuk makin menjejakkan kaki lebih dalam dalam untuk menggerakkan isu-isu perubahan dan krisis iklim. Paling tidak sudah dimulai ‘walk the talk“, dari diri sendiri dan lingkungan terdekat. Lalu ke depan, mereka diharap mampu melebarkan sayap aksi-aksi kepemimpinan dalam berbagai bentuk dan tingkatan. Memang merekalah harapan masa depan Indonesia dan dunia untuk membuat kondisi bumi ini semakin baik dan selalu layak huni untuk semua.

–##–

* Swary Utami Dewi adalah Climate Leader dan anggota Board Kawal Borneo