Oleh: Asikin Chalifah *

Meskipun bukan merupakan hasil kajian ilmiah dan sebatas hanya sebagai pengamatan saja, postingan produk-produk pelaku UMKM di berbagai WhatsApp Group (WAG) dan media sosial menandakan bahwa ada persoalan dalam pemasaran yang dihadapi oleh pelaku UMKM, seperti halnya persoalan-persoalan lain yang dihadapi oleh pelaku UMKM selama ini yang terkait dengan penyediaan bahan baku serta akses terhadap modal usaha, teknologi dan peningkatan kemampuan SDM pelaku UMKM. Indikasi yang terkait dengan persoalan pemasaran produk-produk pelaku UMKM diperkuat juga dengan kehadiran tema-tema yang dikemas dalam seminar, lokakarya dan FGD baik secara virtual maupun non virtual yang ditawarkan melalui berbagai WAG dan media sosial yang terkait dengan pemasaran produk-produk pelaku UMKM baik untuk pasar domestik maupun global, termasuk penawaran melalui sekolah ekspor. Kegiatan-kegiatan semacam itu perlu diikuti oleh pelaku UMKM, akan tetapi harus selektif dengan memilih kegiatan yang secara langsung dapat menguatkan literasi berbisnis pelaku UMKM. Meskipun demikian, dapat dimaklumi bahwa pemostingan produk-produk pelaku UMKM melalui berbagai WAG dan media sosial juga merupakan bagian dari strategi promosi seperti halnya keikutsertaan pelaku UMKM dalam kegiatan-kegiatan pameran, membagikan contoh produk, brosur dan kartu nama pelaku UMKM.

Sejauh ini, respon konsumen terhadap penawaran produk-produk pelaku UMKM melalui WAG dan media sosial sangat beragam, ada yang tertarik dan melanjutkan dengan membangun komunikasi di luar ruang publik, dan tidak sedikit juga yang tidak tertarik dan mungkin hanya sebatas sebagai informasi untuk memperluas wawasan saja. Bisa jadi karena untuk saat ini dengan terjadinya pandemi COVID-19 sebagai bencana nasional non alam yang berdampak pada bidang ekonomi yang memunculkan menurunnya daya beli masyarakat mengharuskan masyarakat tertentu sungguh-sungguh mengedepankan kebutuhan yang bersifat prioritas seperti dalam penyediaan bahan pangan termasuk air bersih dan kebutuhan-kebutuhan lain untuk meningkatkan kesehatan. Kebutuhan-kebutuhan ini dalam teori piramida kebutuhan Abraham Maslow termasuk dalam kebutuhan dasar manusia. Di unit-unit usaha yang masuk kategori ini seperti makanan siap saji dan olahan pangan berkemas serta produk-produk lain untuk meningkatkan kesehatan yang demikian banyak pesaingnya, pelaku UMKM harus secara terus menerus melakukan kreasi dan inovasi untuk mengamankan pelanggan setianya, semisal dengan memasarkan produknya melalui toko online atau marketplace. Sebagai ilustrasi seperti halnya pada unit usaha ayam goreng merek tertentu yang tersebar di berbagai kota di Indonesia yang selama ini laris dengan keunggulan atau kelebihan di soal rasa dan harga yang relatif murah, harus banting setir dengan melakukan diversikasi horizontal dengan menyediakan tambahan menu ayam geprek yang ternyata menjadi andalan dari unit usaha sejenis yang bisa jadi menjadi pesaingnya.

Untuk usaha-usaha lain terutama di sektor pertanian seperti pengusahaan tanaman unggulan yang memerlukan durasi panen yang relatif lama dengan kebutuhan modal usaha yang besar dan produk yang memiliki karakteristik, memang dibutuhkan kesabaran dan keuletan pelaku UMKM terkait dengan kehadiran pemodal maupun dukungan dari pemerintah dalam penyediaan skema kredit program maupun kredit komersial. Secara konsepsi, dalam rantai pasok pangan, terlebih dahulu diketahui peluang pasarnya oleh pelaku UMKM baru melakukan produksi, bukan memproduksi dulu kemudian kebingungan dalam memasarkan hasilnya. Terlebih untuk produk-produk pertanian yang memerlukan penanganan khusus karena dihasilkan dalam jumlah besar, sebagian besar dihasilkan di perdesaan dan produk yang mudah rusak dalam hitungan jam dan hari.

Untuk itu, apapun unit usaha yang dijalankan oleh pelaku UMKM dalam koridor ekosistem usaha dari hulu hingga hilir harus menjalin kerjasama/kemitraan usaha yang saling menguntungkan dengan pelaku usaha yang telah maju, mandiri dan modern sebagai penyerap produk-produk pelaku UMKM maupun sebagai off taker untuk pasar dalam negeri dan luar negeri. Untuk pemenuhan ceruk pasar global, barangkali bisa belajar dari pengalaman salah satu perusahaan swasta yang bergerak di hilirisasi pangan segar asal tumbuhan, dimana diperlukan tidak kurang 20 perizinan termasuk yang terkait dengan perizinan keamanan dan mutu pangan segar dan olahan pangan.

–##–

* Pembina Rumah Literasi (RULIT) Waskita, Kedungtukang, Brebes, Jawa Tengah