Setelah mencetak rekor penurunan emisi CO2 akibat pandemi Covid-19, konsentrasi emisi CO2 dunia kembali melonjak dan mencetak rekor baru. Rekor ini adalah rekor tertinggi dalam jangka waktu 3,6 juta tahun terakhir. Data ini disampaikan oleh National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) hari ini, 7 April 2021.

Rata-rata konsentrasi emisi karbon dioksida (CO2) di permukaan bumi – yang dikumpulkan dari berbagai lokasi pengambilan sampel jarak jauh NOAA – mencapai 412,5 PPM (parts per million) pada tahun 2020 atau naik 2,6 PPM. Sejak tahun 2000, rata-rata konsentrasi emisi CO2 global telah naik sebesar 43,5 PPM atau meningkat 12%.

Beban CO2 di atmosfer sekarang setara dengan saat kondisi Periode Hangat Pertengahan Pliosen yang terjadi sekitar 3,6 juta tahun yang lalu. Saat itu konsentrasi karbon dioksida berkisar antara sekitar 380 hingga 450 PPM.

Pada saat itu juga, permukaan laut lebih tinggi sekitar 23,8 meter dibanding level permukaan laut saat ini. Sementara suhu rata-rata mencapai 4 derajat Celcius lebih tinggi dibanding masa pra-industri, dan penelitian menunjukkan, hutan besar yang dulu menempati wilayah Arktik kini telah berubah menjadi tundra.

“Aktivitas manusia mendorong perubahan iklim,” ujar Colm Sweeney, asisten wakil direktur Global Monitoring Lab. “Jika kita ingin mencegah dampak terburuk, kita harus fokus pada pengurangan emisi bahan bakar fosil mendekati nol – dan bahkan kita masih perlu mencari cara untuk menghilangkan gas rumah kaca dari atmosfer lebih banyak lagi.”

Laboratorium Pemantauan Global (Global Monitoring Laboratory/GML) milik NOAA melakukan pengukuran dengan sangat akurat atas tiga gas rumah kaca utama, karbon dioksida, metana, dan dinitrogen oksida, dari empat pusat observatorium di Hawaii, Alaska, Samoa, dan Kutub Selatan.

Data tersebut digabungkan dengan sampel yang dikumpulkan oleh sukarelawan di lebih dari 50 lokasi pengambilan sampel lain di seluruh dunia. Pengukuran ini kemudian dikolaborasikan dalam Global Greenhouse Gas Reference Network (Jaringan Referensi Gas Rumah Kaca Global) dan menjadi referensi penting yang digunakan secara luas oleh peneliti iklim internasional.

Polusi Metana Juga Melonjak

Analisis sampel yang dikumpulkan tahun 2020 juga menunjukkan lonjakan signifikan beban metana di atmosfer. Metana adalah gas rumah kaca yang jumlahnya jauh lebih sedikit namun 28 kali lebih kuat daripada CO2 dalam memerangkap panas selama rentang waktu 100 tahun.

Analisis pendahuluan NOAA menunjukkan peningkatan metana di atmosfer sebesar 14,7 PPB (parts per billion) di tahun 2020, yang merupakan peningkatan tahunan terbesar yang tercatat sejak pengukuran sistematis dimulai pada tahun 1983.

Beban rata-rata global metana di Desember 2020, bulan terakhir dimana data telah dianalisis, adalah 1892,3 PPB atau meningkat sekitar 119 PPB atau baik 6% sejak tahun 2000.

Metana di atmosfer dihasilkan oleh berbagai sumber, seperti produksi dan penggunaan bahan bakar fosil, pembusukan bahan organik di lahan basah, produk sampingan dari peternakan. Sulit untuk menentukan sumber spesifik mana yang bertanggung jawab atas variasi peningkatan metana tahunan.

Analisis awal komposisi isotop karbon metana dalam sampel udara NOAA yang dilakukan oleh Institute of Arctic and Alpine Research di University of Colorado, menunjukkan, kemungkinan pendorong utama peningkatan beban metana berasal dari sumber biologis metana seperti lahan basah atau ternak dibanding sumber termogenik seperti produksi dan penggunaan minyak dan gas.

“Meskipun bahan bakar fosil tidak sepenuhnya bertanggung jawab terhadap peningkatan konsentrasi metana ini, pengurangan emisi metana dari produksi dan penggunaan bahan fosil tetap menjadi langkah penting upaya mitigasi perubahan iklim,” ujar Ed Dlugokenckyahli, ahli riset kimia dari GML.

Redaksi Hijauku.com