World Economic Forum menempatkan rusaknya keanekaragaman hayati sebagai salah satu dari lima ancaman terbesar bagi ekonomi dunia. Laporan UNODC yang terbit baru-baru ini, menegaskan kembali dampak eksploitasi keanekaragaman hayati melalui perdagangan tumbuhan dan satwa liar terhadap kesehatan masyarakat.

Data dan fakta kerugian akibat kerusakan lingkungan ini sebenarnya sudah bisa diamati dalam beberapa tahun terakhir dengan munculnya berbagai penyakit zoonosis seperti Ebola, flu burung, sindrom pernafasan Timur Tengah (MERS), virus Nipah, demam Rift Valley, sindrom pernafasan akut mendadak (SARS), virus Sungai Nil Barat (West Nile), virus Zika, dan sekarang, virus Corona atau COVID-19.

Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Dunia atau Global Biodiversity Framework paska 2020 mengusulkan perluasan kawasan konservasi hingga 30% luas permukaan bumi sebagai wujud komitmen dunia untuk melindungi keanekaragaman hayati menggunakan kawasan lindung dan pendekatan konservasi berbasis wilayah yang lain. Saat ini baru 15% daratan dan 7% lautan yang sudah dilindungi.

Apa manfaat memperluas kawasan konservasi hingga 30% dari permukaan bumi? Apakah hanya manfaat kesehatan yang diperoleh? Ataukah ada manfaat-manfaat yang lebih besar yang lain?

Laporan independen yang disponsori oleh Campaign for Nature – yang melibatkan 100 ilmuwan/ekonom – menganalisis dampak ekonomi global di sektor pertanian, kehutanan, perikanan dan kawasan lindung dari perluasan 30% ini. Hasil analisis finansial menemukan, perluasan wilayah lindung hingga 30% akan menambah pemasukan (revenue) sebesar $64 miliar hingga $454 miliar per tahun pada 2050.

Peneliti juga melakukan analisis ekonomi berfokus di dua sektor yaitu hutan dan mangrove. Hasilnya, apabila target perluasan kawasan lindung sebesar 30% tercapai, dunia bisa menghindari kerugian antara $170-$534 miliar per tahun pada 2050, yang sebagian besar diperoleh dari berkurangnya risiko bencana banjir, perubahan iklim, degradasi lahan dan risiko kerusakan kawasan pesisir akibat topan badai karena hilangnya vegetasi alami seperti hutan mangrove.

Manfaat yang lebih besar diperoleh dari sisi sosial, di mana pencapaian target perluasan kawasan lindung hingga 30% akan menambah luas wilayah masyarakat adat dan komunitas lokal sebesar 63%-
98%. Laju pertumbuhan ekonomi di kawasan lindung juga lebih tinggi (antara 4-6%) dibanding sektor pesaing yang hanya 1%.

Untuk mencapai target perluasan tersebut, diperlukan investasi sebesar $103 – $178 miliar per tahun. Investasi ini sudah termasuk $68 miliar/tahun untuk mendanai sistem di kawasan lindung yang ada saat ini. Dunia baru mengeluarkan dana $24,3 miliar/tahun untuk mendanai sistem di kawasan lindung atau baru 35% dari investasi yang disyaratkan.

Negara-negara yang memerlukan investasi terbesar berasal dari golongan negara berpendapatan rendah dan menengah. Laporan ini menegaskan, diperlukan dukungan internasional guna membantu negara-negara tersebut mencapai target 30% di atas. Hal ini sekaligus untuk mengurangi kesenjangan ekonomi antar negara.

Redaksi Hijauku.com