Tren penularan penyakit dari hewan ke manusia terus meningkat. Ebola, MERS, West Nile dan demam Rift Valley adalah bukti nyata munculnya tren ini sebelum COVID-19 melanda.

Laporan terbaru yang diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, Senin ini, 6 Juli 2020 memaparkan 10 cara untuk mencegah munculnya pandemi baru yang hingga saat ini terus menulari jutaan manusia di seluruh dunia.

Data Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan, COVID-19 telah menjangkiti 11,4 juta jiwa dan mencabut 533.000 nyawa. Tren ini terus meningkat di berbagai negara termasuk Indonesia.

Peningkatan tren penularan penyakit dari hewan ke manusia tidak lain dipicu oleh terus dirusaknya alam – lahan dialih fungsi, hutan ditebangi, hewan liar terus diburu, sumber daya alam terus dieksploitasi hingga perubahan iklim yang terus menghantui.

Laporan Program Lingkungan PBB (UNEP) dan Lembaga Penelitian Ternak Internasional  atau  International Livestock Research Institute (ILRI) berjudul Preventing the Next Pandemic: Zoonotic diseases and how to break the chain of transmission menyatakan, pengalaman negara-negara di Afrika yang telah mengalami krisis Ebola bisa menyumbang solusi penting untuk mencegah pandemi baru ini.

Setiap tahun, dua juta orang di negara miskin dan berkembang meninggal dunia akibat penyakit zoonosis. Penyakit ini menurut laporan UNEP tidak hanya mematikan namun juga menggerogoti kesehatan, membunuh produktivitas ternak sehingga ratusan juta petani kecil terus terjebak dalam jurang kemiskinan.

Dalam dua dekade terakhir, penyakit zoonosis telah menimbulkan kerugian ekonomi yang mencapai lebih dari $100 miliar. Jumlah ini di luar kerugian akibat pandemi COVID-19, yang diperkirakan akan mencapai $9 triliun dalam beberapa tahun ke depan.

Solusi yang ditawarkan UNEP menggabungkan pendekatan ilmu kesehatan masyarakat, ilmu peternakan dan lingkungan. Ada sepuluh langkah praktis yang bisa diterapkan pemerintah untuk mencegah munculnya penyakit zoonosis baru:

Langkah pertama, dunia harus melakukan pendekatan interdisipliner guna memastikan kebijakan lingkungan, pertanian dan peternakan meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan manusia;

Langkah kedua,  terus meningkatkan penelitian terkait penyakit zoonosis;

Langkah ketiga, menganalisis keuntungan dan kerugian akibat penyakit zoonosis sehingga memperbaiki upaya intervensi untuk mencegah munculnya penyakit zoonosis baru;

Langkah keempat, terus meningkatkan penyadartahuan atas penularan penyakit dari hewan ke manusia ini;

Langkah kelima, memperkuat upaya pengawasan dan kebijakan terkait zoonosis termasuk dalam sistem pangan;

Langkah keenam, memberikan dukungan atau insentif atas praktik pengelolaan lahan secara berkelanjutan, dan mengembangkan ketahanan pangan tanpa harus merusak habitat dan keanekaragaman hayati dunia;

Langkah ketujuh, meningkatkan kontrol dan keamanan biologis dengan terus mengawasi tren penyakit di ternak dan upaya mencegah penularannya;

Langkah kedelapan, mendukung tata kelola daratan dan perairan yang berkelanjutan yang mendorong praktik pertanian yang ramah terhadap tumbuhan dan satwa liar;

Langkah kesembilan, meningkatkan kapasitas petugas kesehatan di seluruh dunia; dan

Langkah kesepuluh, melaksanakan aksi yang terintegrasi mulai dari perencanaan pembangunan secara berkelanjutan hingga penggunaan lahan yang ramah lingkungan.

Laporan ini diluncurkan bersamaan dengan peringatan Hari Zoonosis Dunia yang diperingati setiap tanggal 6 Juli bersamaan dengan keberhasilan ahli biologi asal Prancis, Louis Pasteur menemukan vaksin rabies, yang juga merupakan penyakit zoonosis pada 6 Juli 1885.

Redaksi Hijauku.com