Bencana pandemi COVID-19 telah menurunkan emisi gas rumah kaca dan polusi udara dunia. Namun penurunan emisi ini hanya sementara. Tidak ada pengaruh penurunan emisi GRK akibat pandemi COVID-19 ini terhadap efek perubahan iklim dan pemanasan global yang sudah terlihat nyata dalam 50 tahun terakhir.

Pernyataan ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Profesor Petteri Taalas pada peringatan Hari Bumi, 22 April 2020.

WMO bahkan menegaskan, di banyak wilayah dunia, masyarakat akan merasakan kenaikan suhu di atas rata-rata pada bulan-bulan pertama tahun ini. Hal ini betul-betul terjadi termasuk di Indonesia. Cuaca yang panas dan gerah dirasakan oleh mayoritas penduduk yang saat ini banyak menghabiskan waktu di rumah akibat krisis COVID-19.

Pandemi COVID-19 diperkirakan akan menurunkan emisi gas rumah kaca dunia sebesar 6% (antara 5,5-5,7%). Angka ini juga sesuai dengan perkiraan para ilmuwan di Center for International Climate Research.

Namun kabar baik ini hanya bersifat sementara. Menurut WMO, polusi iklim yang dipicu oleh kenaikan emisi gas rumah kaca akan tetap ada di atmosfer dalam jangka panjang. Berbeda dengan polusi udara biasa yang bisa hilang dalam hitungan hari dan bulan.

“Saat ekonomi dunia mulai pulih dari virus Corona baru ini, emisi akan normal bahkan bisa melonjak karena mulai beroperasinya industri yang sempat terhenti,” ujar Petteri.

Data WMO terakhir dalam laporan Global Climate mencatat, emisi karbon dioksida (CO2) mencatat rekor tertinggi baru tahun lalu, naik 18% pada periode 2015 hingga 2019 dibanding periode 5 tahun sebelumnya.

Emisi gas rumah kaca bersirkulasi dalam atmosfer selama berabad-abad. Konsentrasi emisi GRK hingga akhir tahun 2019 bahkan sudah melampaui 410 ppm (parts per million) dari batas aman 350 ppm.

Sejak peringatan Hari Bumi pertama pada tahun 1970, level emisi CO2 telah naik 26% memicu kenaikan rata-rata suhu bumi sebesar 0,86 derajat Celsius. Jika dihitung sejak masa sebelum revolusi industri, suhu bumi telah meningkat rata-rata 1,1 derajat Celsius.

Melihat kondisi ini menurut Petteri, dunia harus terus berupaya melakukan mitigasi perubahan iklim dengan secara ambisius mengurangi emisi GRK. Menurut Petteri dalam berita Perserikatan Bangsa-Bangsa, tanpa aksi mitigasi perubahan iklim, dunia akan menghadapi bahaya yang jauh lebih besar, terutama masalah kesehatan yang dipicu oleh bencana kelaparan akibat dunia tak mampu memenuhi kebutuhan pangan penduduknya. “Dampak (negatif) perubahan iklim terhadap ekonomi juga akan sangat luar biasa,” ujar Petteri. Akankah dunia kembali mengabaikan peringatan ini?

Redaksi Hijauku.com