Hingga hari ini, Amerika Serikat menjadi negara dengan jumlah korban COVID-19 tertinggi di dunia. Terdapat lebih dari 640.000 kasus positif COVID-19 dengan jumlah kematian mencapai lebih dari 30.800 jiwa. Para peneliti di Amerika Serikat memperkirakan, virus COVID-19 akan mencabut 100.000 hingga 240,000 nyawa di AS.

Berawal dari estimasi ini, tim peneliti dari Universitas Harvard kemudian menganalisis mayoritas gangguan kesehatan yang memperparah fatalitas COVID-19. Hasilnya, mereka menemukan, kondisi gangguan kesehatan yang memperparah tingkat kematian akibat COVID-19 ternyata sama dengan gangguan kesehatan yang disebabkan oleh paparan polusi udara di AS dalam jangka panjang.

Dari data 3.000 daerah (counties) di Amerika Serikat, tim peneliti yang dipimpin oleh Xiao Wu MS dan Rachel C. Nethery PhD, dari Department of Biostatistics, Harvard T.H. Chan School of Public Health menyimpulkan, setiap kenaikan polusi udara PM2.5 sebesar 1 μg/m3 tingkat kematian akibat COVID-19 naik 15%.

Hasil penelitian ini menggarisbawahi pentingnya untuk terus menegakkan peraturan polusi udara, baik pada saat krisis pandemi COVID-19 maupun setelah krisis COVID-19 ini berakhir.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, polusi udara mencabut 7 juta nyawa setiap tahun. Kelompok yang rentan adalah mereka yang telah berusia lanjut dan balita yang masih rentan terkena infeksi saluran pernafasan akut.

Polusi selain merusak kesehatan juga memicu efek pemanasan global dan perubahan iklim. Pandemi COVID-19 sudah seharusnya menjadi pembelajaran bagi dunia untuk memperbaiki pengelolaan lingkungan dan mencegah krisis iklim lepas kendali, yang berpotensi menimbulkan korban jiwa lebih banyak lagi. Mari bersama bertekad menciptakan masa depan yang lebih baik.

Redaksi Hijauku.com