Saat para politisi dunia yang berkuasa saat ini mati, cucu dan cicit mereka akan merasakan dampak krisis iklim yang semakin berbahaya.

Bumi diperkirakan akan mengalami kenaikan suhu hingga 3 derajat Celcius di 2100 atau 80 tahun lagi akibat minimnya ambisi para pemimpin dunia saat ini dalam memangkas emisi gas rumah kaca pemicu krisis iklim dan pemanasan global.

Minimnya ambisi ini tercermin dalam Nationally Determined Contribution (NDC) yang berisi rencana negara-negara yang meratifikasi Kesepakatan Paris/Perjanjian Paris untuk memangkas emisi penyebab krisis iklim. Jika NDC yang ada saat ini diterapkan, kenaikan suhu 3 derajat Celcius di akhir abad ini tidak bisa dihindari.

Sebanyak 1 dari 4 anak akan hidup di lingkungan yang krisis air pada 2040. Cuaca ekstrem akan memicu bencana, konflik dan migrasi. Wabah penyakit semakin merajalela. Wanita dan anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terdampak bencana krisis iklim.

Hal ini terungkap dalam laporan terbaru UNICEF berjudul “Are Climate Change Policies Child-sensitive?” yang diterbitkan Selasa, 10 Desember 2019.

Dalam laporan ini UNICEF meneliti 160 NDC dan 3 National Action Plan (NAP). Hasilnya, tim UNICEF menemukan hanya 42% NDC yang menyebut anak-anak dalam naskah mereka dan hanya 20% yang merujuk pada anak di bawah umur 18 tahun.

Dari angka 42% tersebut, sebagian besar NDC belum bisa dikategorikan sensitif anak atau child sensitive. Hanya 3 negara (<2%) yang secara langsung menyebut hak-hak anak dalam NDC mereka. Dan hanya 5 negara yang menyebut hak asasi manusia dalam konteks generasi yang akan datang. Hampir seperempat NDC (23%) tidak menyebutkan anak-anak sama sekali.

Kegagalan ini semakin melengkapi blunder di COP25 di Madrid yang tidak berhasil menyepakati aturan kerja atau “rulebook” Kesepakatan Paris, termasuk mekanisme kerja sama internasional dan pengurangan emisi melalui perdagangan karbon sebagaimana tercantum dalam Artikel 6.

Sebanyak 27.000 orang delegasi termasuk delegasi Indonesia yang datang ke Madrid gagal mewujudkan keprihatinan generasi muda salah satunya adalah Greta Thunberg, yang menuntut dunia mendengar peringatan ilmu pengetahuan dan lebih keras beraksi atasi krisis iklim.

Kemungkinan puluhan ribu delegasi tersebut akan kembali hadir di konferensi perubahan iklim, COP26, di Glasgow, Inggris tahun depan hanya untuk menyelesaikan pekerjaan rumah mereka sesuai dengan “Rule 16” proses perundingan iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Mereka diberikan kesempatan terakhir untuk menaikkan ambisi atasi krisis iklim. Tapi tanpa keprihatinan yang mendalam, COP26 hanya akan menjadi aksi basi, bau (business as usual) menfasilitasi acara piknik atas nama perubahan iklim.

Karena generasi tua seharusnya sudah selesai dengan diri mereka sendiri. Mereka harus memikirkan nasib cucu dan cicit mereka di masa datang, saat mereka tak ada lagi di bumi ini.

Redaksi Hijauku.com