Ilmu pengetahuan sekali lagi memperingatkan dunia atas kondisi lingkungan dan iklim yang semakin memburuk. Pemanasan global semakin cepat terjadi, memicu perubahan iklim dan cuaca yang semakin ekstrem.

Seperti kebakaran hutan dan lahan yang terjadi tahun ini. Setahun lalu, WMO telah memperingatkan dunia atas fenomena El Nino yang akan memicu kemarau panjang seperti yang terjadi saat ini di Indonesia.

WMO kembali memimpin tim ilmuwan dari berbagai disiplin ilmu – termasuk dari sektor mitigasi dan adaptasi perubahan iklim – yang tergabung dalam Science Advisory Group menyusun dan merilis laporan berjudul “United in Science”, Minggu, 22 September 2019.

Laporan ini memaparkan secara detil keadaan iklim saat ini dan apa yang akan terjadi pada masa datang. Laporan ini juga menyeru dunia agar melakukan transformasi di sektor-sektor kunci seperti tata guna lahan (land use) dan energi untuk menghindari dampak kenaikan suhu bumi yang berbahaya dan tidak bisa dipulihkan kembali.

Beberapa temuan penting yang disampaikan “United in Science” adalah:

Rata-rata temperatur dunia selama lima tahun (periode 2015–2019) diperkirakan akan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah. Saat ini, temperatur rata-rata dalam periode tersebut telah naik 1,1°Celsius (± 0,1°C) di atas temperatur masa pra-industri (1850–1900).

Dampak dari kenaikan suhu bumi ini nyata. Dunia didera gelombang panas yang semakin lama dan meluas, kebakaran terparah dan bencana merusak lainnya seperti topan tropis, banjir dan kekeringan yang berdampak besar pada sektor ekonomi, sosial dan lingkungan.

Lapisan es di benua Arktika terus menurun rata-rata 12% per dekade dalam periode 1979-2018. Empat kondisi lapisan es terendah pada musim dingin terjadi antara periode 2015-2019.

Secara keseluruhan, volume es yang hilang per tahun di benua Antartika naik setidaknya enam kali lipat antara periode 1979-2017. Massa gletser yang hilang antara 2015-2019 tercatat tertinggi dibanding periode lima tahunan lain sepanjang sejarah.

Permukaan air laut terus naik dan air laut menjadi semakin asam. Rata-rata kenaikan permukaan air laut dunia meningkat dari 3,04 mm per tahun selama periode 1997–2006 menjadi 4 mm/tahun dalam periode 2007–2016. Hal ini terjadi karena kenaikan suhu lautan serta mencairnya es di Greenland dan Antartika Barat. Tingkat keasaman air laut secara keseluruhan telah naik 26% sejak masa industri.

Semua ini dipicu oleh kenaikan konsentrasi emisi gas rumah kaca (GRK) di atmosfer. Konsentrasi semua GRK jangka panjang seperti karbon dioksida (CO2), metana (CH4)) dan dinitrogen oksida (N2O) terus mencapai rekor tertinggi.

Terakhir kali konsentrasi CO2 di bumi mencapai 400 PPM (parts per million) adalah 3-5 juta tahun lalu saat rata-rata temperatur global lebih tinggi 2-3°C dibanding suhu bumi saat ini. Es di Greenland dan Antartika Barat juga mencair, es di Antartika Timur berkurang. Semuanya memicu kenaikan air setinggi 10-20 meter dari tinggi saat ini.

Pada 2018, konsentrasi CO2 dunia telah mencapai 407,8 PPM naik 2,2 PPM dibanding tahun 2017. Data awal mengindikasikan konsentrasi CO2 terus meningkat dan akan melampaui 410 PPM pada akhir tahun ini.

Berapa Gap Emisi yang Tersisa?

Upaya untuk membatasi kenaikan konsentrasi emisi GRK penting untuk mencegah perubahan iklim dan pemanasan global lepas kendali. Pertanyaannya, berapa gap emisi yang tersisa yang perlu kita jaga (agar tidak terlampaui) sehingga memicu bencana iklim yang tak bisa dipulihkan kembali?

United in Science memperkirakan, emisi GRK dunia akan terus naik, tidak hanya sampai 2020, namun hingga 2030. Hal ini akan terjadi jika tingkat ambisi dalam Nationally Determined Contributions (NDCs) tidak direvisi.

Gap pengurangan emisi dalam NDCs bersyarat (conditional NDCs) di 2030 dibanding dengan tingkat pengurangan emisi yang diperlukan agar target 2°C (kenaikan suhu bumi di bawah 2°C) tercapai adalah 13 Gigaton setara CO2 (GtCO2e). Namun jika hanya NDCs tanpa syarat (unconditional NDCs) yang diimplementasikan, maka gap akan naik menjadi 15 GtCO2e. Laporan ini mencatat, gap emisi CO2 di bawah target 1,5°C adalah 29 GtCO2e, sementara untuk target 2°C sebesar 32 GtCO2e.

NDCs saat ini diperkirakan hanya mampu mengurangi emisi GRK dunia maksimal 6 GtCO2e pada 2030. Ambisi pengurangan emisi ini harus naik tiga kali lipat untuk mencapai target 2°C dan lima kali lipat agar mencapai target 1,5°C.

Sementara implementasi NDCs tanpa syarat – tanpa ada upaya lain – hanya akan meningkatkan suhu bumi antara 2,9°C hingga 3,4°C pada 2100 dibanding masa pra-industri. Jika ambisi dalam NDCs tidak naik dan disokong oleh aksi iklim yang lain, maka kenaikan suhu bumi melampaui 1,5°C tak akan bisa dihindari. Dunia juga harus bersiap mengalami kenaikan suhu bumi di atas 2°C jika gap pengurangan emisi tidak ditutup pada 2030.

Solusi yang telah terbukti mampu untuk mengurangi emisi adalah dengan beralih ke energi terbarukan dan reforestasi atau penanaman kembali hutan yang rusak akibat alih guna lahan dan deforestasi. Jika dilakukan, semua aksi itu akan menyumbang pada pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan. Ilmu pengetahuan telah memberikan peringatan. Akankah kita, dunia mendengarkan?

Redaksi Hijauku.com