Pride PAAP TN Wakatobi-4Mola, Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 22 Februari 2016 – Wakatobi, Surga Nyata Bawah Laut di jantung Segitiga Karang Dunia, mempunyai arti penting bagi jaringan ekosistem laut tropis Indo-Pasifik dan keanekaragaman hayati laut dunia. Wakatobi memiliki 942 spesies ikan dan 750 spesies terumbu karang dari total 850 spesies terumbu karang di dunia. Data Kabupaten Wakatobi menunjukkan jumlah nelayan tangkap ikan perairan laut mencapai lebih dari 31.000 orang. Ironisnya, su mber daya laut tersebut semakin menipis akibat penangkapan ikan secara berlebihan dan menggunakan alat tangkap tidah ramah lingkungan.

“Sekarang harus pergi lebih jauh, 5-8 jam naik kapal dari desa. Ikan hasil tangkapan juga kecil-kecil ukurannya. Padahal kita harus keluar biaya 100-150 ribu rupiah untuk beli solar sekali melaut. Keuntungan semakin kecil. Cuma cukup untuk hidup. Sepuluh tahun yang lalu, terumbu karang masih bagus. Sekarang sudah banyak yang rusak. Ikannya jadi pergi.” Chusairi, nelayan desa Mola Selatan menjelaskan kondisi perikanan di Karang Kapota saat ini. Lebih dari 70 persen nelayan Desa Mola menangkap ikan di Zona Pemanfaatan Tradisional Karang Kapota.

Program Pengelolaan Akses Area Perikanan (PAAP) merupakan salah satu solusi mengatasi tantangan ini. Melalui PAAP, nelayan kecil dan masyarakat sekitar kawasan mendapatkan hak khusus untuk mengelola dan memanfaatkan area tangkapnya berdasarkan peraturan, secara bertangggung jawab dan berkelanjutan. “Program PAAP diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama nelayan kecil yang hidup di dalam kawasan. Hal ini sejalan dengan fungsi Taman Nasional (TN) Wakatobi yang diresmikan sebagai Cagar Biosfer Dunia sejak April 2012. Cagar Biosfer Dunia berperan dalam menggabungkan pelestarian keanekaragaman hayati dengan pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, serta mempromosikan solusi lokal untuk memecahkan tantangan kemanusiaan yang dihadapi di wilayah tersebut,” Kepala Sub Bagian Tata Usaha Balai TN Wakatobi, La Ode Ahyar Thamrin Mufti, menjelaskan.

Asisten Satu Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Amiconi, mengatakan, “Melalui Program Pride PAAP, nelayan lokal dilibatkan dalam pengelolaan laut supaya lestari berkelanjutan bagi anak cucu di masa depan. Nelayan lokal dapat berkontribusi langsung dalam mengawasi dan melestarikan laut untuk meningkatkan kesejahteraannya. Apalagi Wakatobi merupakan masuk Sepuluh Besar pengembangan tujuan pariwisata Indonesia.”

Peluncuran Kampanye Pride PAAP di TN Wakatobi dihadiri juga oleh Kapolres Wakatobi, Koramil Wangi-Wangi, Danpos Angkatan Laut Wakatobi, Kepala BTN Wakatobi, seluruh Kades di Mola Raya serta perwakilan instansi terkait. “Ini momen penting untuk menggalang dukungan nelayan dalam menjaga, mengatur dan memanfaatkan sumber daya laut secara bertanggung jawab. Diharapkan upaya ini dapat menjamin ketersediaan ikan dan menjaga ekosistem terumbu karang untuk menyokong kehidupan nelayan secara berkelanjutan. Ayub Gerit Polii, Manajer Kampanye Pride PAAP di TN Wakatobi memaparkan. “Kampanye Pride PAAP menggunakan pendekatan pemasaran sosial yang memanfaatkan berbagai saluran komunikasi pemasaran komersial untuk menyentuh hati dan pikiran khalayak sasaran serta mendorong aksi perubahan perilaku masyarakat. Tujuannya ialah mengurangi ancaman bagi sumber daya, khususnya perikanan, serta mencapai dampak konservasi dan dampak sosial berkelanjutan,” tambahnya.

Koordinator Kelompok Kerja Nelayan Desa Mola, Hartono, menyatakan, ”Kami sangat mengharapkan dengan adanya program PAAP kedepannya hasil tangkapan nelayan Mola semakin meningkat. Ikan semakin banyak dan lokasi menangkap ikan jadi lebih dekat lagi.”

Program PAAP merespon kebutuhan nelayan kecil dalam menjaga mata pencahariannya dengan memberikan peran serta pengelolaan, termasuk pemanfaatan secara bertanggung jawab kepada nelayan kecil yang berdiam di dalam atau sekitar kawasan konservasi. Program PAAP merupakan hasil kerja sama dari Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktorat Konservasi dan Keanekeragaman Hayati Laut, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan melalui Direktorat Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem dan Rare Indonesia. Pada 17 Februari 2016, program ini diluncurkan secara nasional di Jakarta. Program ini mengembangkan kapasitas 15 lembaga mitra pelaksana lokal yang memangku 15 kawasan konservasi dari Sabang hingga Kaimana untuk periode 2014−2017. Salah satunya ialah Balai TN Wakatobi. Nantinya, 15 kawasan ini akan menjadi model pengelolaan perikanan di Indonesia, sehingga ke depannya dapat direplikasi di daerah lain.

PAAP merupakan inovasi dalam pengelolaan kawasan konservasi. Kampanye Pride bagi perikanan berkelanjutan di Pulau Tomia, TN Wakatobi periode 2012–2014 telah membuktikan hasil nyata. Data monitoring biofisik oleh BTN Wakatobi menunjukkan peningkatan jumlah ikan Kakap Merah dari 71 individu per kelompok pada tahun 2012 menjadi 109 individu per kelompok pada tahun 2014. Oleh karena itu, Kementerian Perikanan dan Kelautan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Rare Indonesia optimis bahwa terobosan ini akan membawa dampak positif bagi pengelolaan kawasan konservasi laut dan keberlanjutan sumberdaya perikanan Indonesia.

Rare dan mitra melalui kampanye Pride mempromosikan perubahan perilaku pada pengguna sumberdaya, pemangku kepentingan, pelaku pasar dan pembuat kebijakan di kawasan untuk memperoleh komitmen serta aksi nyata terkait pengelolaan berkelanjutan dari kawasan konservasi dan sumberdayanya. “Melalui Kampanye Pride PAAP ini, para nelayan kecil menjadi jawaban dari tantangan saat ini melalui kapasitas pengorganisasian kelompok, pemahaman konservasi dan pengelolaan perikanan sehingga senantiasa patuh pada peruntukan zonasi di dalam setiap kawasan konservasi dan pada saat yang sama mampu mengelola akses area perikanan secara bertanggung jawab”, tambah Taufiq Alimi, Vice President Rare Indonesia.

Untuk informasi lebih lanjut, hubungi :
• Ayub Gerit Polii, Manajer Kampanye Pride PAAP di TN Wakatobi, BTN Wakatobi, +62812 45677888, ssi57804@gmail.com
• Yayat Afianto, Pride Program Manager, Rare, +62 81110 7080, yafianto@rare.org

Catatan untuk editor:

Taman Nasional Wakatobi dengan luas 1.390.000 Ha merupakan salah satu kawasan Pelestarian Alam di Indonesia, ditunjuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 393/Kpts-VI/1996 dan ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 7651/Kpts-II/2002. Wakatobi National Park dikelola dengan sistem zonasi (sesuai dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya) yaitu dengan membagi wilayah Taman Nasional berdasarkan kepentingannya yang bertujuan untuk memudahkan dalam pengawasan, pengamanan maupun pemanfaatan sumberdaya alam kawasan Taman Nasional. Sistem zonasi yang digunakan dalam mengelola kawasan TNW saat ini merupakan hasil revisi zonasi yang disahkan pada tahun 2007, berdasarkan keputusan Direktorat jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor : S.149/IV-KK/2007 tentang Zonasi Taman Nasional Wakatobi, yang meliputi : Zona inti (1.300 Ha), Zona Perlindunagn Bahari (36.450 Ha), Zona Pariwisata (6.180 Ha), Zona Pemanfaatan Lokal (804.000 Ha), Zona Pemanfaatan umum (495.700 Ha), Zona Khusus/Daratan (46.370 Ha).

Kawasan yang akan menjadi fokus Pride-PAAP berada di wilayah kerja Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wakatobi Wilayah I Wangi-wangi dan secara administratif pemerintahan berada di Kecamatan Wangi-wangi Selatan Kabupaten Wakatobi di diami oleh masyarakat suku bajo dengan jumlah lebih dari 7.000 penduduk yang meliputi 5 Desa, yaitu : Desa Mola Bahari, Desa Mola Utara, Desa Mola Samaturu, Desa Mola Selatan dan Desa Mola Nelayan Bakti. Sedangkan rencana lokasi PAAP berada wilayah perairan Karang Kapota seluas ± 10.088 Ha dan zona larang ambil (zona pariwisata karang kapota) seluas ± 964 Ha.

Kawasan Implementasi Kampanye Pride bagi Pengelolaan Akses Area Perikanan (periode 2014 – 2017):
1. Perairan Teluk Kolono (mitra: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Konawe Selatan)
2. Daerah Perlindungan Laut Liya Togo, Liya Mawi, Liya Bahari (mitra: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Wakatobi)
3. Taman Nasional Wakatobi (mitra: Balai Taman Nasional Wakatobi)
4. Taman Nasional Bunaken (mitra: Balai Taman Nasional Bunaken)
5. Taman Nasional Taka Bonerate (mitra: Balai Taman Nasional Taka Bonerate)
6. Perairan Teluk Bumbang (mitra: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lombok Tengah dan Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Lombok
7. Taman Wisata Perairan Gili Matra (mitra: Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional, Kupang)
8. Taman Wisata Perairan Laut Banda ((mitra: Balai Kawasan Konservasi Perairan Nasional, Kupang)
9. Kawasan Konservasi Perairan Pesisir Timur Pulau Weh, Kota Sabang (mitra: Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Sabang)
10. Taman Wisata Perairan Kepulauan Anambas (mitra: Loka Kawasan Konservasi Perairan Nasional, Pekanbaru)
11. Taman Nasional Kepulauan Seribu (mitra: Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu)
12. KKPD Kaimana (mitra: Conservation International Indonesia)

Kawasan Prototipe Kampanye Pride bagi Pengelolaan Akses Area Perikanan (periode 2014 – 2016)
1. Perairan di bawah pengelolaan Kabupaten Demak (mitra: Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak)
2. Taman Nasional Karimunjawa (Mitra: Balai Taman Nasional Karimunjawa)
3. Kawasan Konservasi Perairan Daerah Teluk Mayalibit, Raja Ampat (Mitra: Conservation International dan BLUD KKPD Raja Ampat).

Rare, sebuah organisasi konservasi yang berbasis di AS, bekerja secara global untuk membekali masyarakat di daerah alam yang paling terancam di dunia dengan alat-alat dan motivasi yang mereka butuhkan untuk merawat sumber daya alam mereka. Selama 30 tahun terakhir, di lebih dari 90 situs dan di lebih dari 50 negara, RARE telah mempertimbangkan faktor-faktor sosial dan ekonomi mendasar yang menyebabkan ancaman terhadap lingkungan. Pendekatan Rare dilakukan lewat pengembangan perangkat pemasaran dan pengembangan bisnis yang memotivasi masyarakat setempat untuk melindungi lingkungan alami mereka. Metode kampanye Pride telah diterapkan oleh banyak organisasi lingkungan besar, termasuk The Nature Conservancy (TNC), Conservation International (CI), Wildlife Conservation Society (WCS) dan National Audubon Society.

www.rare.org, Facebook: Rare Indonesia, twitter: @rare_indonesia

Kampanye Pride khas Rare turut membangun dukungan akar rumput untuk perlindungan lingkungan dengan melatih para pemimpin konservasi lokal dalam penggunaan taktik pemasaran komersial untuk membangun kesadaran, mempengaruhi tindakan, dan memungkinkan perubahan yang berarti. Rare memiliki lebih dari 30 tahun pengalaman dalam membangun kebanggaan lokal untuk konservasi keanekaragaman hayati dan telah melatih lebih dari 120 konservasionis berbasis lokal. Selama 5 tahun ke depan, Rare berencana meningkat tiga kali lipat lebih besar, guna memberi dampak yang lebih besar secara eksponensial.