Healthy soil - USDA NRCS South Dakota - FlickrTanah yang subur tak lagi bisa dinikmati secara gratis. Degradasi lahan terus berlangsung di seluruh penjuru bumi.

Pernah menyaksikan film Wall-E? Dalam film ini, bumi sudah sangat tercemari oleh polusi. Udara bumi menjadi sangat beracun, air tak lagi layak untuk dikonsumsi, sementara tanah tidak lagi bisa ditanami.

Penduduk bumi lalu memutuskan untuk mengungsi ke luar angkasa. Mereka hidup di pesawat raksasa. Tinggallah robot pengumpul sampah bernama Wall-E di bumi untuk membersihkan limbah padat yang ditinggalkan oleh manusia. Wall-E suka mengumpulkan barang-barang unik. Suatu ketika, ia menemukan tanaman yang tumbuh dalam sepatu tua. Tanaman ini ia simpan di rumahnya.

Sementara itu, pesawat induk secara rutin mengirimkan utusan ke bumi untuk mengecek kondisi lingkungan dan mendeteksi kehidupan. Dikirimlah robot bernama Eve yang kemudian bertemu Wall-E dan tanamannya. Penemuan tanaman dalam sepatu tua itu yang mengubah nasib ummat manusia. Penduduk yang mengungsi bisa kembali lagi ke bumi karena tanah mereka bisa kembali ditanami.

Cerita Wall-E memang jauh melampaui masanya, namun tidak mustahil menjadi nyata. Saat ini, tanah yang subur sudah menjadi langka. Degradasi lahan terus berlangsung.

Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) memerkirakan, degradasi lahan akan mengurangi 12% produksi pangan dunia pada 2035. Data ini disampaikan oleh UNEP memeringati Hari Penanggulangan Degradasi Lahan yang jatuh pada tanggal 17 Juni 2015.

Tanah adalah faktor pendukung utama sistem produksi pangan. Tanpa tanah yang sehat, mustahil makanan sehat bisa diproduksi. Tanah yang sehat juga berfungsi menyaring air hujan menjadi air yang bisa dikonsumsi.

Tanah menyimpan emisi karbon dalam jumlah besar, jauh lebih besar dibanding semua hutan yang ada di bumi. Sepertiga spesies dunia hidup di daratan sehingga peran tanah juga penting dalam menjaga keanekaragaman hayati.

Menurut International Resource Panel, jika tren penggunaan lahan yang tidak ramah lingkungan berlanjut, lebih dari 849 juta hektar lahan alami – hampir seluas wilayah Brasil – terancam terdegradasi pada 2050.

Kebutuhan lahan untuk produksi pangan telah memicu alih guna lahan, mengubah padang rumput, sabana dan hutan menjadi lahan pertanian. Kondisi ini yang menyebabkan 23% lahan dunia terdegradasi dan kehilangan keanekaragaman hayati.

Industri pertanian saat ini menggunakan lebih dari 30% wilayah daratan di bumi. Dan sebanyak 10% daratan telah ditutupi oleh lahan pertanian. Dari 1961 hingga 2007, luas lahan pertanian telah bertumbuh 11%, tren ini terus meningkat. Jika lahan tidak dikelola secara berkelanjutan, maka kerusakan lingkungan sudah di depan mata.

Ekosistem lahan kering menyumbang 40% wilayah daratan dunia. Di wilayah ini tinggal 2 miliar penduduk bumi yang 90%-nya berasall dari negara berkembang. Tidak terbayang skala kerusakan lingkungan jika perencanaan dan tata guna lahan tidak diperhatikan

Degradasi lahan akan menurunkan kualitas hidup penduduk dunia dan mengancam ketahanan pangan. Dampak buruk ini semakin diperparah oleh perubahan iklim.

Redaksi Hijauku.com