OCO-2 Satellite - NASA (500x303)NASA meluncurkan misi baru guna melacak emisi karbon dioksida (CO2) di atmosfer bumi dengan bantuan satelit. Saat ini satelit yang didedikasikan untuk tugas tersebut tengah dalam penyempurnaan final. Rencananya, satelit ini akan diluncurkan pada 1 Juli dari Markas Angkatan Udara Vandenberg di California.

Satelit bernama Orbiting Carbon Observatory-2 (OCO-2) ini menurut NASA akan memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai emisi CO2 baik hasil produksi manusia maupun yang berasal dari alam, termasuk lokasi-lokasi yang menjadi penyerapan emisi CO2 ini.

Secara alami, emisi CO2 tersimpan di lautan dan di dalam tanah. CO2 adalah komponen utama dalam emisi gas rumah kaca hasil produksi manusia yang memicu perubahan iklim.

“CO2 berperan penting dalam mencerminkan keseimbangan energi di bumi dan menjadi faktor penting yang bisa menerangkan efek perubahan iklim,” ujar Michael Freilich, direktur Earth Science Division, milik NASA di Washington. “Dengan misi ini, NASA akan menjadi sumber informasi penting baru dalam upaya mengamati dan memahami masa depan bumi secara ilmiah.”

Satelit OCO-2 akan diluncurkan dengan bantuan roket hingga ketinggian 705 kilometer dengan wilayah orbit di sekitar kutub. Satelit ini didesain untuk mampu beroperasi setidaknya dalam 2 tahun. OCO-2 akan “memimpin” lima satelit internasional lain yang memonitor bumi. Kelima satelit ini mengitari bumi setiap 99 menit sekali.

Emisi CO2 saat ini mencapai angka 400 PPM (parts per million), tertinggi dalam 800.000 tahun. Menurut NASA pembakaran bahan bakar fosil dan aktivitas manusia yang lain menambah 40 miliar ton CO2 setiap tahun, sehingga emisi gas rumah kaca ini terus menumpuk memerangkap panas matahari di dalam atmosfer bumi yang mengacaukan iklim.

Para ilmuwan menyimpulkan, penyebab utama peningkatan emisi CO2 ini berasal dari pembakaran hutan dan bahan bakar fosil. Saat ini kurang dari separuh emisi CO2 yang tersimpan dalam atmosfer. Sisa terserap dalam samudra menimbulkan masalah baru yaitu kerusakan ekosistem akibat peningkatan suhu permukaan dan keasaman air laut.

Redaksi Hijauku.com