Jakarta, 16 Mei 2014—Aktivis Greenpeace mengantarkan Raung dan Umba ke Komisi Pemilihan Umum untuk mendaftar menjadi Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden. Keduanya mendaftar karena belum satu pun Bakal Calon Presiden yang menyatakan 100% berkomitmen terhadap perlindungan dan pemulihan lingkungan hidup Indonesia.
Raung sang Calon Presiden (Capres) adalah Harimau Sumatera yang telah kehilangan keluarganya akibat kebakaran hutan, dan juga kehilangan lebih dari separuh habitatnya karena deforestasi. Indonesia kehilangan 15,8 juta hektar hutan pada 2000—2012. Sementara pada 2011—2012 tingkat kehilangan hutan mencapai level tertinggi sejak akhir 1990-an meskipun pemerintah telah mengeluarkan aturan jeda tebang (moratorium).
Adapun Calon Wakil Presiden (Cawapres) adalah Umba, Lumba-lumba yang terancam kehilangan nyawa akibat penangkapan ikan berlebih dan kehilangan laut bersih akibat tailing dan buangan minyak kotor. Sejak April 2014 pencemaran akibat buangan minyak kotor di kawasan pesisir Bintan, Batam dan Karimun, Provinsi Kepulauan Riau diperkirakan mencapai 5.000 barel—10.000 barel atau setara hingga 1.590 meter kubik minyak kotor yang tiba dan mencemari kawasan pantai.
Selain itu, Raung dan Umba juga menemukan kesalahan tata kelola pembangunan ekonomi nasional. Indonesia mengalami pertumbuhan luar biasa pesat di sektor pertambangan batu bara, ditandai dengan peningkatan ekspor hingga 5 kali lipat pada 2000—2012, menjadikan Indonesia eksportir terbesar sejak 2011. Lebih dari 85% produksi batubara Indonesia diekspor, hanya kurang dari 15% nya yang digunakan untuk kepentingan domestik.
Ironisnya, Indonesia hanya memiliki 0,6% cadangan batubara dunia, jauh di bawah cadangan yang dimiliki Amerika Serika, China, Australia dan India. Meskipun menjadi negara pengekspor terbesar batubara di dunia, ekspor batubara hanya menyumbang 3% dari total PDB, tidak sebanding dengan dampak negatif dan kerusakan yang diakibatkan oleh sektor batubara terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar.
Persoalan lain yang menjadi fokus adalah kualitas air yang terus memburuk. Hampir seluruh sungai utama di Indonesia mengalami penurunan kualitas air, yang paling berbahaya adalah karena pencemaran bahan kimia beracun industri. Padahal lebih dari 119 juta masyarakat belum mempunyai akses terhadap air bersih. Salah satunya adalah Sungai Citarum yang menyuplai air ke Jakarta. Berbagai bahan kimia berbahaya dibuang oleh industri ke badan-badan sungai dan banyak diantaranya belum diatur oleh pemerintah Indonesia.
Secara keseluruhan Raung dan Umba melihat lingkungan hidup sebagai penyangga dasar kehidupan hayati termasuk manusia di dalamnya berada dalam keadaan krisis. Oleh karena itu dengan mendaftar sebagai Capres dan Cawapres, keduanya berjanji akan 100% berkomitmen terhadap lingkungan hidup Indonesia, guna menjaga yang masih ada dan memulihkan yang terlanjur rusak. Keduanya juga menantang Capres dan Cawapres lain untuk 100% berkomitmen terhadap lingkungan hidup Indonesia.
Informasi lebih lanjut: www.100persenindonesia.org
Kontak Media:
Arifsyah Nasution, Jurukampanye Greenpeace Indonesia, 08111400350, arifsyah.nasution@greenpeace.org
Rika Novayanti, Jurukampanye Media Greenpeace, 08111683484, rika.novayanti@greenpeace.org
Kita harus memaksa para Capres/Cawapres untuk membuat komitmen memastikan sejak awal sebelum dan sesudah mereka terpilih. Indonesia masih belum apa-apa dalam menyikapi perlindungan lingkungan. Antara program yang menumpuk dan realisasi masih jauh dari target tertuju, bahkan penganggaranpun hanya sekadar melengkapi total RAB. Itupun entah apa yang dilakukan dengan anggarannya. Prioritas program Perlindungan Lingkungan mestinya disadari perannya secara utuh dalam pelaksanaan semua bidang pembangunan. Berbagai Regulasi masih minim daya tafsir dan cenderung diabaikan. Contoh kecil ; sampah, terkesan dianggap hal rutin yang tidak berakibat membahayakan. Sehingga penanganannyapun jauh masih dari sempurna. Kita butuh pemimpin bangsa yang memiliki visi menjadikan Indonesia tetap sebagai “Zamrud di khatulistiwa”, dengan misi yang terbaca dan terukur. Semoga ! Salam@embun.