Thin film solar - Walmart CorporateInvestasi di sektor energi bersih naik $1.3 triliun sejak 2006. Laporan Frankfurt School, UNEP dan Bloomberg New Energy Finance menunjukkan, kapasitas energi terbarukan dunia telah melampaui 1.470 Gigawatts (GW) pada 2012, naik 8,5% dibanding tahun sebelumnya. Dan dalam delapan tahun terakhir, jumlah negara yang memiliki target peralihan ke energi bersih bertambah tiga kali lipat dari 48 negara menjadi 140 negara – separuhnya adalah negara berkembang. Hal ini disampaikan oleh Achiem Steiner, Direktur Eksekutif United Nations Environment Program (UNEP), dalam berita yang dirilis UNEP, Senin (28/10).

Mengutip laporan terbaru dari Deutsche Bank, Achiem menyatakan, dalam 18 bulan ke depan, salah satu jenis energi bersih yaitu panel surya akan memasuki “tahap pertumbuhan ketiga” – yaitu tahap pertumbuhan dimana panel surya bisa digunakan (dan tetap kompetitif) dengan atau tanpa subsidi dari pemerintah.

Energi bersih yang semakin kompetitif membantu negara-negara maju untuk beralih ke energi terbarukan. Pada 2012, Jerman berhasil memenuhi separuh dari kebutuhan listriknya dari energi angin, surya dan energi bersih lain. Prestasi Spanyol lebih menggembirakan lagi, lebih dari 60% kebutuhan energi di Spanyol dipasok dari sumber energi terbarukan.

Di negara berkembang, sebuah negara kecil di Afrika, Cape Verde (Tanjung Verde) menargetkan penggunaan 100% energi terbarukan pada 2020. Revolusi energi bersih di Cape Verde menurut Achiem Steiner sudah dimulai sejak 2010 dengan membangun pembangkit listrik tenaga surya di dua lokasi dan proyek tenaga angin di Cabeolica hasil kerjasama pemerintah dan swasta.

Cape Verde juga membangun pembangkit listrik mandiri (off-grid) di sebuah desa di kepulauan Monte Trigo yang akhirnya mampu memenuhi kebutuhan listrik mereka selama 24 jam dari pembangkit listrik tenaga surya.

Mongolia, tuan rumah Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2013, bekerja sama dengan Jepang meluncurkan proyek pembangunan pembangkit super yang akan memasok kebutuhan listrik di Asia dengan energi bersih (Asian Super Grid).

Menurut Achiem, kinerja energi bersih jauh melampaui perkiraan paling optimistis sekalipun. Pada 2000, International Energy Agency memerkirakan kapasitas energi angin dunia akan mencapai 34 GW pada 2010. Sementara Bank Dunia memerkirakan kapasitas energi angin China akan mencapai 9GW dan surya mencapai 500 MW pada 2020. Hasilnya, pada 2010, kapasitas energi angin dunia telah mencapai 200 GW (500% di atas perkiraan) dan China memiliki pembangkit angin berkapasitas 62GW dan surya 3GW pada 2011.

Laporan IEA terbaru berjudul “Technology Roadmap: Wind Energy – 2013 Edition” menyatakan, kapasitas energi angin tahun ini mencapai 300 Gigawatts (GW). IEA memerkirakan kapasitas ini akan naik delapan hingga sepuluh kali lipat pada 2050. Energi angin berpotensi memasok hampir seperlima (18%) energi dunia pada 2050, naik dari hanya 2,6% saat ini. Investasi di energi angin yang mencapai lebih dari $78 miliar pada 2012, akan terus meningkat hingga $150 miliar per tahun.

Komitmen politik untuk beralih ke energi bersih menurut Achiem penting. Hal ini termasuk upaya untuk mengurangi subsidi bahan bakar fosil serta polusi udara dan emisi gas rumah kaca yang menyebabkan krisis iklim dan kesehatan. IMF memerkirakan jumlah subsidi bahan bakar fosil mencapai $2 triliun pada 2011, atau 2,5% dari Produk Domestik Bruto Dunia. “Tahun ini, pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga keuangan, perusahaan dan Perserikatan Bangsa-Bangsa harus mulai beraksi serius untuk mengatasi realitas perubahan iklim,” tutur Achiem.

Redaksi Hijauku.com