Climate in Asia - Wikimedia CommonsMasyarakat Indonesia sangat akrab dengan istilah perubahan iklim. Sebanyak 81% pernah mendengar tentang istilah perubahan iklim dan 74% merasakan efek perubahan iklim dalam kehidupan mereka sehari-hari.

Namun mayoritas masyarakat masih sangat haus akan informasi perubahan iklim. Sebanyak 74% masyarakat menginginkan informasi mengenai dampak jangka panjang perubahan iklim. Sebanyak 70% ingin mengetahui informasi tentang penyebab perubahan iklim dan 60% ingin tahu bagaimana mereka bisa merespon masalah perubahan iklim.

Hal ini terungkap dalam hasil survei Climate Asia yang dirilis hari ini, Selasa (29/10) di Wisma Antara, Jakarta Pusat. Climate Asia adalah program dari BBC Media Action yang meneliti persepsi masyarakat Asia – tidak hanya Indonesia – mengenai perubahan iklim.

Responden Climate Asia mencapai 33.500 orang termasuk 4985 rumah tangga di Indonesia. Mereka mewawancarai pembuat kebijakan, masyarakat sipil, akademisi, perusahaan, hingga komunitas tentang perubahan iklim. Penelitian ini dilakukan dari Februari hingga Oktober 2012.

“Biasanya musim hujan berlangsung pada bulan-bulan yang diakhiri dengan kata ‘ber’ dari September-Desember. Tapi kini terbalik. Musim hujan masih berlangsung walau sudah memasuki bukan Januari dan Februari, ini adalah anomali,” tutur sebut saja “Fulan” salah satu responden Climate Asia di Jakarta yang masih berusia remaja.

Ya, masyarakat memang sudah mengenali anomali cuaca dan iklim. Namun dalam survei ini juga terungkap, mereka tidak siap dalam menghadapi cuaca ekstrem. Hanya 19% dari responden yang menyatakan mengikuti berita cuaca setiap hari. Dan hanya 11% yang menyatakan mereka memiliki rencana persiapan jika bencana benar-benar terjadi. Lebih “gawat” lagi, hanya 8% yang merasa pernah menerima peringatan dini terkait cuaca ekstrem.

Kesenjangan informasi mengenai perubahan iklim inilah yang menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Dengan mengatasi kesenjangan informasi ini masyarakat bisa turut beraksi mengatasi perubahan iklim. Sebanyak 70% responden Climate Asia menyatakan bahwa mereka tidak memiliki sumber daya untuk merespon masalah perubahan iklim. Sementara 84% responden menyatakan memerlukan bantuan pemerintah untuk beraksi atasi krisis iklim.

Masyarakat pedesaan juga merasakan kesenjangan dalam menerima informasi perubahan iklim. Sebanyak 61% responden merasa mereka tidak mendapatkan informasi sebagaimana penduduk di kota-kota besar tentang perubahan iklim. Padahal, menurut Damian Wilson, Direktur Program Climate Asia, “Masyarakat di pedesaan dan kota-kota kecil inilah yang siap untuk berbuat lebih banyak lagi dalam mengatasi krisis iklim.” Mari terus bersinergi menyebarkan informasi dan melakukan edukasi perubahan iklim.

Redaksi Hijauku.com