Wind and Rain belts - Mats Halldin - Columbia EduPemanasan global menggeser zona-zona hujan (rain belts) ke utara. Redistribusi hujan ini akan menjadikan wilayah Timur Tengah, Amerika Serikat bagian barat dan wilayah Amazonia semakin kering.

Hal ini terungkap dari penelitian terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, Senin (23/9).

Pemanasan global juga mengubah aliran angin lebih ke utara dan membuat Monsun Asia serta wilayah ekuator di Afrika semakin basah. Penelitian ini didasarkan atas analisis pemanasan global yang terjadi di bumi sejak jaman es, 15.000 tahun yang lalu.

Saat itu, samudra Atlantik Utara mulai bergejolak sehingga mencairkan es-es di laut Arktika. Sementara di benua Antartika, tutupan es semakin meluas, menyebabkan kondisi suhu yang kontras di antara kedua kutub tersebut.

Perbedaan temperatur di antara dua kutub inilah yang memicu pergeseran zona hujan tropis dan aliran angin (jet stream) ke utara, mengubah distribusi air dalam dua “sabuk” tersebut ke seluruh dunia.

Saat ini, tim peneliti menemukan, kondisi es di benua Arktika terus menyusut dan suhu di belahan bumi bagian utara memanas lebih cepat dibanding bagian bumi bagian selatan. Sejarah akan kembali terulang. “Dampak dari kondisi ini sangat luas,” ujar Wallace Broecker, ahli iklim dari Lamont-Doherty Earth Observatory di Columbia University, yang memimpin penelitian ini.

Saat wilayah ekuator Afrika dan Monsun di Asia semakin basah, potensi angin topan dan badai juga meningkat, memicu banjir dan bencana alam. Di sejumlah wilayah Amerika, Eropa dan Russia rekor kenaikan suhu baru akan terus tercipta, memicu kebakaran dan korban jiwa akibat cuaca ekstrem. Perubahan iklim terus menimbulkan korban.

Tim peneliti menyatakan, jika pada masa lampau, perbedaan temperatur antara belahan bumi bagian selatan dan utara dipicu oleh berkurangnya tutupan es di benua Arktika, saat ini, polusi/emisi karbon dari industri menjadi penyebabnya.

Saat polusi karbon di belahan bumi bagian utara terus meningkat, yang sudah dimulai sejak masa revolusi industri, suhu juga akan terus naik.

Kontras antara kutub utara dan selatan terus berlangsung menciptakan anomali cuaca dan krisis iklim. Anomali ini akan terus terjadi sesuai konsentrasi emisi hasil pembakaran bahan bakar fosil. Mengacaukan iklim dan cuaca di seluruh penjuru bumi. Mari ciptakan solusi konkret untuk atasi krisis ilim.

Redaksi Hijauku.com