Pouring liquid mercury bionerd - Wikimedia CommonsPencemaran merkuri terus menghantui negara berkembang. Logam berat tersebut bisa terakumulasi dalam otak serta ginjal, menimbulkan masalah kesehatan dan dalam jangka panjang, menyebabkan gangguan syaraf.

Pencemaran merkuri kebanyakan berasal dari limbah industri dan pertambangan, terutama tambang emas skala kecil.

Tim peneliti dari University of Burgos, Spanyol, baru-baru ini berhasil mengembangkan sistem deteksi pencemaran merkuri dalam air dengan cara yang mudah, murah dan cepat, menggunakan telepon seluler. Hal ini terungkap dalam siaran pers University of Burgos yang dirilis Rabu (6/2) di situs Eureka Alert.

Mereka mengembangkan membran (lapisan tipis) yang akan berubah warna jika air tercemar oleh merkuri. Perubahan warna ini bisa dilihat dengan mata telanjang. Namun untuk menghitung pencemaran logam beracun ini secara lebih teliti, kita perlu memotret membran ini menggunakan kamera digital atau ponsel.

Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam jurnal Analytical Methods. Menurut José Miguel García, salah satu ilmuwan yang terlibat dalam penelitian ini, jika membran yang dimasukkan dalam air berubah warna menjadi merah, hal itu berarti air yang diteliti telah tercemar merkuri.

Konsentrasi logam berbahaya ini bisa diteliti lebih lanjut jika kita memotretnya dengan menggunakan kamera digital atau kamera yang ada di ponsel dan komputer tablet.

Yang diperlukan hanyalah peranti lunak (software) yaitu program pengolah gambar GIMP yang bisa diunduh secara gratis untuk mengetahui koordinat warnanya. Hasil pemotretan ini kemudian dibandingkan dengan standar warna yang ada.

Membran atau lapisan tipis ini mengandung bahan organik bernama rhodamine yang bisa memancarkan cahaya. Bahan inilah yang berfungsi sebagai sensor merkuri.

Menurut tim peneliti, rhodamine tidak larut dalam air, namun bisa diikat dalam struktur polimer dengan menggunakan reaksi kimia, sehingga saat dimasukkan dalam air, rhodamine akan larut dan molekul yang menjadi sensornya akan berinteraksi dengan merkuri.

Para peneliti telah mengalibrasi warna membran ini sesuai dengan batas maksimal pencemaran merkuri dalam air yang ditetapkan oleh lembaga perlindungan lingkungan Amerika Serikat, Environmental Protection Agency (EPA) yaitu 2 ppb (parts per billion). Yang lebih menggembirakan lagi, tim peneliti juga berhasil mengembangkan metode yang sama untuk mendeteksi elemen lain seperti besi dan sianida.

Penelitian terbaru dari Program Lingkungan PBB (UNEP) menunjukkan, pencemaran merkuri banyak terjadi akibat konsumsi ikan yang tercemar bahan berbahaya ini.

Dalam laporan berjudul Global Mercury Assessment 2013, UNEP menyatakan pencemaran merkuri banyak terjadi di sungai dan danau di dunia. Pencemaran ini berasal dari tambang emas skala kecil dan polusi yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara yang saat ini banyak dibangun di negara berkembang.

Pencemaran merkuri di laut menurut laporan UNEP juga telah naik dua kali lipat dalam 100 tahun terakhir sementara pencemaran merkuri di laut dalam naik hingga 25%.

Sebanyak 140 negara berkumpul di Jenewa bulan lalu dan menyetujui Konvensi Minimata untuk menghentikan pencemaran merkuri. Nama konvensi diambil dari nama kota di Jepang di mana ratusan orang meninggal pada 1950 akibat racun merkuri.

Redaksi Hijauku.com