Jaringan telekomunikasi yang canggih bisa membantu dunia beralih ke ekonomi rendah karbon dan mengurangi dampak negatif perubahan iklim.

Kesimpulan ini tercantum dalam laporan berjudul “The Broadband Bridge: Linking ICT with Climate Action” yang diterbitkan oleh International Telecommunication Union (ITU) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Senin (2/4) lalu.

“Untuk mengatasi masalah perubahan iklim kita harus mengubah gaya hidup, cara kita bekerja dan bepergian, serta beralih ke pola pembangunan yang lebih adil dan berkelanjutan,” ujar Dr Hamadoun Touré, Sekretaris Jenderal ITU dalam siaran persnya.

Analisis dari IDC menunjukkan, dalam 5 tahun ke depan, jumlah piranti telekomunikasi yang terkoneksi di dunia akan mencapai 15 miliar. Menurut data ITU, saat ini, penetrasi telepon seluler dunia sudah mencapai 87% dengan jumlah pelanggan seluler mencapai 5,9 miliar.

Pertumbuhan pesat terjadi terutama di China dan India, yang mendapat 50 juta pelanggan baru pada kuartal ketiga 2011. Lalu lintas data bergerak (mobile data traffic) diperkirakan akan tumbuh sepuluh kali lipat pada 2016.

Studi berjudul “Smart 2020” menyebutkan, produksi emisi gas rumah kaca di sektor telekomunikasi diperkirakan akan naik dua kali lipat pada 2020 (dari 0,83 Gigaton emisi setara CO2 menjadi 1,4 Gigaton).

Perusahaan teknologi, informasi dan telekomunikasi perlu terus mengelola kebutuhan energi mereka seiring meningkatnya penggunaan perangkat teknologi dan komunikasi canggih, terutama di negara berkembang.

Mereka harus mengambil langkah-langkah untuk mengurangi konsumsi energi dan membangun jaringan yang lebih hemat energi. Berkat bantuan teknologi dan perangkat terbaru, saat ini, industri infokom mampu mengurangi konsumsi energi sebesar 10-20% per tahun.

Jaringan telekomunikasi bergerak kini juga semakin banyak yang menggunakan energi baru dan terbarukan seperti energi matahari, angin, serta menggunakan kabel serat optik dan pendingin yang lebih hemat energi untuk jaringan tetap (fixed networks).

Contoh sukses aksi teknologi ramah lingkungan bisa kita lihat di Swedia. Operator telekomunikasi Swedia, TeliaSonera, berhasil mengurangi jumlah perjalanan udara, perjalanan darat, bahkan kebutuhan akan ruang kantor fisik dengan bantuan teknologi infokom.

Mereka menciptakan program kerja yang fleksibel dan jarak jauh bernama “Smart Work Initiative” memanfaatkan teknologi kantor virtual (virtual office) dan fasilitas rapat (teleconference) melalui jaringan pita lebar (broadband).

Hasilnya, Smart Work Initiative berhasil mengurangi emisi CO2 ekuivalen hingga 40% per pegawai atau lebih dari 2,8 ton emisi CO2 ekuivalen per pegawai per tahun dari tahun 2001 hingga 2007.

Jika diterapkan dalam skala nasional dan global, praktik ini mampu mengurangi emisi CO2 ekuivalen antara 2-4%, jika pengurangan emisi per pegawai sebesar 20-40% mampu dicapai dalam jangka waktu 10-20 tahun.

Jaringan pita lebar juga bisa membantu negara dan petani mengantisipasi dampak perubahan iklim melalui perencanaan yang cerdas, memberikan akses data terbaru yang bisa diandalkan untuk memonitor cuaca juga untuk sistem peringatan peringatan dini.

Sistem peringatan dini ini sangat penting bagi negara-negara kepulauan kecil untuk memberikan informasi yang cepat dan tepat sebelum terjadi tsunami, topan, banjir dan bencana alam yang lain. Memanfaatkan teknologi adalah cara cerdas mengantisipasi dampak perubahan iklim.

Redaksi Hijauku.com