Konferensi Perubahan Iklim, COP17, di Durban, Afrika Selatan gagal mencapai kesepakatan baru yang mengikat untuk menggantikan Protokol Kyoto.

Jangan terlena dengan bahasa-bahasa semu. Yang dihasilkan COP17 hanyalah “komitmen” untuk “melanjutkan upaya menciptakan kesepakatan baru” guna menurunkan emisi dan menekan suhu bumi mulai tahun depan hingga tahun 2015.

Dan jika – sekali lagi jika – semua negara berhasil menciptakan kesepakatan baru sebelum 2015, kesepakatan tersebut baru akan efektif diterapkan setelah tahun 2020.

Ini adalah bencana dan kegagalan besar bagi masyarakat yang hidup di negara kepulauan kecil dan negara miskin yang selama ini menjadi korban pemanasan global dan perubahan iklim.

Kegagalan COP17 ini sekaligus menjadi keberhasilan besar bagi sejumlah negara maju yang dipimpin oleh Amerika Serikat – yang memanfaatkan konflik kepentingannya dengan China dan India sebagai tiga negara penghasil emisi terbesar di dunia – guna memblokir terciptanya kesepakatan baru yang mengikat (legally binding agreement) di Durban.

Konferensi Perubahan Iklim, COP17, di Durban ini juga gagal menerapkan cara / mekanisme pengumpulan dan penyerahan bantuan dana perubahan iklim (Green Climate Fund) yang dijanjikan oleh negara maju di COP15 di Copenhagen dua tahun silam.

Di COP15, negara-negara maju menjanjikan bantuan sebesar US$100 miliar per tahun hingga tahun 2020 guna membantu negara miskin mengurangi pemanasan global sekaligus mengatasi dampak negatif perubahan iklim.

Kegagalan ini sudah diantisipasi oleh banyak pihak. Hijauku.com juga sudah mengantisipasi kegagalan ini dengan menulis analisis yang bisa Anda baca di sini.

AS sejak awal juga tidak bersedia meratifikasi Protokol Kyoto dan menyangsikan akuntabilitas Green Climate Fund – taktik yang menurut sejumlah pengamat dilandasi oleh ketidakmampuan negara Paman Sam itu mencapai target penurunan emisi dan mewujudkan janji bantuan perubahan iklim akibat krisis ekonomi.

COP17 juga sempat dikacaukan dengan beredarnya dokumen kesepakatan palsu yang menambah ketegangan perundingan yang sudah memasuki perpanjangan waktu sejak Sabtu, 10 Desember 2011 lalu.

Durban kini benar-benar telah menjadi kuburan bagi Protokol Kyoto. Para politisi negara-negara maju yang datang ke Durban telah gagal mendengarkan aspirasi dunia. Mereka juga kalah oleh kepentingan politik dan telah tunduk di bawah lobi perusahaan-perusahaan pencemar bumi.

Redaksi Hijauku.com