Oleh: La Ode M. Aslan *
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap kesehatan masyarakat. Asap karhutla mengandung campuran kompleks berbagai polutan, terutama particulate matter (PM10 dan PM2.5), ultrafine particles, karbon monoksida (CO), nitrogen dioksida (NO₂), sulfur dioksida (SO₂), ozon, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAHs), serta sejumlah senyawa dan logam toksik. Dari berbagai komponen tersebut, PM2.5 merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat yang paling penting karena partikelnya sangat kecil sehingga dapat mencapai bagian dalam paru-paru (Cascio, 2018; WHO, 2026).
Paparan asap karhutla dapat menyebabkan iritasi mata, hidung dan tenggorokan, batuk, sakit kepala, sesak napas, mengi, serta memperburuk penyakit seperti asma dan penyakit paru kronis. Paparan yang lebih berat juga dapat meningkatkan risiko gangguan kardiovaskular dan efek kesehatan sistemik lainnya (Reid et al., 2016; Black et al., 2017; WHO, 2026). Risiko tersebut menjadi lebih besar pada kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau kardiovaskular (Adetona et al., 2016; CDC, 2024).
Karena itu, prinsip utama perlindungan dari asap karhutla adalah mengurangi paparan, memperbaiki kualitas udara di dalam ruangan, dan melindungi saluran pernapasan ketika berada di luar ruangan.
Beberapa cara melindungi diri dari bahaya asap Karhutla, yaitu:
- Kurangi aktivitas di luar ruangan
Ketika asap karhutla sedang tebal atau kualitas udara memburuk, sebaiknya kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat seperti berlari, bersepeda, atau olahraga lainnya. Aktivitas fisik meningkatkan frekuensi dan volume pernapasan sehingga jumlah udara dan polutan yang masuk ke paru-paru juga meningkat (WHO, 2026; WHO Europe, 2025).
Jika memungkinkan, masyarakat sebaiknya tetap berada di dalam bangunan dengan kualitas udara yang lebih baik sampai kondisi udara di luar membaik. Informasi mengenai kualitas udara dan peringatan kesehatan dari pemerintah atau lembaga resmi perlu diperhatikan sebagai dasar menentukan aktivitas sehari-hari (CDC, 2024; WHO Europe, 2025).
- Tutup pintu dan jendela ketika asap berada di luar
Pada saat konsentrasi asap di luar tinggi, pintu dan jendela sebaiknya ditutup untuk mengurangi masuknya PM2.5 dan polutan lainnya ke dalam rumah. Membuka jendela pada kondisi udara luar yang tercemar dapat meningkatkan konsentrasi partikulat di dalam ruangan (U.S. EPA, 2024, 2025).
Namun, kondisi di dalam rumah juga perlu diperhatikan. Jika terdapat sumber polusi udara di dalam ruangan, seperti asap rokok, pembakaran atau kegiatan memasak yang menghasilkan banyak asap, kualitas udara tetap dapat menjadi buruk meskipun jendela tertutup.
- Buat “ruang udara bersih” di dalam rumah
Jika paparan asap berlangsung lama, salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah menyediakan satu ruangan yang relatif terlindung dari asap sebagai clean-air room atau ruang udara bersih. Ruangan tersebut sebaiknya memiliki pintu dan jendela yang dapat ditutup dengan baik dan digunakan sebagai tempat berkumpul, terutama ketika kualitas udara di luar sangat buruk (U.S. EPA, 2024, 2025).
Di dalam ruangan tersebut sebaiknya tidak dilakukan aktivitas yang menghasilkan polusi, seperti merokok, membakar dupa atau lilin, membakar bahan bakar, atau kegiatan lain yang menghasilkan asap.
- Gunakan air purifier dengan filter yang efektif
Penggunaan portable air cleaner dengan filter efisiensi tinggi, khususnya HEPA, dapat membantu mengurangi konsentrasi partikulat di dalam ruangan. Alat pembersih udara sebaiknya dipilih berdasarkan ukuran ruangan dan kapasitas pembersihannya (U.S. EPA, 2024).
Untuk bangunan yang menggunakan sistem HVAC, penggunaan filter dengan efisiensi tinggi, misalnya MERV 13 atau lebih tinggi jika kompatibel dengan sistem, dapat membantu mengurangi partikulat di dalam ruangan (CDC, 2024; U.S. EPA, 2024).
Penting untuk memastikan bahwa alat pembersih udara tidak menghasilkan ozon sebagai produk samping, karena ozon sendiri dapat mengiritasi saluran pernapasan (U.S. EPA, 2024).
- Gunakan masker respirator yang tepat ketika harus keluar
Apabila seseorang harus berada di luar ruangan ketika udara tercemar asap karhutla, penggunaan respirator N95 yang terpasang dengan baik dapat membantu mengurangi paparan partikulat. Masker harus menutup hidung dan mulut dengan rapat sehingga udara yang masuk terutama melewati media penyaring, bukan melalui celah di sekitar wajah (CDC, 2024; WHO Europe, 2025).
Masker kain, masker bedah, bandana, atau penutup leher pada umumnya tidak memberikan perlindungan yang memadai terhadap partikulat halus dari asap karhutla (CDC, 2024).
Namun, perlu dipahami bahwa respirator partikulat tidak dirancang untuk menghilangkan seluruh jenis gas atau senyawa kimia yang terdapat dalam asap. Oleh karena itu, strategi utama tetap mengurangi atau menghindari paparan, bukan hanya mengandalkan masker.
- Kurangi sumber polusi di dalam rumah
Pada saat terjadi kabut asap, masyarakat perlu menghindari aktivitas yang menghasilkan partikulat tambahan di dalam rumah. Merokok, membakar dupa dan lilin, membakar sampah, menggunakan peralatan pembakaran, serta kegiatan memasak yang menghasilkan banyak asap dapat meningkatkan konsentrasi PM2.5 di dalam ruangan (U.S. EPA, 2024, 2025; CDC, 2024).
Jika harus memasak, gunakan ventilasi yang tidak memasukkan kembali udara tercemar ke dalam ruangan dan hindari metode memasak yang menghasilkan asap berlebihan.
- Saat berada di kendaraan, tutup jendela dan gunakan mode resirkulasi
Kendaraan juga dapat menjadi tempat perlindungan sementara dari asap jika digunakan dengan benar. Ketika melewati daerah yang dipenuhi asap, jendela kendaraan sebaiknya ditutup dan sistem pendingin udara diatur pada mode recirculation sehingga udara dari luar tidak terus-menerus masuk ke kabin (WHO Europe, 2025; CDC, 2024).
Jika kualitas udara di luar sangat buruk, perjalanan yang tidak diperlukan sebaiknya ditunda.
- Perhatikan gejala akibat paparan asap
Paparan asap karhutla dapat menimbulkan berbagai gejala, mulai dari iritasi ringan hingga gangguan pernapasan yang serius. Gejala yang perlu diperhatikan antara lain mata terasa perih atau berair; iritasi hidung dan tenggorokan; batuk; sakit kepala; sesak napas; nyeri atau rasa tertekan di dada; kelelahan atau pusing; dan memburuknya gejala asma atau penyakit paru yang sudah ada.
Jika gejala semakin berat, terutama sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, atau kondisi kesehatan yang memburuk, segera mencari pertolongan medis. Orang dengan penyakit pernapasan atau kardiovaskular sebaiknya lebih cepat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan apabila mengalami peningkatan gejala (Reid et al., 2016; WHO, 2026).
- Kelompok rentan perlu mendapatkan perlindungan lebih
Tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta orang dengan asma, penyakit paru kronis, atau penyakit kardiovaskular perlu memberikan perhatian lebih terhadap kualitas udara selama episode karhutla (Adetona et al., 2016; CDC, 2024; WHO, 2026).
Pada kelompok tersebut, aktivitas di luar ruangan sebaiknya lebih dibatasi ketika konsentrasi asap tinggi. Obat-obatan rutin untuk penyakit yang telah didiagnosis juga perlu tersedia sesuai anjuran tenaga kesehatan.
- Pekerja luar ruangan menghadapi risiko yang lebih tinggi
Petani, pekerja perkebunan, pemadam kebakaran, pekerja konstruksi, nelayan, dan kelompok lain yang harus bekerja di luar ruangan dapat mengalami paparan asap dalam waktu yang lebih lama. Untuk kelompok ini, pengendalian paparan sebaiknya dilakukan melalui pendekatan berlapis: mengurangi waktu bekerja di area berasap, memindahkan pekerjaan ke lokasi dengan kualitas udara lebih baik jika memungkinkan, menyediakan tempat istirahat dengan udara lebih bersih, serta menggunakan respirator yang sesuai (NIOSH/CDC, 2024).
Dengan demikian, penggunaan masker atau respirator sebaiknya tidak dipandang sebagai satu-satunya solusi. Pengurangan durasi dan intensitas paparan tetap merupakan langkah utama.
- Siapkan perlengkapan sebelum karhutla memburuk
Perlindungan akan lebih efektif apabila dipersiapkan sebelum kondisi menjadi kritis. Rumah tangga dapat menyiapkan masker N95, obat-obatan yang biasa digunakan, air minum, makanan, air purifier jika tersedia, serta rencana evakuasi apabila pemerintah mengeluarkan perintah evakuasi (U.S. EPA, 2024; WHO Europe, 2025).
Jika rumah tidak mampu memberikan perlindungan yang cukup terhadap asap, masyarakat dapat mempertimbangkan untuk sementara berada di bangunan atau lokasi yang memiliki kualitas udara lebih baik. Apabila terdapat perintah evakuasi dari pemerintah, ikuti instruksi tersebut dan jangan menunda evakuasi.
Kesimpulan
Perlindungan paling efektif dapat diringkas dalam tiga prinsip: kurangi paparan, bersihkan udara, dan lindungi pernapasan. Mengurangi aktivitas di luar ruangan, menutup pintu dan jendela, menggunakan ruang udara bersih dan air purifier, menghindari sumber polusi di dalam rumah, serta menggunakan respirator N95 ketika harus berada di luar merupakan langkah-langkah penting untuk mengurangi risiko kesehatan akibat asap karhutla (CDC, 2024; U.S. EPA, 2024; WHO Europe, 2025).
Pada akhirnya, perlindungan dari asap karhutla bukan hanya tanggung jawab individu. Pengendalian dan pencegahan karhutla, sistem peringatan dini, pemantauan kualitas udara, penyediaan ruang publik dengan udara bersih, perlindungan pekerja, dan respons kesehatan masyarakat merupakan bagian penting dari strategi perlindungan kesehatan secara menyeluruh.
Tentu dan tidak kalahh penting adalah perlunya mengingat selalu sang Pencipta dan sang penguaa Allah subhanahu wa ta’ala untuk senaniasa berdoa dan memohon perlindungan sempurna agar diajuhkan dari segala cobaan dan musibah terkhusus slamat dari bencana asap karhutla. Aamiin. Semoga.
–##–
* Prof. La Ode M. Aslan adalah Guru besar Universitas Halu Oleo di Kendari, Sulawesi Tenggara.
Daftar Pustaka
Adetona, O., Reinhardt, T. E., Domitrovich, J., Broyles, G., Adetona, A. M., Klein, M. G., Ottmar, R. D., & Naeher, L. P. (2016). Review of the health effects of wildland fire smoke on wildland firefighters and the public. Inhalation Toxicology, 28(3), 95–139. https://doi.org/10.3109/08958378.2016.1145771
Black, C., Tesfaigzi, Y., Bassein, J. A., & Miller, L. A. (2017). Wildfire smoke exposure and human health: Significant gaps in research for a growing public health issue. Environmental Toxicology and Pharmacology, 55, 186–195. https://doi.org/10.1016/j.etap.2017.08.022
Cascio, W. E. (2018). Wildland fire smoke and human health. Science of the Total Environment, 624, 586–595. https://doi.org/10.1016/j.scitotenv.2017.12.086
Centers for Disease Control and Prevention (CDC). (2024). Wildfire smoke and your health: How to stay safe. U.S. Department of Health and Human Services.
National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). (2024). Wildfire smoke and outdoor workers. Centers for Disease Control and Prevention.
Reid, C. E., Brauer, M., Johnston, F. H., Jerrett, M., Balmes, J. R., & Elliott, C. T. (2016). Critical review of health impacts of wildfire smoke exposure. Environmental Health Perspectives, 124(9), 1334–1343. https://doi.org/10.1289/ehp.1409277
U.S. Environmental Protection Agency (U.S. EPA). (2024). Wildfire smoke and indoor air quality. U.S. Environmental Protection Agency.
U.S. Environmental Protection Agency (U.S. EPA). (2025). Strategies for protecting indoor air quality during wildfire smoke events. U.S. Environmental Protection Agency.
World Health Organization (WHO). (2021). WHO global air quality guidelines: Particulate matter (PM2.5 and PM10), ozone, nitrogen dioxide, sulfur dioxide and carbon monoxide. World Health Organization.
World Health Organization (WHO). (2026). Wildfires and health. World Health Organization.
World Health Organization Regional Office for Europe. (2025). Public health advice during wildfires: How to protect your health and keep safe. World Health Organization Regional Office for Europe.
Leave A Comment