Oleh: Jalal

Di sebuah aula serbaguna di Dearborn, kota dengan populasi Arab-Amerika terbesar di Amerika Serikat, massa meneriakkan yel yang jarang terdengar dalam politik arus utama Partai Demokrat: “Down with AIPAC!” Di panggung, seorang dokter dan pakar kesehatan masyarakat berusia 41 tahun bernama Abdul Mohamed El-Sayed berdiri di depan mikrofon, menyebut sistem politik Amerika sebagai penyakit yang membuat miliarder dan kelompok kepentingan seperti lobi Israel AIPAC bisa ‘membeli dan menjual’ para politisi.

Beberapa jam ke depan, warga Michigan bakal menuntaskan salah satu pertarungan pendahuluan paling ketat dan paling mahal dalam sejarah politik negara bagian itu—kontes yang telah menyedot lebih dari seratus juta dolar dana kampanye luar, memertaruhkan arah Partai Demokrat soal Israel, dan menempatkan seorang putra imigran Mesir dari Detroit di ambang sejarah demokrasi Amerika Serikat.

Berbagai survei akhir menjelang hari pemungutan suara menunjukkan El-Sayed unggul telak atas Anggota Kongres Haley Stevens, wakil sayap arus utama partai, dengan selisih yang di sejumlah jajak pendapat mencapai belasan poin. Jika hasil itu terkonfirmasi di bilik suara, El-Sayed akan menjadi calon Senat AS pertama keturunan Arab-Amerika dan Muslim dari Michigan yang memenangkan pendahuluan Partai Demokrat untuk kursi yang akan ditinggalkan Senator Gary Peters—sebuah simbol sekaligus ujian nyata bagi sayap progresif partai yang tengah berusaha merebut kembali panggung nasional.

Dari Ruang Kelas Epidemiologi ke Kantor Kesehatan Detroit

Kisah El-Sayed bukan kisah pendatang baru di panggung publik. Lahir di kawasan metropolitan Detroit dari ayah imigran Mesir, Mohamed, dan ibunya Fatten. Ibu sambungnya, Jackie datang dari keluarga yang telah menetap di Michigan sejak abad ke-19. El-Sayed masuk sekolah negeri di Michigan Tenggara, sempat menjadi kapten tim football, gulat, dan lacrosse di sekolah menengahnya. Ia melanjutkan studi di Universitas Michigan, lulus dengan predikat tertinggi, sebelum meraih beasiswa bergengsi Rhodes Scholarship untuk menempuh program master dan doktoral dalam kesehatan masyarakat di Oxford, dan kemudian kembali lagi untuk gelar dokter dari Universitas Columbia.

Ia memang ‘kelebihan otak’ dan sempat mengajar sebagai profesor epidemiologi di Columbia sebelum, pada usia 30 tahun, ditunjuk Wali Kota Detroit Mike Duggan sebagai Direktur Eksekutif Dinas Kesehatan Detroit. Posisi itu menjadikannya salah satu pejabat kesehatan kota besar termuda dalam sejarah Amerika. Di sanalah ia membangun kembali birokrasi kesehatan kota yang nyaris lumpuh pasca-kebangkrutan Detroit, memerluas akses kacamata gratis untuk anak-anak, menyingkirkan kontaminasi timbal di sekolah-sekolah, dan memperluas akses Narcan di tengah krisis opioid. Setelah itu ia memimpin Dinas Kesehatan, Manusia, dan Veteran di Wayne County, melayani 1,8 juta penduduk, sembari merancang program yang menghapus hingga 700 juta dolar utang medis bagi 300 ribu warga Michigan.

El-Sayed juga bukan orang baru dalam kontestasi elektoral. Pada 2018 ia pernah maju sebagai calon gubernur Michigan, kalah dalam pendahuluan dari Gretchen Whitmer. Sejak itu ia membangun reputasi sebagai komentator progresif dengan menulis buku Healing Politics dan Medicare for All: A Citizen’s Guide, serta memandu podcast popular America Dissected, sembari duduk di Satuan Tugas Persatuan Presiden Biden untuk kebijakan kesehatan pada 2020.

Alasan sekarang El-Sayed maju ke Senat, seperti sering ia sampaikan dalam kampanye, sederhana: hidup di Michigan kini terlalu sulit dan terlalu mahal, dan ia ingin membawa cara kerja pemerintahan yang menurutnya terbukti berhasil di Detroit dan Wayne County ke Washington. Platform intinya adalah Medicare for All atau jaminan kesehatan universal yang dibiayai negara, ditambah kuliah negeri gratis, reformasi peradilan pidana, dan pembatasan pengaruh korporasi dalam politik.

Ini adalah titik perbedaan paling tajam dengan Stevens, yang mengambil posisi lebih ‘moderat’ soal reformasi kesehatan dan berulang kali menonjolkan rekam jejak legislatifnya sebagai alasan mengapa dialah kandidat yang lebih siap memenangkan pemilu di negara bagian yang sangat terbelah. Perbedaan kedua, yang pada akhirnya mendominasi seluruh narasi kampanye, adalah soal Israel.

Pertarungan Melawan Uang AIPAC

Tak ada isu yang lebih mewarnai pemilihan pendahuluan ini selain intervensi finansial American Israel Public Affairs Committee, kelompok lobi pro-Israel yang berpengaruh di Washington. Menurut analisis yang dipublikasikan sejumlah media termasuk Common Dreams dan Al Jazeera, komite aksi politik AIPAC serta super-PAC afiliasinya, United Democracy Project, menggelontorkan sekitar 30 juta dolar untuk menjegal El-Sayed dalam kontes ini. Ini adalah jumlah terbesar yang pernah dikeluarkan organisasi tersebut untuk satu pertarungan pendahuluan tunggal. Ketika ditambah dengan dana dari kelompok kepentingan korporasi lain seperti perusahaan utilitas DTE Energy, total belanja untuk mengalahkan El-Sayed ditaksir mendekati 70 juta dolar, menciptakan ketimpangan belanja luar sekitar sebelas berbanding satu yang menguntungkan Stevens.

Dan El-Sayed menjadikan ketimpangan ini sebagai inti pesan kampanyenya. Dalam debat terakhir mereka, ia menuding Stevens telah menerima quid pro quo dari AIPAC setelah anggota Kongres itu memberi suara mendukung pengiriman miliaran dolar bantuan militer ke Israel. Ia berulang kali menyebut sistem yang memungkinkan “miliarder, korporasi, dan kelompok kepentingan khusus seperti AIPAC” mengatur ulang aturan main politik demi kepentingan mereka sendiri. Ini adalah sebuah kerangka yang beresonansi kuat baik dengan basis progresif nasional maupun komunitas Arab-Amerika dan Muslim Michigan yang marah atas kebijakan AS terkait genosida di Gaza.

AIPAC sendiri, walau jelas demikian, menolak disebut sebagai kelompok yang mewakili kepentingan pemerintah asing, dan Stevens balas menuduh El-Sayed menjadikan seluruh kampanye ini semata soal Israel dengan retorika yang menurutnya provokatif. Sejumlah tokoh komunitas Yahudi Michigan pun menyatakan kekhawatiran atas nada yang berkembang dalam wacana kampanye. Namun yang tak terbantahkan adalah efeknya di lapangan: sejumlah pemilih yang diwawancarai media lokal mengaku justru berbalik mendukung El-Sayed karena keberatan atas begitu besarnya dana luar yang mengalir untuk menjegalnya. Bahkan, ada grup Jews for Abdul yang menandai bahwa pemisahan Yahudi dan Zionisme memang terjadi.

Peluang di Pemilu Sela

Namun kemenangan di pendahuluan, jika benar terjadi, baru permulaan tantangan yang lebih berat. Berbagai survei umum yang membandingkan kedua calon Demokrat melawan kandidat Republik yang sudah dipastikan, mantan Anggota Kongres Mike Rogers, menunjukkan pola yang mengkhawatirkan kubu Demokrat arus utama: Stevens secara konsisten hampir sejajar atau sedikit unggul atas Rogers, sementara El-Sayed tertinggal di hampir semua survei — dalam beberapa jajak pendapat selisihnya mencapai tujuh hingga sepuluh poin, terutama karena lemahnya dukungan dari pemilih independen dan sebagian pemilih kulit hitam yang lebih moderat.

Michigan belum pernah memilih senator Republik sejak 1994, tetapi kubu Republik nyaris mengakhiri catatan itu tahun lalu ketika Rogers hanya kalah sekitar 19 ribu suara dari Senator Elissa Slotkin. Dengan dukungan penuh dari Presiden Trump, yang menyebutnya sebagai America First Patriot, Rogers berusaha kembali dengan modal nama yang sudah dikenal luas di negara bagian yang terbukti bisa berayun ke kedua arah. Pasar prediksi politik memang tetap memberi El-Sayed keunggulan probabilitas kemenangan pendahuluan yang tinggi, namun para pengamat non-partisan seperti Cook Political Report tetap mengategorikan pertarungan umum Michigan sebagai ‘toss-up’ murni, dan sejumlah jajak pendapat menunjukkan jalan El-Sayed menuju November akan jauh lebih terjal dibanding jika Stevens yang maju.

Warisan yang Sudah Ditulis, Apa Pun Hasilnya

Beberapa jam lagi, angka-angka penghitungan suara di Michigan akan menentukan siapa yang berhak menyandang nominasi Partai Demokrat. Tetapi terlepas dari siapa pun yang akhirnya melaju ke November, kampanye Abdul El-Sayed telah meninggalkan jejak yang lebih dalam dari sekadar hasil satu pemilihan pendahuluan. Bagi ribuan pemilih muda yang untuk pertama kalinya melihat seorang kandidat berani berdiri melawan gelontoran uang puluhan juta dolar dari kelompok kepentingan dan korporasi, kampanye ini telah menjadi bukti hidup bahwa demokrasi masih bisa diperjuangkan, bukan sekadar dibeli. Ini adalah sebuah pelajaran yang, apa pun yang hasilnya dihitung dari kotak suara nanti, akan terus menyalakan semangat generasi baru untuk menolak tunduk pada kepentingan asing dan kekuatan korporasi yang berusaha mengambil alih suara rakyat.

–##–

Jakarta, 5 Agustus 2026 07:30