Membaca Argumentasi Ekonomi untuk Degrowth di Hadapan Earth Overshoot Day

Oleh: Jalal

Pada tanggal 30 Juli 2026, menurut kalkulasi Global Footprint Network yang diumumkan setiap 5 Juni bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, umat manusia akan menghabiskan seluruh anggaran ekologis yang disediakan Bumi untuk sepanjang tahun ini. Kita meminjam paksa jatah anak-cucu lima bulan sebelum tahun itu sendiri berakhir. Tanggal itu, yang disebut Earth Overshoot Day, menyimpan kenyataan yang kejam: tanggalnya memang mundur enam hari dibanding 2025, tetapi bukan lantaran manusia mengerem konsumsinya. Pergeseran itu sebagian besar berasal dari koreksi data soal kemampuan laut menyerap karbon, sementara jejak ekologis riil kita justru terus membesar. Tahun ini tercatat sebagai level overshoot tertinggi yang pernah diukur: manusia memakai sumberdaya alam 73 persen lebih banyak atau lebih cepat daripada kemampuan Bumi memulihkannya, atau setara dengan ‘anggapan’ kita punya 1,73 Bumi.

Di titik itulah Slow Down or Die: The Economics of Degrowth karya ekonom Prancis Timothée Parrique terasa benar-benar saya baca tepat pada waktunya. Aslinya terbit di Prancis pada 2022, dan baru muncul dalam bahasa Inggris tahun lalu lewat terjemah bagus oleh Claire Benoit, lalu baru saya peroleh minggu lalu dan langsung saya habiskan saking menariknya. Parrique meraih gelar doktor dari Universitas Clermont Auvergne dan Stockholm dengan disertasi tentang ekonomi politik degrowth, kini meneliti gagasan pasca-pertumbuhan di Swiss. Buku setebal 272 halaman ini telah terjual lebih dari 40 ribu eksemplar di Prancis dan telah diterjemahkan ke delapan bahasa.  Ini adalah pencapaian tak biasa untuk risalah ekonomi yang menolak premis yang banyak orang sangka ‘paling sakral’ dari disiplin ilmu ekonomi: bahwa pertumbuhan produk domestik bruto adalah jalan menuju kemajuan.

Kritik atas PDB dan Mitos Green Growth

Argumen inti Parrique sesungguhnya sederhana, yaitu bahwa PDB mengukur volume transaksi ekonomi, bukan kesejahteraan manusia atau kesehatan ekosistem. Pertumbuhan yang tak pernah usai—yang oleh sebagian ekonom dianggap sebagai ‘hukum alam’ Kapitalisme—justru berkorelasi erat dengan penipisan sumberdaya, kerusakan iklim, dan pelebaran ketimpangan.

Secara struktur, buku ini dibelah menjadi dua bagian yang seimbang, masing-masing empat bab: separuh pertama membedah mengapa pertumbuhan tak bisa berlanjut selamanya, separuh kedua menawarkan apa yang bisa menggantikannya. Di bagian pertama, Parrique menelusuri sejarah intelektual gagasan degrowth sejak lahir di Prancis sebagai décroissance, lalu masuk ke jantung argumennya: pembongkaran mitos green decoupling. Ia menunjukkan bahwa penurunan Energy Return on Investment—rasio energi yang dihasilkan dibanding energi yang dikeluarkan untuk mengekstraknya—terus menurun karena sumberdaya yang mudah diambil sudah lebih dulu habis; bahwa Paradoks Jevons membuat efisiensi energi justru sering mendorong konsumsi total naik, bukan turun, karena motif pencarian laba menyerap penghematan itu; dan bahwa daur ulang punya batas fisika yang tak bisa dilampaui berapa pun insentif diberikan.

Data planetary boundaries yang ia rujuk pun tak menggembirakan: tingkat pelampauan median terhadap sembilan batas planet dilaporkan naik dari 75% pada 2000 menjadi 96% pada 2022.  Ini jelas adalah bukti bahwa krisis ekologis sedang memburuk, bukan membaik, di tengah dekade-dekade retorika pertumbuhan hijau. Barulah pada bagian kedua Parrique berpindah dari diagnosis ke resep: sebuah ekonomi pasca-pertumbuhan yang mengukur kemajuan bukan dari PDB, melainkan dari sejauh mana kebutuhan dasar terpenuhi secara adil dan kolektif, lewat pengambilan keputusan yang lebih demokratis ketimbang diserahkan pada logika pasar semata.

Bagi saya, yang membuat buku ini berbeda dari sekadar kumpulan keluhan tentang keserakahan korporasi, yang banyak saya baca setidaknya satu dekade terakhir, adalah kesabarannya membedah mitos green growth, atau gagasan memisahkan pertumbuhan ekonomi dari dampak lingkungan, bisa terjadi cukup cepat dan cukup luas untuk menyelamatkan planet ini tanpa mengubah struktur dasar ekonomi. Oleh karena kesabaran ini, Publishers Weekly menyebut buku ini sebagai tantangan yang elegan dan mendesak terhadap status quo, sementara Financial Times mengakui bahwa di antara para penentang pertumbuhan, Parrique termasuk yang paling jernih memaparkan argumennya. Dan, berbeda dari kebanyakan pendukung degrowth, ia juga berani menggambarkan seperti apa arsitektur ekonomi dan demokrasi baru yang ia bayangkan.

Konteks dan Perdebatan

Penting untuk diingat bahwa buku ini juga lahir di tengah medan pertempuran intelektual yang jauh dari selesai. Gerakan degrowth sendiri berakar dari Prancis akhir 2000-an yang secara provokatif untuk menantang konsensus pascaperang bahwa pertumbuhan tak terbatas adalah kebaikan tak terbantahkan. Kritik terhadap green growth memang punya dasar empiris: sejak 1990, hampir separuh emisi karbon historis telah dilepaskan ke atmosfer, dan inovasi teknologi maupun kebijakan insentif belum berhasil membalikkan tren itu secara meyakinkan. Tetapi para pengkritik degrowth, seperti Branko Milanovic atau Daniel Driscoll, membalas dengan argumen bahwa memerlambat ekonomi negara-negara kaya tidak akan banyak membantu ketika sebagian besar emisi hari ini justru berasal dari negara berkembang yang pertumbuhannya belum mentok.

 

Ada pula suara dari Selatan global, misalnya ekonom Beatriz Rodríguez-Labajos, yang mengingatkan bahwa bahasa degrowth, betapapun niatnya baik, tetap lahir dari kosakata Barat, dan mengimpor gagasan itu mentah-mentah ke negara yang belum pernah menikmati kemakmuran bisa terdengar seperti bentuk kolonialisme baru dengan wajah hijau. Riset terbaru dari London School of Economics bahkan mengusulkan agar pertentangan biner antara green growth dan degrowth ditinggalkan, karena keduanya malah sering menyembunyikan lebih banyak pilihan kebijakan konkret yang bisa diambil.

Ditempatkan di antara buku yang ditulis para sejawatnya yang terbit dalam lima tahun terakhir, Slow Down or Die punya watak yang cukup khas. The Future is Degrowth karya Matthias Schmelzer, Aaron Vansintjan, dan Andrea Vetter lebih menyerupai risalah sejarah-politik dengan menelusuri bagaimana ideologi pertumbuhan lahir bersamaan dengan kolonialisme dan industrialisasi berbasis fosil, lalu menawarkan ‘now-topia’ dan gerakan tandingan sebagai jalan keluar. Parrique agaknya jauh lebih ekonomis dalam pengertian harfiah: ia menulis sebagai seorang ekonom yang membongkar ekonom lain, memakai angka EROI, kurva Kuznets lingkungan, dan data planetary boundaries sebagai senjata utama, bukan narasi sejarah kolonial sebagai fondasi argumen. Hasilnya, buku Parrique terasa lebih mudah dicerna oleh pembaca yang skeptis terhadap degrowth sejak awal, sementara buku Schmelzer dkk. lebih memikat bagi pembaca yang sudah berangkat dari kerangka kritik atas Kapitalisme.

Buku lainnya adalah Slow Down: The Degrowth Manifesto karya filsuf Jepang Kohei Saito. Buku aslinya terbit di Jepang pada 2020 dan terjual lebih dari setengah juta eksemplar di sana sebelum versi bahasa Inggrisnya terbit awal 2024. Saito menempuh jalan yang jauh lebih radikal: ia menggali kembali naskah-naskah akhir Marx tentang ekologi untuk mengajukan ‘degrowth communism’ sebagai kesimpulan logis dari kritik terhadap kapital, sebuah posisi ideologis yang sengaja dihindari Parrique. Kedua buku memang sama-sama menolak PDB sebagai kompas kemajuan, tetapi Parrique memilih tetap berdiri di atas panggung debat ekonomi arus utama—berdebat dengan bahasa data dan model yang dikenali para pembuat kebijakan—ketimbang mengajak pembaca menyeberang ke projek revolusioner Saito. Pilihan ini membuat buku Parrique kurang menggigit secara ideologis dibanding manifesto Saito, tetapi mungkin justru karena itulah argumennya lebih mungkin didengar oleh bank sentral, kementerian keuangan, dan lembaga pembangunan yang menjadi sasaran kritiknya.

Perdebatan inilah yang membuat buku Parrique layak dibaca secara kritis, bukan diterima sebagai kitab suci. Parrique sangat unggul dalam membongkar kekosongan retoris green growth, tetapi seperti banyak karya degrowth lain, ia lebih meyakinkan saat mendiagnosis penyakit ketimbang saat meresepkan obat yang bisa diterima secara politik oleh miliaran orang yang belum pernah mencicipi kemewahan yang ingin dikurangi oleh degrowth.

Membaca Parrique dari Indonesia

Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target pertumbuhan ekonomi 8% sebagai jangkar kebijakan, jauh di atas rerata realisasi lima tahun terakhir yang bertahan di kisaran 5%. Sepanjang tahun ini pun projeksi resmi terus direvisi turun, dari optimisme 8% menjadi kisaran 5,5- 5,7% versi Kementerian Keuangan. Sementara strategi andalan seperti perluasan ekspor komoditas nonmigas dan efisiensi BUMN masih bertumpu pada logika ekstraksi lama: batubara, nikel, sawit, deforestasi. Pada saat yang sama, Indonesia mengklaim akan mencapai net-zero emission pada 2060, sebuah janji yang telah berulang kali dinilai ‘sangat tidak memadai’ oleh Climate Action Tracker dan diragukan sejumlah lembaga independen karena kebijakan riil di lapangan justru memerkuat, bukan mengurangi, ketergantungan pada energi fosil.

Inilah kontradiksi yang oleh Parrique akan disebut sebagai bentuk pikiran ‘magis’ kebijakan iklim: mengejar angka pertumbuhan yang menuntut lebih banyak energi, lebih banyak bahan baku, lebih banyak lahan, sembari berjanji bahwa emisi akan turun ke nol bersih pada saat yang sama, tanpa pernah menjelaskan secara kredibel bagaimana kedua kurva itu bisa berpotongan. Target NZE 2060 Indonesia bukan hanya lebih lambat satu dekade dari komitmen banyak negara industri; tapi ia juga dirumuskan dengan asumsi pertumbuhan ekonomi yang tinggi sebagai variabel tetap yang tak boleh diganggu gugat. Ini persis berkebalikan dengan cara sains iklim bekerja, yang menuntut anggaran karbon sebagai batas keras, bukan sebagai residu yang menyesuaikan diri dengan ambisi PDB.

Pesan yang bisa dipetik Indonesia dari buku ini agaknya bukan seruan literal untuk berhenti tumbuh.  Kita tahu ini sulit dijual di negara dengan angka kemiskinan yang tinggi. Pesannya yang lebih tajam adalah bahwa angka pertumbuhan yang dikejar tanpa memertanyakan komposisi dan arahnya—apakah ia memerbaiki rasio gini atau malah memerlebarnya, membangun energi terbarukan atau memerpanjang umur PLTU, membangun pertanian regeneratif di lahan kritis atau terus membuka hutan—adalah angka yang kosong secara ekologis.

Buku ini mengajak pembuat kebijakan Indonesia untuk berhenti memerlakukan pertumbuhan 8% dan net-zero 2060 sebagai dua janji yang bisa dipenuhi secara paralel tanpa gesekan, dan mulai bertanya lebih jujur: pertumbuhan macam apa yang sebenarnya sanggup ditanggung oleh anggaran karbon dan biokapasitas negeri ini, dan siapa yang akan membayar bila jawabannya, seperti yang ditunjukkan Parrique dengan telak, adalah bahwa keduanya tak bisa berjalan beriringan selamanya.

Kekuatan sejati buku ini, bagi saya, bukan pada resep degrowth-nya yang agaknya masih diperdebatkan sengit oleh para ekonom, melainkan pada keberaniannya memaksa pembaca—termasuk pembaca di negeri ini—untuk berhenti sejenak, tepat ketika Bumi mengumumkan bahwa anggarannya untuk tahun ini sebenarnya telah habis, dan membuat bertanya apakah kita semua sedang membangun masa depan atau malah memercepat datangnya kiamat.

–##–