Oleh: Jalal
Di kepala, atau setidaknya di mulut, Elon Musk ada satu jenis kepastian yang jelas hanya bisa dimiliki orang-orang paling kaya di dunia: kepastian bahwa realitas akan menyesuaikan diri dengan ucapan-ucapan mereka, bukan sebaliknya. Pada 9 Juli lalu, dari akun yang ia beli seharga 44 miliar dolar agar ia bisa pergunakan sebagai alat manipulasi seenaknya, Musk menulis kalimat yang layak dipahat di gerbang neraka kapitalisme platform: SpaceX, katanya, bakal bernilai lebih tinggi daripada seluruh isi Bumi—jika saja “tujuan-tujuan kami” tercapai. Tiga setengah juta orang membacanya. Dan saya merasa masih kelewat sedikit orang yang tertawa sekeras yang seharusnya.
Saya mau mengajak kita semua bersikap adil pada angka sebelum bersikap kejam pada orang yang sangat mungkin di bawah pengaruh ketamin dosis tinggi ketika menulis kicauan itu. Berapa sebenarnya nilai Bumi? Ekonom ortodoks akan menjawab dengan produk domestik bruto dunia, yang menurut estimasi IMF berkisar di angka sekitar 117 triliun dolar pada 2025, naik sekitar 6 triliun dolar dari tahun sebelumnya, dengan sejumlah lembaga lain menaksirnya mendekati 123,6 triliun dolar. Penting untuk diingat bahwa Musk di bulan lalu sempat mencapai status triliuner pertama di dunia, walau segera kehilangan status itu.
Tapi PDB hanya menghitung apa yang diperjualbelikan manusia satu sama lain. Ia buta terhadap jasa hutan yang menyerap karbon, terumbu karang yang menahan gelombang, dan lebah yang menyerbuki bunga, lantaran mereka semua tanpa pernah mengirim faktur tagihan. Untuk itu ada garis keilmuan lain: Robert Costanza dan para koleganya, dalam makalah klasik di jurnal Nature tahun 1997, pertama kali mencoba menghargakan jasa ekosistem global dan mendapati kisaran 16 hingga 54 triliun dolar per tahun, dengan rerata 33 triliun dolar yang melampaui PDB dunia kala itu. Ketika mereka memerbarui perhitungan itu pada 2014 dengan data 2011, angkanya melonjak jadi 125 triliun dolar per tahun jika memperhitungkan perubahan tutupan lahan, atau 145 triliun dolar jika hanya nilai satuan yang diperbarui. Nilai manapun yang dipilih, Bumi mengungguli seluruh kerja manusia dalam urusan ekonomi.
Kini, jumlahkan jasa lingkungan Bumi itu dengan PDB dunia, dan kita bicara tentang sesuatu di kisaran seperempat kuadriliun dolar setahun—karena kita memasukkan dengan sadar nilai udara yang kita hirup gratis, air bersih yang mengalir tanpa tagihan, tanah yang menumbuhkan pangan tanpa pernah dimintai izin. Itulah “seluruh isi Bumi” yang menurut Musk akan dilampaui oleh perusahaan roketnya.
Sekarang mari bandingkan dengan kenyataan SpaceX yang sebenarnya, bukan yang ada di kepala pendirinya. Perusahaan itu resmi melantai di bursa pada 12 Juni 2026, dengan harga penawaran 135 dolar per saham (plus 10 persen premium) dan valuasi 1,75 triliun dolar—IPO terbesar sepanjang sejarah pasar modal. Euforia berlangsung singkat: sahamnya sempat mencapai puncak penutupan 211,39 dolar pada 16 Juni, bahkan secara intraday menyentuh 225,64 dolar, level tertinggi yang tercatat hingga sekarang. Setelah itu grafiknya berubah jadi kisah yang jauh lebih ‘membumi’. Pada 24 Juli, saham SpaceX diperdagangkan di 114,25 dolar, dengan kapitalisasi pasar yang telah jauh menyusut. Nyaris separuh dari nilai puncaknya lenyap dalam waktu kurang dari enam minggu, dan para pakar valuasi paling terkemuka di dunia, termasuk Aswath Damodaran dari NYU, menilai bahwa valuasi SpaceX keterlaluan penggelembungannya.
Sebelum penurunan ini, perusahaan itu masih mencatat kerugian bersih sekitar 1,9 miliar dolar sepanjang 2025 akibat investasi besar-besaran ke Starship dan infrastruktur xAI. Jadi begini kenyataannya: satu perusahaan yang belum juga mencetak laba secara konsolidasi, dengan saham yang baru dua bulan tercatat dan sudah kehilangan hampir separuh nilainya, diklaim pendirinya akan segera mengungguli seluruh sistem produksi dan penopang kehidupan di planet ini. Ironi macam ini biasanya hanya ditemukan di ruang redaksi majalah atau kolom satire, bukan di kicauan untuk memengaruhi valuasi saham.
Tapi barangkali yang lebih memberi konteks bukan angka-angka pasar itu, melainkan rekam jejak sang pengicau. Musk bukanlah orang baru dalam urusan menjanjikan masa depan yang tak kunjung tiba. Pada 2019 ia memerkenalkan Cybertruck dan berjanji truk itu akan tahan peluru dan menguasai pasar pikap sebelum 2021; kenyataannya truk itu baru meluncur 2023 dengan kaca yang pecah saat demonstrasi peluncurannya sendiri. Targetnya sangat ambisius: penjualan tahunan sebesar 250 ribu unit. Realitasnya, sepanjang 2025 penjualannya hanya sekitar 20.237 unit, atau sekitar delapan persen dari target itu, dan pada kuartal pertama 2026 kembali anjlok, dengan hanya 7.133 unit terjual hingga Mei—sebagian bahkan diketahui sebagai hasil pembelian internal oleh perusahaan-perusahaan Musk sendiri untuk memercantik angka buruk rupa itu.
Soal Mars, klaimnya lebih megah lagi. Pada 2016 ia menjanjikan misi berawak pertama ke Mars pada 2024, yang akan ‘segera’ membuka jalan bagi kolonisasi penuh. Kini 2026 sudah lewat paruh pertama, dan tak seorang pun manusia berada dalam jarak sejuta kilometer dari Planet Merah. Begitu juga soal Robotaksi Cybercab yang dijanjikan meluncur murah di 2026. Menurut kata-kata Musk sendiri, bakal diproduksi dengan kecepatan yang ‘menyiksa’ pada tahap awal. Yang terbukti menyiksa adalah sejumlah kecelakaan yang ditimbulkan taksi tanpa pengemudi itu dalam uji cobanya, termasuk yang menimbulkan korban jiwa. Bahkan janji politiknya soal memangkas 2 triliun dolar pemborosan anggaran federal lewat DOGE menyusut jadi hanya sekitar dua ratus miliar dolar begitu berhadapan dengan birokrasi sungguhan. Itupun dicapai dengan pemecatan dan pembubaran banyak lembaga, termasuk USAID, yang sesungguhnya menjalankan banyak fungsi yang akhirnya hilang. Jadi, yang muncul dari Musk bukan sekali dua kali, melainkan sebuah pola. Inilah metode bisnis Musk: menjanjikan yang mustahil untuk menggerakkan modal raksasa hari ini, lalu diam-diam merevisi definisi keberhasilan begitu tenggat lewat.
Dari sinilah kegelisahan yang lebih serius harus dimulai. Bukan sekadar bahwa Musk suka melebih-lebihkan—hampir semua pengusaha terkenal melakukannya dalam kadar tertentu yang mungkin hanya lantaran optimisme—melainkan bahwa di balik hiperbola itu tersembunyi sebuah filosofi yang, jika diambil serius, berbahaya: gagasan bahwa umat manusia sebaiknya berinvestasi pada jalan keluar dari Bumi ketimbang memerbaiki kerusakan yang kita timbulkan pada Bumi itu sendiri.
Narasi ‘spesies multi-planet’ yang didengungkan Musk terus-menerus terdengar futuristik bahkan heroik, tapi ia diam-diam menormalisasi pengibaran bendera putih atas luka-luka yang kita timbulkan terhadap satu-satunya planet yang kita tinggali ini. Ia mengatakan pada kita bahwa krisis iklim, kerusakan ekosistem senilai—menurut Costanza dan rekan-rekannya—puluhan triliun dolar per tahun, dan ketimpangan sosial dan ekonomi yang menyertainya, adalah persoalan yang boleh ditinggalkan begitu roket cukup canggih untuk menerbangkan kita entah ke mana. Padahal tak ada satu pun teknologi terraforming yang telah terbukti berhasil, sementara ekosistem Bumi, betapapun rusaknya, masih menyediakan udara yang bisa kita hirup tanpa helm dengan penyaring dan tanah yang bisa ditanami tanpa kubah kaca. Memerbaiki sesuatu yang sudah berfungsi—meski kini penuh luka—selalu lebih murah, lebih cepat, lebih mungkin berhasil dan lebih adil ketimbang membangun peradaban cadangan untuk segelintir orang yang mampu membeli tiket ke sana. Bagi saya, setiap dolar yang dialihkan dari restorasi mangrove, transisi energi, atau perlindungan keanekaragaman hayati menuju taruhan kolonisasi Mars adalah dolar yang meninggalkan miliaran orang yang tak pernah bakal punya opsi untuk pindah planet, seandainya itu bakal terjadi. Bila akhirnya tidak terjadi, itu semua adalah kemubaziran dan kepandiran dalam skala yang tak terbayangkan.
Itulah sebabnya pernyataan bombastis Musk tak boleh hanya ditertawakan lalu dilupakan. Ia bukanlah lelucon di bawah halusinasi hasil konsumsi ketamin yang tanpa akibat serius; ia adalah argumen investasi, argumen kebijakan, bahkan argumen moral yang sedang “digoreng” dan dijual kepada publik—bahwa masa depan spesies ini lebih baik dipertaruhkan pada satu perusahaan roket yang sahamnya sendiri belum genap dua bulan sudah kehilangan setengah nilainya, ketimbang pada sistem penopang kehidupan yang telah bekerja tanpa henti selama miliaran tahun, gratis, untuk semua orang. Dan semua jasa itu berjalan tanpa perlu IPO yang digelembungkan nilainya oleh Musk dan para penangguk untung yang tak pernah memikirkan dampak perilaku mereka pada miliaran orang.
–##–
Depok, 25 Juli 2026 07:33
Leave A Comment