Melanjutkan Semangat Bandung melalui People-to-People Solidarity
Oleh: Farhan Helmy *
Selama bertahun-tahun saya berulang kali mengunjungi Museum Konferensi Asia-Afrika di Bandung. Terkadang untuk menghadiri diskusi publik, terkadang untuk berbagi dalam forum akademik, dan beberapa bulan lalu bersama hampir 150 relawan dan aktivis DILANS Indonesia melalui kegiatan #Tour4DILANS, mengajak penyandang disabilitas dan lanjut usia menikmati sejarah Konferensi Asia-Afrika dari perspektif yang lebih inklusif.
Pada salah satu kunjungan itulah saya berhenti cukup lama di depan sebuah foto hitam putih.
Foto itu memperlihatkan para delegasi Konferensi Asia-Afrika tahun 1955 yang sedang mengikuti sebuah solidarity walk di Kota Bandung.
Di antara mereka, saya mengenali sosok ayah saya.
Saya belum pernah melihat foto itu sebelumnya terpampang di Museum Asia-Afrika, selain ditumpukkan koleksi album keluarga. Hingga hari ini saya pun belum mengetahui secara pasti apa peran beliau dalam Konferensi Asia-Afrika. Namun pada saat itu, sejarah tiba-tiba terasa begitu dekat dan sangat pribadi.
Semangat Bandung bukan lagi sekadar kisah dalam buku sejarah atau kumpulan foto yang tersimpan di museum.
Ia menjadi bagian dari sejarah keluarga kami.
Mungkin karena itulah, setiap kali saya kembali ke Gedung Merdeka, saya tidak pernah merasa sedang mengunjungi sebuah museum. Saya merasa sedang melanjutkan sebuah perjalanan.
Tujuh puluh satu tahun kemudian, tepat pada 11 Juli 2026, saya kembali mengalami sebuah perjalanan yang berbeda.
Bersama enam belas relawan dan aktivis DILANS Indonesia, dengan beragam ragam kedisabilitasan dan pengalaman hidup, kami berjalan menuju lokasi Upacara Pembukaan Asia Africa Festival 2026.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanya sebuah prosesi singkat.
Namun bagi kami, langkah-langkah kecil itu memiliki makna yang jauh lebih besar. Kami tidak sekadar berjalan menuju sebuah acara, tetapi ikut merasakan bahwa kami juga menjadi bagian dari sejarah yang terus bergerak. Perjalanan itu mengingatkan saya bahwa inklusi bukan hanya soal menyediakan akses, melainkan memastikan setiap orang memiliki kesempatan untuk hadir, berpartisipasi, berkontribusi, dan diakui sebagai bagian dari perjalanan bersama.
Beberapa saat kemudian, langkah kami berpisah.
Ketika para relawan dan sahabat DILANS mengambil tempat di antara para tamu undangan, saya melanjutkan langkah menuju panggung utama untuk menyampaikan Special Address pada Upacara Pembukaan Asia Africa Festival 2026. Saya memberi judul pidato tersebut, “Connected Asia–Africa Futures: Renewing the Bandung Spirit Through People-to-People Solidarity.”
Melalui pidato itu, saya mengajak kita melihat bahwa memperbarui Semangat Bandung tidak cukup hanya dilakukan melalui hubungan antarnegara. Sudah saatnya kita memperluas makna solidaritas menjadi people-to-people solidarity, yakni memperkuat hubungan antar warga, antar komunitas, antarkota, antar universitas, antargenerasi, serta berbagai kelompok masyarakat. Gagasan besar hanya akan hidup apabila mampu membumi menjadi tindakan nyata yang melibatkan seluruh warga, bukan hanya menjadi percakapan di ruang-ruang para elite.
Saya yakin tantangan abad ke-21 jauh lebih kompleks dibandingkan tantangan yang dihadapi para pendiri Konferensi Asia-Afrika pada tahun 1955. Krisis iklim, punahnya keanekaragaman hayati, transformasi teknologi, ketimpangan sosial, penuaan penduduk, hingga meningkatnya risiko bencana saling berkaitan dan tidak lagi dapat diselesaikan oleh aktor negara semata.
Negara tetap memegang peran yang sangat penting. Namun tantangan global saat ini hanya dapat dijawab apabila pemerintah berjalan bersama masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, kaum muda, penyandang disabilitas, masyarakat adat, dan seluruh warga sebagai mitra yang setara dalam membangun masa depan bersama.
Di antara nilai-nilai Dasasila Bandung, ada satu prinsip yang selalu melekat dalam benak saya, yaitu komitmen untuk menghormati hak-hak dasar manusia serta tujuan dan asas yang termuat dalam Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Tujuh puluh satu tahun telah berlalu.
Dunia telah berubah jauh melampaui apa yang mungkin pernah dibayangkan para delegasi tahun 1955.
Namun pertanyaan mendasarnya ternyata masih sama.
Siapa yang dilibatkan?
Dan siapa yang masih tertinggal?
Hari ini terdapat lebih dari 1,5 miliar penyandang disabilitas, lanjut usia, dan kelompok rentan lainnya di seluruh dunia. Banyak di antara mereka justru menjadi kelompok yang paling terdampak oleh perubahan iklim, kemiskinan, konflik, dan berbagai bentuk eksklusi sosial.
Jika Semangat Bandung ingin tetap relevan, maka ia tidak boleh hidup hanya di ruang-ruang museum atau dalam peringatan tahunan.
Semangat itu harus hidup dalam komitmen kita untuk memastikan bahwa setiap orang memiliki kesempatan yang sama untuk ikut membangun masa depan bersama.
Itulah sebabnya tiga perjalanan ini memiliki makna yang sangat mendalam bagi saya.
Perjalanan pertama menghubungkan saya dengan generasi ayah saya.
Perjalanan kedua mengingatkan bahwa inklusi hanya bermakna ketika setiap orang benar-benar dapat ikut berpartisipasi.
Perjalanan ketiga mengingatkan bahwa setiap kesempatan untuk berbicara juga merupakan tanggung jawab untuk membawa suara mereka yang terlalu sering tidak terdengar.
Sejarah memang layak dikenang.
Namun sejarah juga selalu mengajukan sebuah pertanyaan kepada setiap generasi.
Apakah kita hanya akan mengenangnya?
Ataukah kita akan melanjutkannya?
Semangat Bandung tidak boleh berhenti sebagai foto yang tergantung di dinding museum.
Warisan sejatinya terletak pada keberanian kita untuk terus memperbaruinya, bukan hanya melalui diplomasi antarnegara, tetapi juga melalui solidaritas antar sesama; bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui tindakan; bukan hanya melalui kenangan, tetapi melalui partisipasi.
Mungkin setiap generasi memang memiliki langkahnya sendiri.
Namun tujuan perjalanan itu tetap sama: menjaga martabat manusia, memperluas ruang partisipasi, dan memastikan bahwa tidak seorang pun tertinggal.
Barangkali, itulah makna terdalam dari Semangat Bandung.
No One Left Behind.
Nothing About Us Without Us.
Bandung, 15 Juli 2026
–##–
* Farhan Helmy adalah Lead Asia-Africa Inclusive Nexus Network (AAINN), Founder DILANS Indonesia
Leave A Comment