Oleh: Mahpud Sujai *

Undang-undang Nomor 3 tahun 2022 telah mengamantkan bahwa Negara kita akan memiliki Ibu Kota baru yang terletak di Kalimantan Timur dengan nama Nusantara (IKN). IKN digadang-gadang akan menjadi kota yang modern, hijau, ramah lingkungan, hemat energi dan berteknologi tinggi. Semua infrastruktur perkotaan ditata dengan sangat baik dan modern. Salah satu infrastruktur yang sangat penting bagi sebuah tata ruang kota adalah instalasi pengolahan air limbah. Instalasi ini sangat penting untuk menjamin kebersihan dan sanitasi kota sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat.

Di Indonesia, belum ada sebuah kota pun yang memiliki pengolahan air limbah secara terpadu. Air limbah rata-rata dikelola oleh masing-masing rumah tangga dan bahkan banyak yang dibuang langsung ke sungai sehingga mencemari sungai dan menyebabkan lingkungan yang kotor. Sebagai kota yang baru akan dibentuk, dengan penataan ruang kota yang modern, sudah selayaknya diperhatikan juga sistem pengelolaan pembuangan air limbahnya sehingga terintegrasi dan dikelola secara modern dan bisa didaur ulang. Sistem pengelolaan air limbah terpadu ini tentu saja akan membuat lingkungan bersih, sehat dan memiliki nilai tambah bagi ekonomi.

Banyak kota di Negara maju sudah menerapkan manajemen air limbah secara terintegrasi dengan teknologi digital yang canggih. Selain berfungsi untuk menjaga lingkungan agar bersih dan sehat, sistem terintegrasi ini dapat menghemat penggunaan air bersih dan mencegah terjadinya banjir dan kerusakan lingkungan lainnya. Kota Osaka di Jepang merupakan salah satu Kota yang sudah menerapkan teknologi canggih dan digital dalam pengelolaan pembuangan air limbahnya. Bahkan dapat diolah kembali menjadi air bersih yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan seperti pertanian, pertamanan dan mencegah terjadinya banjir.

Kota Osaka merupakan kota terbesar di Jepang bagian barat dan kota terbesar kedua di Jepang setelah Tokyo. Osaka memiliki luas sekitar 220 km persegi dengan populasi penduduk sekitar 2,63 juta pada malam hari dan 3,6 juta pada siang hari. Terletak di muara Sungai Yodo dan Sungai Yamato, menyebabkan secara geografi Osaka sebagian besar daerahnya adalah dataran datar dan rendah serta rawan banjir. Topografi ini menyebabkan Osaka dulu menjadi kota yang rawan banjir sehingga drainase air hujan telah lama menjadi masalah yang mendesak untuk ditangani. Masalah ini pada masa lalu bahkan menyebabkan terjadinya epidemi penyakit menular yang menimbulkan risiko kesehatan masyarakat.

Kondisi tersebut menyebabkan sejak abad ke-19 pemerintah telah memfasilitasi perbaikan drainase air limbah bagi perbaikan kota. Pemerintah Kota Osaka mengadopsi sistem saluran pembuangan air limbah secara terpadu, karena dapat dibangun dengan biaya lebih rendah dan memiliki keunggulan kemudahan dalam pemasangan di daerah yang pada saat itu terdapat banyak jalan sempit. Dengan upaya berkelanjutan dalam membangun sistem saluran pembuangan air limbah terpadu, rasio saluran pembuangan di Kota Osaka telah mencapai hampir 100 persen populasi. Sistem pembuangan air limbah tersebut telah berkontribusi besar terhadap peningkatan kualitas air bagi penduduknya.

Namun, seiring dengan perkembangan kota yang semakin cepat dan maju dengan pertambahan penduduk yang cepat, sistem saluran pembuangan terpadu tersebut sudah melebihi kapasitas dan menyebabkan pencemaran lingkungan, karena tidak semua air limbah dapat diolah dan dibuang dari saluran pembuangan dan pemompaan. Oleh karena itu, pemerintah Osaka telah memperbaharui sistem pembuangan air limbahnya dengan metode CSO (combined sewer overflow). Sistem tersebut memungkinkan area dan kapasitas yang dilayani oleh Sistem Sewer Gabungan menjadi lebih besar terutama ketika datang hujan dimana gabungan aliran air limbah dan air hujan melebihi kapasitas sistem saluran pembuangan selama cuaca basah.

Peran sistem pembuangan air limbah dalam konservasi kualitas air menjadi semakin penting. Selain bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang menyenangkan dan nyaman, pengurangan beban polutan pada kondisi lingkungan pada kondisi musim hujan juga menjadi masalah yang mendesak untuk ditangani. Dalam program peningkatan sistem saluran pembuangan air limbah terpadu, Kota Osaka telah menetapkan targetnya untuk mengurangi beban polusi dan banjir air tahunan dari sistem saluran pembuangan terpadu dalam cuaca kemarau dan musim hujan ke tingkat yang sama. Sehingga kondisi air lingkungan terjaga stabil sepanjang tahun.

Program yang dilakukan adalah dengan melakukan perbaikan struktur saluran pembuangan air limbah Kota Osaka yang sebagian besar terletak di tanah aluvial lunak. Selain itu, penurunan muka tanah akibat penggunaan air tanah dalam jumlah yang berlebihan oleh industri untuk pertumbuhan industri yang pesat selama tahun 1950-an hingga 1970-an telah menyebabkan kemiringan selokan yang tidak sesuai, sehingga terjadi akumulasi sedimen di saluran selokan.

Selain itu, permasalahan lain adalah perangkap sedimen, yang telah dipasang di dasar lubang got untuk memfasilitasi pengerukan selokan, merupakan salah satu penyebab utama akumulasi sedimen selama cuaca kering. Oleh karena itu, untuk mengurangi beban polutan selama cuaca basah, perangkap sedimen diisi dan sebagai gantinya saluran pembalik dipasang di dasar semua lubang got sehingga sedimen di selokan dipindahkan ke instalasi pengolahan limbah semulus mungkin selama periode cuaca kering.

Selokan dengan kemiringan yang tidak sesuai kemudian diperbaiki atau diganti. Penyimpanan air limbah pada saat cuaca basah diperbesar. Tujuannya adalah untuk menangkap air limpahan pada fase awal kejadian hujan, yang mengandung polutan konsentrasi tinggi untuk kemudian dibawa ke instalasi pengolahan limbah untuk diolah dengan proses lumpur aktif setelah badai. Kota Osaka memanfaatkan reservoir air hujan dan saluran pembuangan besar yang dibangun untuk pengendalian banjir serta untuk penyimpanan air hujan.

Semua sistem tersebut diatur melalui sistem terintegrasi yang berteknologi tinggi dan digital. Sehingga memudahkan pengaturan penyaluran air limbah ke instalasi-instalasi pengolahan air limbah yang terintegrasi. Akibatnya adalah kondisi lingkungan air Kota Osaka tetap stabil sepanjang tahun, tidak banjir ketika cuaca basah dan tidak kekeringan ketika cuaca kering. Lingkungan pun menjadi bersih, polusi air berkurang dan persediaan air bersih terjamin. Kondisi inilah yang menyebabkan Kota menjadi maju, bersih dan nyaman untuk ditinggali oleh seluruh lapisan masyarakat. Pengelolaan air limbah terpadu ini perlu dicontoh juga oleh Negara kita yang saat ini sedang membangun ibu kota baru untuk masa depan negeri kita tercinta ini.

–##–

* Penulis adalah Analis Kebijakan Ahli Madya di Kementerian Keuangan. Tulisan adalah pendapat pribadi.