Oleh: Wahyu Eka Styawan

Kita tahu jika mayoritas energi yang dikonsumsi saat ini seperti listrik mayoritas masih dihasilkan dari energi fosil seperti batu bara ataupun gas alam, sebagai salah satu bahan bakar umum dalam produksi energi. Energi fosil saat ini merupakan salah satu penyebab perubahan iklim melalui emisi yang dihasilkan.

Berdasarkan informasi yang disajikan oleh United States Enviromental Protection Agency (EPA) menyebutkan gas efek rumah kaca dominan adalah karbondioksida yang keberadaannya disebabkan oleh energi fosil. Total karbondioksida dari energi fosil ini menyumbang sekitar 65% dari keseluruhan gas efek rumah kaca. Sementara itu salah satu penyumbang terbesar emisi gas efek rumah kaca terutama pada aktivitas ekonomi seperti dari produksi listrik sebesar 25%, lalu disusul oleh aktivitas industri sebesar 21%, pertanian dan perkebunan 24%, transportasi 14 %, bangunan 6% dan penggunaan lain sebesar 10%.

Sementara itu banyak negara telah punya target bersama melalui kesepakatan di Conference of The Parties (COP) ke 26 Glasgow, Skotlandia dengan merujuk hasil penelitian dari IPCC dan forum ilmuan sedunia, mereka telah sepakat untuk berupaya sekuat tenaga agar suhu pada permukaan bumi ini tidak melebihi 1.5 ˚C, karena kalau sampai menyentuh atau melebihi angka tersebut, krisis iklim akan semakin parah.

Kerisauan tersebut bukan tanpa sebab, karena saat ini suhu permukaan bumi semakin meningkat. Jika merujuk pada artikel UNEP dalam paragraf ke lima menyebutkan suhu temperatur bumi pada Januari dan September 2021 berada disekitar 1.08 ˚C atau kurang lebih meningkat sekitar 0.13 ˚C  di atas rata-rata masa pra-industri. Sementara itu World Meteorogical Organization (WMO) menyebutkan rata-rata suhu global telah mencapai 1.1 ˚C.

Dari semua penjabaran itu, lalu apa kaitannya perubahan iklim dengan sepakbola?

Sedikit mengulas, rata-rata stadion modern hampir mengkonsumsi listrik hingga mencapai 25.000 KWh selama 90 menit lebih, ukuran waktu dalam sebuah pertandingan. Sebagai perbandingan saja, daya yang digunakan oleh stadion dalam 90 menit pertandingan, setara dengan daya lebih dari 12 rumah yang beroperasi penuh selama satu tahun.

Lampu penerangan stadion adalah salah satu yang menggunakan banyak energi, karena regulasi dari FIFA mensyaratkan sebuah stadion harus memiliki penerangan lapangan secara merata. Jika Stadionnya luas, kira-kira berapa lampu yang dibutuhkan? Dan berapa daya yang akan dihabiskan?

Selain lampu penerangan, energi juga banyak diserap oleh papan skor, dan layar iklan. Kira-kira penggunaan teknologi tersebut turut menyumbang hampir 40% dari total penggunaan energi selama pertandingan. Energi juga banyak diserap pada fasilitas dapur dan layanan katering yang menggunakan pemanas makanan dan pendingin minuman. Rata-rata untuk pertandingan internasional seperti piala dunia, hampir sekitar 80.000 orang yang harus dilayani. Penggunaan teknologi untuk aktivitas tersebut kira-kira menyerap lebih dari 20% penggunaan energi total dalam sebuah stadion.

Selain itu, saat menyiarkan pertandingan secara langsung agar semua orang dapat menikmati indahnya sepakbola ternyata membutuhkan pemancar satelit yang kuat, kamera High Definition (HD) yang jumlahnya cukup banyak, tentu juga membutuhkan ruangan pengeditan yang dibuat khusus dengan aneka konsumsi energinya. Jika dikalkulasikan turut menghasilkan sekitar 11% dari semua penggunaan energi.

Sehingga tidak dapat dipungkiri setiap pertandingan sepakbola sekelas piala dunia membutuhkan energi yang besar. Bayangkan hampir setiap hari digelar pertandingan, dan itu terjadi selama hampir satu bulan, kira-kira berapa energi yang terkuras? Lalu berapa emisi yang akan dihasilkan? Ini cuma satu event, belum gelaran liga, piala domestik dll.

Stadion yang Telah Beralih ke Energi Terbarukan

Memang saat ini hanya sekitar 50 stadion yang telah menggunakan renewable energy dengan memanfaatkan energi matahari/solar atau bahasa kerennya solar energy. Pada perhelatan Piala Dunia Brazil tahun 2014 silam terdapat 5 dari 12 stadion yang digunakan telah menggunakan energi terbarukan, salah satunya stadion Mineirao yang terletak di Belo Horizonte, Minas Gerais yang merupakan markas dari klub top Brazil, Cruzeiro dan Altletico Miniero. Stadion tersebut kurang lebih memiliki total energi solar sebesar 1.420 kWp yang dihasilkan dari sekitar 6000 solar panel. Tapi sayangnya pada gelaran piala dunia 2018 di Rusia tidak satupun stadion yang menggunakan energi bersih.

Perlu diketahui beberapa stadion yang merupakan markas klub top Eropa juga sudah menggunakan energi terbarukan, sebagai contoh Signal Iduna Park yang merupakan homebase dari Borussia Dortmund, lalu Johan Cruijff Arena yang merupakan markas dari Ajax Amsterdam dan masih ada sekitar 13 stadion lagi. Mayoritas stadion yang menggunakan energi bersih kebanyakan tersebar di Belanda dan Jerman. Sementara di Inggris ada klub league one bernama Forest Green Rovers yang telah memulai praktik sepakbola hijau, tidak hanya penggunaan energi terbarukan, mereka pun menerapkan prinsip zero waste.

Tentu dengan konsumsi energi yang besar dalam sebuah pertandingan sepakbola, khususnya konsumsi energi dari sebuah stadion, jikalau masih menggunakan energi fosil, maka dapat disimpulkan bahwa ribuan stadion di seluruh dunia (data per Juni 2020 mencapai 5735) ini telah berkontribusi menyumbang emisi yang turut memperparah krisis iklim.

Sebagai penggemar sepakbola, jargon sepakbola bukan sekedar sebuah pertandingan harus juga menyangkut upaya untuk mendorong perubahan, salah satunya mendorong peralihan energi dari fosil yang kotor ke energi terbarukan yang bersih. Semua demi keberlanjutan bumi dan kehidupan anak manusia. Sudah saatnya sepakbola juga berubah menjadi lebih hijau ke depannya.

–##–